Jalan Ditutup, Pengiriman Material ke Waduk Napun Gete Terganggu

Editor: Mahadeva

248

MAUMERE – Penutupan satu-satunya akses jalan menuju waduk Napun Gete di Desa Ilimedo, Kecamatan Waiblama, Kabupaten Sikka telah berlangsung tiga hari.

Semenjak ditutup Kamis (11/3/2019), truk pengangkut material tidak bisa masuk ke lokasi pembangunan waduk. “Awalnya disosialisasikan oleh pemerintah Kabupaten Sikka, dan Balai Wilayah Sungai (BWS) Nusa Tenggara, bahwa pembangunan waduk sangat bermanfaat bagi masyarakat terutama para petani. Masyarakat-pun menyetujui tanahnya dipergunakan,” kata  Eliseus Dalo, warga Desa Ilimedo, Sabtu (13/4/2019).

Di Desember 2016, direncanakan presiden akan datang ke waduk Napun Gete. Semua petak tanah yang belum mendapat ganti rugi mulai digusur. Ternyata presiden berhalangan hadir, dan yang datang pihak kontraktor.

“Terkait ganti rugi lahan, Bupati Sikka dan Ketua DPRD Sikka, meminta agar masyarakat jangan menghalangi pekerjaan pembangunan waduk Napun Gete. Pemilik lahan meminta agar pembayaran dilakukan 100 persen dahulu, baru pembangunan bisa dilanjutkan,” terangnya.

Eliseus Dalo (depan) bersama warga desa Ilimedo kecamatan Waiblama, pemilik lahan untuk pembangunan waduk Napun Gete yang belum mendapatkan ganti rugi. Foto : Ebed de Rosary

Tetapi, Ketua DPRD dan Bupati Sikka, disebut Eliseus meminta kontraktor bisa bekerja dahulu. Pembayaran ganti rugi lahan terdampak tetap berjalan hingga lunas. “Kami-pun setuju, hingga dibuatkan dengan surat pernyataan. Bupati dan Ketua DPRD Sikka-pun setuju, hingga dibuatlah surat pernyataan bahwa pembayaran ganti rugi lahan hingga akhir 2017 sudah selesai,” bebernya.

Tapi dalam perjalanan, pembayaran dana dari Pemda Sikka sebesar Rp16 miliar tersendat. Dampaknya, warga berulangkali menutup akses jalan masuk ke waduk.

Simon Lewar, salah seorang pemilik lahan menambahkan, pembayaran ganti rugi lahan mengalami kendala. Dalam perjalanan, Ketua DPRD Sikka mengundurkan diri, karena ikut Pilkada 2018 dan bupati-pun juga melakukan hal yang sama.

Warga, terpaksa menutup jalan berulangkali. Bupati Sikka yang baru dan kepala dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kabupaten Sikka disebut Simon, menjanjikan akan segera membayar, namun hingga kini tidak juga terwujud. “Hingga Maret 2019 sesuai janji bupati dan kepala dinas PUPR, sisa pembayaran akan dibayar lunas. Tapi ternyata tidak terealisasi. Warga terpaksa menutup akses jalan masuk ke waduk,” ungkapnya.

Kepada Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kabupaten Sikka, Tommy Lameng, saat dihubungi Cenda News, Sabtu (13/4/2019) malam menyebut, Dirinya sejak Kamis (11/4/2019) sudah menemui pemilik lahan yang menutup akses jalan. “Saya sudah bertemu dengan mereka dan meminta agar jangan menutup akses jalan masuk. Tapi mereka tidak mau dan hari Jumat (12/4/2019) Satpol PP juga sudah bertemu dan meminta agar blokir dibukan, namun tetap saja warga menolak,” sebutnya.

Tommy menyebut, tidak bisa memberikan kepastian pembayaran kekurangan dari dana pembebasan lahan. Hal itu dikarenakan, dana tersebut merupakan dana APBN, dan pihaknya tidak memiliki kewenangan untuk mengurusnya.

“Sekarang ini yang mengurus uangnya Balai Wilayah Sungai dan Pemerintah Kabupaten Sikka sudah tidak ada hubungan lagi. Kalau meminta kami yang bayar, mau pakai dana apa. Sebab dana yang menjadi kewajiban Pemda Sikka sebesar Rp16 miliar sudah dibayarkan semua,” terangnya.

Dari pengamatan Cendana News, di lokasi pintu masuk waduk, warga membuat bale-bale dari bambu belah, untuk dipergunakan sebagai tempat tidur. Tenda didirikan melintang, hingga menutup jalan masuk ke lokasi waduk. Di depan tenda, persis di pintu masuk terlihat pasir menumpuk. Mobil pick-up yang sudah terlanjur membawa material terpaksa menurunkannya di lokasi karena tidak bisa masuk ke lokasi waduk.

Lihat juga...