‘Jaranan’ Khas Tulungagung Diminati Mancanegara  

Kesenian jaranan -ilustrasi -Dok: CDN

TULUNGAGUNG – Kerajinan jaranan atau kuda lumping “senterewe” khas Tulungagung, Jawa Timur, diminati banyak penggemar benda seni mancanegara, mulai Singapura, Malaysia hingga negara di Timur Tengah.

“Beberapa pelanggan kami memesan untuk dijual di luar negeri, salah satunya yang paling banyak ke Singapura,” kata Mbah Seto, perajin jaranan senterewe di Desa Balerejo, Kecamatan Kauman, Tulungagung, Jumat (19/4/2019).

Produk jaranan yang dibuat secara manual menggunakan tangan dan dikerjakan hanya oleh Seto dan dua putranya itu tidaklah masal. Mereka mengerjakan semampu bahu mereka. Itu pun pada pagi hingga siang menjelang sore, diselingi beberapa aktivitas kecil khas warga desa.

“Ya, kami sekadarnya saja. Dikerjakan sesuai pesanan. Tapi, jika pas numpuk dan sudah mendekati tenggat waktu pemesanan, biasanya kami lembur,” kata Mbah Seto.

Dalam sepekan, lanjut dia, satu set perangkat jaranan berbahan dasar bambu yang dianyam itu bisa mereka kerjakan. Mulai dari menyerut bambu pilihan, membuat sesek atau anyaman untuk dasar, memberi gapit atau penjepit pada seluruh bagian tepi jaranan, hingga penyelesaian akhir mewarnai dan memberi rambut pada bagian kepala, leher dan buntut kuda lumping tersebut.

Ada tiga varian ukuran jaranan senterewe yang dibuat Seto, yakni ukuran kecil, sedang dan besar.

Harga kuda lumping dipatok antara Rp250 ribu hingga Rp300 ribu per unit. Namun untuk sekali pembelian atau pemesanan, kata Mbah Seto, wajib dalam satu set perangkat jaranan yang terdiri enam unit kuda lumping.

“Jumlahnya satu paket untuk menari jaranan yang biasanya dimainkan enam orang penari,” ujarnya.

Produk kerajinan jaranan senterewe buatan Seto tidak hanya dijual untuk tujuan pemesan luar negeri, khususnya Singapura, tapi lebih banyak dibuat untuk melayani pelanggan lokal Tulungagung, dan beberapa kota di Jatim, serta pemesan dari Jakarta dan Kalimantan.

“Beberapa waktu lalu juga ada permintaan pemesan untuk dibawa ke Abu Dhabi (Ini Emirat Arab), negara Timur Tengah. Tapi saya tidak tahu pasti apakah di sana dijual lagi atau untuk suvernir,” katanya.

Mbah Seto mengatakan, kendati kerajinan karyanya mulai dipasarkan ke luar negeri, ia mematok harga sama seperti halnya dia memasok untuk permintaan komunitas seniman lokal. (Ant)

Lihat juga...