Jamaah Majlis Al Ahya Berharap Keluarga Cendana Memimpin Indonesia

Editor: Mahadeva

JAKARTA – Meskipun jasad Presiden kedua RI, Jenderal Besar HM Soeharto telah berkalang tanah. Namun sosok kharismatik Bapak Pembangunan itu tetap dikenang masyarakat.

Terbukti, dalam dialog antara putri sulung Presiden Soeharto, Siti Hardijanti Rukmana (Tutut Soeharto) dengan jamaah Majlis Al Ahya, pada kajian subuh di Pondok Pesantren Al Hanif, di Pasir Jaya, Bogor Barat, Kota Bogor, Jawa Barat, Minggu (14/4/2019), para jamaah menyampaikan rasa kangen terhadap sosok Pak Harto.

Sosok yang dinilai telah sukses membangun bangsa dan negara Indonesia. Salah satu jamaah itu adalah Raden Wahyudi, mengaku sangat kagum dengan Presiden Soeharto yang dijuluki The Smiling General itu. “Bu Tutut, kami selaku warga Indonesia mengucapkan terima kasih atas kepemimpinan Bapak Presiden Soeharto, dalam membangun bangsa ini,” kata Wahyudin, dihadapan Tutut Soeharto, yang disambut antusias jamaah.

Wahyudi mengaku dirinya dan jamaah Al Ahya, selama ini mengunggu kehadiran keluarga besar Cendana bersilaturahmi ke Pondok Pesantren Al Hanif.  “Alhamdulillah pada kajian Subuh ini, Ibu Tutut hadir di tengah-tengah kami,” ujarnya.

Siti Hardijanti Rukmana (Tutut Soeharto) bersama KH. Muhammad Husni Thamrin Padmawijaya meninjau Pondok Pesantren Al Hanif, di Pasir Jaya, Bogor Barat, Kota Bogor, Jawa Barat, Minggu (14/4/2019). Foto; Istimewa

Dia berharap, ke depan keluarga Pak Harto dapat kembali memimpin Indonesia. “Agar Indonesia Baldatun Thoyyiban wa Robbun Ghofur. Dan semoga almarhum Pak Harto husnul khotimah diberikan cahaya terbaik oleh Allah SWT,” ujar Wahyudi.

Tutut Soeharto mengucapkan terima kasih atas keiklasan Wahyudin dan jamaah Al Ahya mendoakan keluarga Pak Harto. Putri sulung Presiden Soeharto tersebut mengajak jamaah untuk tidak melihat ke masa lalu dalam membangun bangsa.

Fokus ke depan, untuk mewujudkan perubahan Indonesia yang adil dan makmur. Banyak program-program Pak Harto yang diterapkan untuk membangun bangsa Indonesia ini. Tapi tentu semua itu program yang terbaik.  “Yang baik, ayo kita teruskan. Yang kurang baik, kita perbaiki. Dan yang jelek, ditinggalkan saja nggak usah diterapkan lagi. Tapi yang baik jangan ditinggalkan, teruskan,” tukas istri Indra Rukmana.

Dalam dialog ini, Tutut Soeharto menanyakan tentang kondisi ekonomi masyarakat di Pasir Jaya, Bogor. Salah satu jamaah menjawab. “Enakan zaman Pak Harto, Bu, gampang dan harga kebutuhan pokok murah. Sekarang mah repot, Bu, harga-harga melejit. Keamanan juga nggak tertib,” tandasnya

Mendengar keluhan itu, Tutut Soeharto mengajak semua jamaah untuk membangun Indonesia yang adil dan makmur berdasarkan Pancasila dan UUD 1945. Dalam kesempatan ini, Putri Cendana juga memberi solusi terkait masalah ekonomi. Menurutnya, setiap keluarga harus mandiri dalam membangun pundi-pundi ekonomi. “Kita punya program pertanian dan peternakan terpadu. Nah, ibu-ibu bisa menanam cabai di pot kecil di pelataran rumah. Hasilnya bisa dipakai sendiri, dan sebagian bisa dijual. Itu sangat bermanfaat bagi keluarga,” jelasnya.

Jika berkenan, Tutut Soeharto siap membantu dengan mengirimkan para ahli pertanian dan peternakan. Mereka akan mengajarkan cara menata desa mandiri pangan dan energi. Misalnya, satu desa menanam cabai. Dan desa satunya tomat atau sayuran. Sehingga pengembangan pertanian di setiap desa tersebut berbeda, tetapi tetap tersinergi untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakatnya.

“Kalau kita menanam sama semuanya, nanti akhirnya harga akan anjlok. Karena panen berlimpah, contohnya cabai. Jadi kita harus pintar-pintar menata desa,” ungkapnya.

Siti Hardijanti Rukmana (Tutut Soeharto) dan Siti Hutami Endang Adiningsih (Mamiek Soeharto) memberikan buku kepada KH. Muhammad Husni Thamrin Padmawijaya saat silaturahmi ke Pondok Pesantren Al Hanif, di Pasir Jaya, Bogor Barat, Kota Bogor, Jawa Barat, Minggu (14/4/2019). Foto: Istimewa

Di bidang peternakan, Tutut Soeharto memberi solusidengan beternak ayam petelur. Di dalam satu keluarga, bisa beternak 10 ekor ayam, dan itu diterapkan di satu desa. Dengan pemeliharaan ternak yang baik, setiap hari, ayam-ayam pasti bertelur.

Misalnya, ada 10 keluarga, setiap keluarga memelihara 10 ekor ayam maka akan diperoleh 100 butir telur, jika setiap ayam bertelur 10 butir. “Sebagian telur dijual dan bisa makan sendiri. Itu manfaatnya besar sekali. Di Ciomas, sudah ada contohnya,” ujarnya.

Usai berdialog, Tutut Soeharto yang datang didampingi adiknya, Siti Hutami Endang Aningsih (Mamiek Soeharto), Danty Rukmana, putrinya. Dan kedua cucu Farel dan Athar berlanjut meninjau lokasi pesantren Al Hanif.

Mereka meninjau bersama pimpinan Majlis Al Ahya, KH.Muhammad Husni Thamrin Padmawijaya dan pengurus pesantren. Pada kesempatan ini, kedua putri Presiden Soeharto memberikan cinderamata sebuah buku, Kitab Tumbuhan Obat, kepada KH. Muhammad Husni Thamrin Padmawijaya. “Saya mohon agar persahabatan ini jangan terputus, tapi tetap terjalin kedepannya. Mari kita menyatukan cipta rasa untuk membangun bangsa dan negara Indonesia, dan setelah itu  kita berserah diri pada Allah SWT,” pungkas Tutut Soeharto.

Lihat juga...