hut

Grup Jual Beli Hewan di Facebook Tutup, Pelaku Usaha Resah

Editor: Satmoko Budi Santoso

YOGYAKARTA – Para pelaku usaha budidaya dan jual beli hewan peliharaan di Yogyakarta mengaku resah sejak beberapa hari terakhir.

Hal itu disebabkan karena adanya penutupan atau penonaktifan sejumlah grup jual beli hewan peliharaan di jejaring sosial Facebook yang selama ini menjadi tumpuan untuk mempromosikan dagangan mereka.

Sejumlah grup jual beli hewan peliharaan di jejaring sosial Facebook memang diketahui tiba-tiba ‘menghilang’ sejak beberapa hari terakhir.

Sejumlah grup jual beli itu antara lain seperti grup Komunitas Cupang Hias Indonesia, grup Komunitas Louhan Jogja, grup Komunitas Kenari Malang Raya, grup Komunitas Reptil Jogja, grup Jual Beli Lovebird Bekasi dan sekitarnya, grup Jual Beli Ikan Hias Jogja Bantul, grup Komunitas Pecinta Kura-Kura Brazil, dan masih banyak lagi.

“Iya betul memang sejak beberapa hari terakhir ini banyak teman yang mengeluh grup jual beli di Facebook tiba-tiba menghilang dan tak bisa diakses. Sepertinya dinonaktifkan atau diblokir oleh Facebook. Kita juga tidak tahu kenapa. Yang jelas tidak hanya satu grup tapi banyak,” kata salah seorang pelaku usaha jual beli ikan hias di Yogya, Muslih, Selasa (23/4/2019).

Hal yang sama juga diungkapkan pelaku usaha jual beli hewan peliharaan lainnya, Sunaryadi. Lelaki yang juga menjadi admin sebuah grup Facebook Jogja Fish Lovers itu mengaku, tidak mengetahui secara pasti penyebab penonaktifan sejumlah grup tersebut.

Salah seorang pelaku usaha jual beli hewan peliharaan asal Yogya, Sunaryadi – Foto: Jatmika H Kusmargana

Namun ia menduga hal itu disebabkan karena kebijakan baru Facebook terkait pedoman komunitas, yang melarang adanya jual beli hewan peliharaan atau segala jenis binatang.

“Bisa jadi karena adanya kebijakan pelarangan jual beli hewan. Mungkin karena dinilai terdapat unsur penyiksaan pada hewan. Atau untuk mencegah jual beli hewan langka dan dilindungi. Kita juga tidak tahu pasti,” katanya.

Penonaktifan grup jual beli hawan peliharaan yang memiliki puluhan bahkan ratusan ribu anggota itu jelas memberikan dampak bagi para konsumen maupun para pelaku usaha.

Jika semua grup jual beli hewan yang ada di Facebook dinonaktifkan, mereka pun khawatir tidak akan bisa lagi mempromosikan dagangan mereka.

“Dampaknya besar. Kalau pedagang masih memiliki lapak atau toko riil seperti saya mungkin tidak begitu. Tapi untuk pedagang yang murni berjualan secara online akan sangat terasa. Karena tidak bisa lagi menawarkan dagangannya,” katanya.

Yadi sendiri mengakui, begitu penting dan vitalnya posisi media sosial seperti Facebook untuk mempromosikan berbagai jenis ikan hias dagangannya.

Pasalnya di era digitalisasi seperti saat ini, hampir semua konsumen mencari produk atau barang secara online salah satunya melalui media sosial seperti Facebook.

“Paling efektif memang menawarkan dagangan lewat Facebook. Karena bisa dilihat langsung oleh ribuan orang calon konsumen secara sekaligus. Tidak hanya dari satu wilayah saja namun berbagai wilayah. Karena itu kita berharap agar kebijakan ini bisa ditinjau kembali. Atau paling tidak kita diberi kejelasan terkait ketentuannya bagaimana,” ujarnya.

Hingga saat ini, pihak pemerintah melalui Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) sendiri juga belum memberikan keterangan/informasi resmi terkait hal ini.

Sementara ribuan pelaku usaha di Indonesia mulai dari peternak, pembudidaya, hingga pedagang berbagai jenis hewan peliharaan menggantungkan hidupnya dari usaha ini.

Lihat juga...
error: Terimakasih Sudah Berkunjung !!