Jelang Libur Pemilu, Petani Sawit Percepat Panen

Editor: Koko Triarko

LAMPUNG – Sejumlah petani di Kabupaten Lampung Selatan, dan Lampung Timur, mempercepat proses pemanenan dan pengangkutan kelapa sawit, menyusul akan digelarnya pemilihan umum (pemilu) pada Rabu (17/4/2019).

Danan, petani kelapa sawit di Desa Tanjungsari, Kecamatan Palas, Lampung Selatan, menyebut, jelang Pemilu tanaman sawit miliknya sudah memasuki masa panen. Pemanenan kelapa sawit harus segera dilakukan, karena buah sawit berpotensi rontok jika tidak segera dipanen.

Danan, petani kelapa sawit di Kecamatan Palas, Lampung Selatan -Foto: Henk Widi

Tandan buah segar (TBS) kelapa sawit dipanen sebulan sekali, selanjutnya dikumpulkan di satu lokasi untuk diambil oleh pengepul. Pemanenan dilakukan dua hari sebelum pelaksanaan Pemilu, karena sejumlah pabrik dipastikan akan meliburkan karyawannya, dan akan kembali melanjutkan kegiatan seusai Pemilu.

Danan menyebut, dari sekitar 500 tanaman kelapa sawit miliknya, bisa dipanen sebulan sekali. Satu kali panen, ia mendapatkan hasil sekitar 200 hingga 300 kilogram, atau rata-rata 1.000 kilogram per triwulan.

Saat menjelang pemilu, sejumlah pemilik kebun memilih mempercepat proses panen, menghindari kerugian akibat banyaknya buah sawit yang rontok. Percepatan pemanenan, selain faktor Pemilu juga karena harga TBS yang mulai naik.

“Memasuki pertengahan bulan April, bertepatan dengan mendekati waktu pemungutan suara, saya sudah ditelepon pengepul untuk memanen lebih awal, agar TBS bisa diangkut ke pabrik,” terang Danan, saat ditemui Cendana News, Senin (15/4/2019).

Menurut Danan, harga TBS sawit mengalami kenaikan dalam beberapa bulan terakhir. Sebelumnya, harga TBS per kilogram di tingkat petani dibeli dengan harga Rp600 hingga Rp800, pada pekan kedua April harga menjadi Rp1.000 per kilogram.

Meski hasil penjualan TBS cukup sedikit dengan asumsi hasil panen sebanyak 200 kilogram saja, Danan mengaku bisa mendapatkan uang sekitar Rp200.000 atau Rp2 juta per tiga bulan.

Hasil panen kelapa sawit menjadi sumber penghasilan rutin baginya, selain komoditas pertanian padi serta tanaman perkebunan lain seperti kelapa dan pisang.

Jadwal pemanenan kelapa sawit, kerap berbarengan dengan pemilik kebun lain agar memudahkan proses pengangkutan. Sebab, dalam satu kali pengangkutan, pengepul akan mendatangi lokasi dengan membawa alat timbangan.

Daseng, pengepul kelapa sawit asal Desa Labuhan Ratu, Kecamatan Pasir Sakti, Lampung Timur, mengaku sengaja mempercepat proses pengangkutan.

Sebelum Pemilu, ia telah mendapat perintah dari pabrik pengolahan minyak kelapa sawit agar mempercepat proses pengiriman. Langkah tersebut dilakukan, agar TBS sawit yang dibawa ke pabrik tetap dalam kualitas yang baik. Sekali proses pengambilan, Daseng mampu memuat sebanyak 8 ton TBS dari sejumlah petani.

“Petani pemilik kebun sawit jumlahnya mencapai ratusan. Namun terkadang jumlah panen yang dihasilkan berbeda, sehingga dilakukan pengepulan di satu lokasi,”cetus Daseng.

Menurutnya, pada satu lokasi pengepulan, rata-rata ada sekitar 10 petani yang mengumpulkan TBS. Setiap TBS akan ditumpuk dengan tanda nama pada sebuah papan kecil. Petani kerap sudah mengetahui jumlah hasil panen yang diperoleh, dan penimbangan akan dicatat untuk direkap dengan hasil panen sebelumnya. Satu penanggungjawab di lokasi pengepulan akan mendapatkan nota hasil penimbangan TBS hasil panen milik petani.

Uang hasil penjualan akan dicairkan setelah TBS dikirim ke pabrik pengolahan sawit, untuk diolah menjadi Crude Palm Oil (CPO). Sistem tersebut sekaligus menjadi tabungan bagi pemilik kebun kelapa sawit, dengan jumlah panen sedikit.

Jika sekali panen, petani mendapatkan hasil sekitar 350 kilogram, dalam tiga bulan saja petani bisa mendapatkan hasil sekitar 1 ton. Saat harga Rp1.000 per kilogram, ia memastikan petani mendapatkan Rp1 juta.

Daseng bersama empat pekerja lainnya, menyebut pengepulan terakhir TBS diambil dari Desa Pematang Pasir. TBS sawit tersebut akan dibawa ke pabrik pengolahan sawit di Simpang Randu, Lampung Tengah.

Setelah pengambilan TBS dari petani jelang Pemilu, ia akan kembali berkeliling ke sejumlah petani di Lamtim dan Lamsel. Sejumlah petani penanam kelapa sawit akan kembali melakukan pemanenan seusai pesta demokrasi atau pemilu.

Lihat juga...