Jogja Kembangkan Sistem Pengawasan Siswa Berbasis Android

Redaktur: ME. Bijo Dirajo

Kabid Pembinaan SMP Disdik Yogyakarta Dedi Budiono Mpd. Foto: Jatmika H Kusmargana

YOGYAKARTA — Dinas Pendidikan Kota Yogyakarta tengah berupaya menyusun sebuah sistem monitoring pengawasan anak berbasis android. Sistem itu dibuat dengan melibatkan sejumlah pihak termasuk Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo).

Kepala Bidang Pembinaan SMP, Dinas Pendidikan Kota Yogyakarta, Dedi Budiono mengatakan, sistem ini dibuat sebagai bagian dari penerapan sistem penjaminan mutu eksternal. Nantinya orang tua/wali murid bisa memonitor kegiatan siswa saat berada di sekolah.

“Jadi nanti orang tua bisa monitor. Anak masuk sekolah atau tidak, pulang jam berapa, nilainya berapa. Sehingga jika siswa membolos misalnya, orang tua bisa tahu,” katanya.

Menurut Dedi, sistem monitoring semacam ini cukup penting dan diperlukan untuk mengawasi anak-anak yang bersekolah di wilayah perkotaan, kerawanan untuk melakukan hal menyimpang sangat tinggi. Terlebih dengan mobilitas yang tinggi, serta terpaan hal negatif seperti serangan hoax, narkoba, paham meresahkan hingga, pornografi.

“Untuk teknologi sebenarnya kita sudah mampu. Hanya memang yang perlu disiapkan adalah mindset orang tua agar menganggap penting peran pendidikan parenting, karena hal itu sangat mempengaruhi perilaku anak,” katanya.

Dikatakan, implementasi pendidikan parenting ke sekolah sendiri sudah dilakukan lewat Gerakan Orang Tua Kepo. Sebuah gerakan yang mendorong agar orang tua harus selalu mengetahui kegiatan anak dimanapun berada termasuk saat di sekolah.

“Ini merupakan bagian dari upaya penguatan tri pusat pendidikan. Yakni penguatan peran keluarga, sekolah dan masyarakat. Sinergitas ketiga unsur ini sangat diperlukan untuk melakukan edukasi dan pengawasan bagi anak,” katanya.

Di kota Yogyakarta kenakalan remaja yang melibatkan anak sekolah memang menjadi permasalahan yang muncul beberapa tahun terakhir ini. Perilaku menyimpang yang muncul salah satunya adalah adanya geng jalanan yang biasa disebut “Klitih”. Dari berbagai kajian, munculnya fenomena itu disebabkan karena banyak faktor. Terutama pendidikan yang salah di tingkat keluarga hingga pengaruh lingkungan masyarakat.

“Lingkungan mikro sangat mempengaruhi pembentukan karakter dan perilaku anak. Faktanya kan kasus semacam itu kerap muncul dari keluarga broken home. Sehingga anak kurang diperhatikan. Karena itu pendidikan di tingkat keluarga menjadi sangat penting. Lingkungan juga harus kondusif,” katanya.

Lihat juga...