Gempa Banggai Dipicu Sesar Aktif

254
Warga Luwuk berhamburan di jalan dan mencari tepat lebih tinggi untuk mengungsi saat gempa bermagnitudo mengguncang Kabupaten Banggai Laut dan dirasakan kuat di Kabupaten Banggai, Jumat malam (12/4). (Foto Ant)

JAKARTA – Gempa dengan magnitudo 6,9 Skala Richter, yang terjadi di Banggai Kepulauan, Sulawesi Tengah, pada Jumat (12/4/2019) pukul 18.40 WIB, diakibat oleh aktivitas sesar aktif.

Dilihat dari episenter, dan kedalaman hiposenternya, merupakan jenis gempa dangkal. “Ada dugaan, struktur sesar yang menjadi pembangkit gempa ini adalah Sesar Peleng, yang jalurnya berarah barat daya-timur laut di Pulau Peleng dan menerus ke Teluk Tolo,” kata Kepala Bidang Informasi Gempabumi dan Peringatan Dini Tsunami BMKG, Daryono, Sabtu (13/4/2019) dinihari.

Sesar Peleng, merupakan sesar aktif yang memiliki laju sesar sebesar 1,0 milimeter per tahun, dan magnitudo maksimum yang mencapai magnitudo 6,9. Hasil analisis mekanisme sumber menunjukkan, gempa ini dibangkitkan oleh deformasi batuan dengan mekanisme pergerakan mendatar (strike slip). Dugaan ini didasarakan pada alasan, lokasi episenter terletak pada kelurusan Sesar Peleng, yang menerus ke laut.

Sumber gempa memiliki mekanisme pergerakan mendatar menganan (dextral). Hingga pukul 23.50 WIB, hasil monitoring BMKG menunjukkan, terjadinya aktivitas gempa susulan (aftershock) 43 kali, dengan kekuatan paling besar ber-magnitudo 5,6 dan terkecil ber-magnitudo 3,4.

Sebelumnya, BMKG juga mengeluarkan peringatan dini tsunami, karena berdasarkan permodelan, gempa dimutakhirkan menjadi magnitudo 6,8 tersebut berpotensi tsunami. Status ancaman waspada, dengan estimasi tinggi tsunami kurang dari 50 sentimeter (cm). Setelah dilakukan pemutakhiran magnitudo dan melakukan monitoring terhadap muka air laut melalui pengamatan tide gauge di lokasi Kendari (Sulawesi Tenggara) dan Taliabu (Maluku Utara), menunjukkan tidak ada kenaikan muka air laut yang signifikan.

Daryono menyebut, wilayah Kepulauan Banggai berada di kawasan rawan gempa dan tsunami. Secara tektonik, di wilayah tersebut terdapat beberapa sesar aktif, seperti Sesar Naik Batui, Sesar Balantak, Sesar Ambelang, dan Sesar Peleng.

Berdasarkan catatan sejarah di Kepualauan Banggai sudah beberapa kali terjadi tsunami. Wilayah itu pernah dilanda tsunami pada 13 Desember 1858. Terjangan tsunami menyebabkan banyak desa-desa di pesisir pantai Kepulauan Banggai mengalami kerusakan yang parah.

Selanjutnya pada 29 Juli 1859 wilayah Kepulauan Pulau Banggai. Gelombang tsunami saat itu, menerjang dan merusak banyak bangunan rumah yang terletak di wilayah pesisir. Terakhir adalah tsunami akibat gempa dengan magnitudo magnitudo 7,5 pada 4 Mei 2000. Gempa itu memicu tsunami yang kemudian melanda Luwuk, Banggai, dan Peleng. Tsunami Banggai itu memiliki ketinggian yang diperkirakan mencapai hingga tiga hingga enam meter di Kecamatan Totikum, Kayutanyo, dan Uwedikan.

Garis paparan gelombang tsunami mencapai sejauh 100 meter dari garis pantai. Di dermaga Totikum, air surut kurang lebih 200 meter. Kejadian gempa dan tsunami tersebut mengakibatkan korban meninggal 46 orang dan 264 orang luka-luka. (Ant)

Lihat juga...