Hujan Sebabkan Sungai di Lamsel Meluap, Rugikan Petani

Editor: Koko Triarko

LAMPUNG – Hujan deras yang melanda wilayah Lampung Selatan (Lamsel) sejak Selasa (23/4) malam hingga Rabu (24/4) pagi, berimbas meluapnya sejumlah sungai. Antara lain, Way Pisang dan Way Pergiwo, di kecamatan Penengahan, dan Way Sekampung di Kecamatan Sragi. Meski intensitas luapan sungai tidak terlalu besar, kondisi bantaran sungai yang rawan longsor membuat sejumlah lahan sawah terendam.

Mujiono (50), salah satu pemilik lahan sawah di Desa Gandri, Kecamatan Penengahan, menyebut hujan disertai banjir membuat bantaran sungai rusak tergerus arus sungai. Kondisi tanah berpasir dan padas tanpa tanaman penguat bantaran sungai, membuat tanah jebol. Luapan sungai berimbas tanaman padi varietas Muncul miliknya sebagian roboh diterjang air. Padahal, padi yang diterjang air itu sebagian sudah menguning, menunggu waktu panen.

Menurut Mujiono, sebagian bantaran sungai banyak ditumbuhi oleh pohon waru gunung, albasia serta pandan air. Namun penebangan tanaman penahan longsor tersebut berimbas saat hujan deras sungai rawan terimbas banjir.

Lahan resapan air semula ditanami pepohonan beralih fungsi menjadi lahan pertanian jagung -Foto: Henk Widi

Material banjir didominasi lumpur serta pasir, sebagian merendam area persawahan. Akibat banjir tersebut, ia memastikan kerugian bisa mencapai jutaan rupiah berasal dari kerusakan lahan dan tanaman padi tidak bisa dipanen.

“Penguatan tanggul pada bantaran sungai telah kami lakukan dengan membuat penahan dari karung berisi tanah, namun karena terjangan air cukup kuat, tanggul jebol dan sebagian lahan sawah terbawa arus,” terang Mujiono,  Rabu (24/4/2019).

Bantaran sungai, kata Mujiono, yang berbatasan langsung dengan sungai sebagian sudah diperkuat dengan tanaman bambu. Meski demikian, pengikisan oleh air selama musim penghujan berlangsung. membuat badan sungai semakin melebar. Setelah air surut, Mujiono langsung melakukan perbaikan pada bantaran sungai.

Kerugian akibat terjangan banjir, berimbas tanaman padi varietas Ciherang usia 80 hari miliknya roboh. Normalnya, padi varietas Ciherang bisa dipanen saat memasuki usia 110 hari. Namun akibat banjir, ia berencana melakukan panen dini. Beruntung, padi varietas ketan putih yang ditanam tidak terendam banjir, karena berada puluhan meter dari bantaran sungai.

Penyebab sungai meluap, kata Mujiono, akibat alih fungsi lahan di kawasan sungai Pergiwo. Pada era 1980, kawasan yang masuk Register 1 Way Pisang masih dominan ditumbuhi pepohonan.

Sejumlah tanaman endemis, di antaranya gandri, salam, pule, merbaum yang ditebangi beralih fungsi menjadi lahan pertanian jagung. Imbasnya, pengikisan tanah humus berganti tanah padas dan pasir, karena diolah menjadi lahan pertanian jagung.

“Penggunaan kawasan yang seharusnya menjadi peresap air menjadi lahan pertanian jagung, membuat lahan menjadi gersang,” terang Mujiono.

Kawasan perbukitan yang dikenal dengan wilayah Pergiwo, semula ditumbuhi pohon besar, kini hanya tersisa pohon kelapa. Ia menyebut, meski kawasan tersebut bukan permukiman penduduk, saat penghujan, banjir berimbas pada lahan pertanian warga.

Padas serta pasir yang tergerus air, bahkan dalam beberapa tahun terakhir menjadi faktor utama kerusakan sawah. Meski telah diolah, namun saat musim penghujan berimbas banjir, area sawah kerap tertimbun lumpur.

“Timbunan lumpur pernah terjadi saat tanaman padi sepekan ditanam, sehingga diperlukan penanaman ulang atau penyulaman,” cetus Mujiono.

Mujiono menyebut, upaya penanaman pohon di kawasan perbukitan wilayah tersebut sangat mendesak. Ia yang memiliki lahan di perbukitan, pun menanam pohon sengon, mindi dan albasia sebagai penahan longsor.

Pada sejumlah bantaran sungai, penanaman rumpun bambu juga dilakukan. Namun, banjir diakibatkan intensitas hujan yang tinggi membuat kerusakan tidak bisa terhindarkan.

Selain kerusakan akibat sungai Pergiwo, luapan sungai Way Sekampung juga berdampak bagi warga Desa Bandar Agung, Kecamatan Sragi.

Agus (59), salah satu petani penanam padi varietas Muncul Cilamaya, mengaku luapan sungai Way Sekampung terjadi saat memasuki proses pemupukan pertama, menggunakan urea dan SP-36, yang dilakukan saat padi memasuki usia 25 hari setelah tanam (HST).

“Kerugian hanya pada pupuk yang terbuang, karena tersapu luapan sungai. Namun, saya masih bisa menggunakan pupuk organik,” beber Agus.

Upaya meminimalisir luapan sungai Way Sekampung saat penghujan, menurut Agus, telah dilakukan dengan menanam pohon, sebagai penahan longsor dengan perakaran kuat. Di antaranya waru dan albasia.

Namun akibat luapan banjir yang tidak bisa dielakkan, tanaman padi miliknya terendam air. Penanaman padi varietas Muncul Cimalaya dilakukan, karena memiliki ketahanan terhadap lahan tergenang air. Selain itu, stok berupa benih cadangan disiapkan untuk penyulaman tanaman baru saat musim banjir.

Lihat juga...