Indahnya Panorama Pante Oa Flores Timur

Editor: Mahadeva

170

LARANTUKA – Panorama Pantai Oa dan Tanjung Bolang di Desa Hewa, Kecamatan Wulanggitang, Flores Timur sungguh memanjakan mata.

Damsianus Sepulo Tukan,SPd guru yang juga putera asal kecamatan Wulanggitang kabupaten Flores Timur.Foto : Ebed de Rosary

Hamparan pasir putihnya menyimpan pesona, dan sejarah tentang asal nama pantai tersebut. Tanjung Bolang yang pantainya menjulur ke Laut Sawu NTT, membatasi Pantai Rako dan Pante Oa di Kecamatan Wulanggitang Flores Timur. “Pantai ini awalnya menjadi tempat singgah Raja Makasar asal Sulawesi,” sebut Damsianus S.Tukan, seorang warga setempat. Minggu (14/4/2019).

Dikatakan Damsil, dalam misi mencari dan meningkatkan perekonomian, Raja Makasar akhirnya memutuskan untuk hidup di Tanjung Bolang. Dia hidup bersama seorang permaisuri bernama Oa. “Bertahun-tahun hidup dan berbaur dengan masyarakat setempat, akhirnya memberi pengaruh positif kepada masyarakat. Hal ini dapat dilihat dari semakin membaiknya ekonomi masyarakat,” tuturnya.

Antara Makasar dan Nagi Tanah Flores Timur, menurut Putera Kecamatan Wulanggitang tersebut, memang sangat berbeda, meski juga menyimpan kesamaan. Nama Oa tidak asing lagi di mata masyarakat Lamaholot. Oa merupakan sebutan seorang perempuan Nagi Tanah Flores Timur. “Hidup di Tanjung Bolang, Desa Hewa, Kecamatan Wulanggitang, akhirnya nasib malang menimpa keluarga raja Makasar. Dia harus rela menerima derita pahit. permaisurinya, Oa harus pergi mendahului suaminya,” terangnya.

Tak lama kemudian, Raja Makasar-pun juga meninggal. Atas jasa mereka, dan sebagai tanda terima kasih, masyarakat setempat menamakan Tanjung Bolang menjadi Tanjung Makasar. Dan pantainya diberi nama Pante Oa, yang dikenal hingga sekarang.

Tokoh masyarakat Desa Hewa, Yoseph Ama Mukin, menjelaskan, masuknya saudagar Makasar ke Pulau Flores melalui Pantai Oa. Pada awal Perang Dunia II di 1940-an, meninggalkan kenangan yang sulit dilupakan masyarakat Tabana dan sekitarnya. “Saudagar kerajaan Makasar yang masuk dan menguasai tanah ulayat masyarakat Tabana di sepanjang pesisir pantai selatan Flores Timur. Akhirnya timbul kemarahan yang berujung pada peperangan,” terangnya.

Masyarakat Tabana selalu mengalami kekalahan perang menghadapi saudagar dan prajuritnya yang sedang menguasai tanah milik masyarakat. Bala bantuan dari orang Lewouran-pun tidak mampu mengusir saudagar Makasar.

“Orang Lewouran-pun meminta bantuan orang Lamalera di pulau Lembata, hingga saudagar Makasar pun bisa diusir. Nama pantai Oa lahir, untuk mengenang seorang putri cantik dari Larantuka, isteri dari saudagar Makasar tersebut, yang meninggal saat terjadinya peperangan. Tanjungnya pun dinamakan Tanjung Makasar,” terangnya.

Terlepas dari sejarah tersebut, Pante Oa kini menjadi sebuah pantai yang mulai ramai dikunjungi wisatawan domestik maupun asing. Selain berpasir putih yang menawan, ombaknya juga bisa untuk berselancar. “Setelah pelaksanaan festival Bale Nagi, yang pembukaannya mengambil tempat di pantai ini, semakin banyak orang yang mengenal pantai ini. Wisatawan pun sudah semakin banyak yang datang ke pantai ini,” pungkasnya.

Lihat juga...