Joko Susilo Kembangkan Mesin Pemusnah Sampah Incinerator

Editor: Koko Triarko

BEKASI – Memiliki dasar tentang ruang bakar karena pernah bekerja di pabrik boiler, dan pengalaman desain manufaktur, menjadi dasar Joko Susilo mengembangkan mesin pemusnah sampah di lingkungan RT 12, RW 06, kompleks Tytan Kencana, Kelurahan Margamulya, Kecamatan Bekasi Utara, Kota Bekasi Jawa Barat.

Joko Susilo, mengembangkan sistem pengelolaan sampah  menggunakan mesin pemusnah sampah, melalui teknologi yang dinamakannya kombinasi  Reduce, Reuse, Recycle (TPS 3R) plus Incinerator.

Hal tersebut pertama kali dilakukan pada 2013, kemudian berkembang hingga akhirnya mendapat bantuan dana dari Dinas PUPR Provinsi Jawa Barat.

Joko Susilo, pengelola mesin TPS 3R –Foto: M Amin

“Saat ini, sudah memasuki pengembangan tahap tiga dengan menambahkan teknologi wet scrubber atau tirai air,” ujar Joko Susilo, saat ditemui di kompleks Tytan Kencana, Marga Mulya Bekasi Utara, Rabu (24/3/2019).

Susilo mengaku mengembangkan mesin permusnah sampah didasari oleh rasa kepedulian, karena melihat kebiasaan warga membuang sampah. Bahkan, terkadang satu minggu dibiarkan, baru petugas UPTD mengangkut untuk dibuang ke TPA.

Akhirnya, sampah menggunung, di sana ada kucing, tikus, kecoa, dan lainnya, yang dinilai mengganggu. Hingga akhirnya warga lingkungan RT 012, melakukan pertemuan dan menyepakati, bagaimana sampah lingkungan diolah sendiri, tidak tergantung pada petugas pengangkut sampah.

“Saya punya basic dari perusahaan, saya punya pengetahuan tentang ruang bakar, pernah di pabrik juga pabrik boiler, jadi saya punya pengalaman mulai desain, manufaktur, sampai teknik listrik, dan pemasangan di lapangan. Sehingga dikombinasikan,”ujarnya.

Kebetulan, imbuh Susilo, ada warga lingkungan setempat bisa mengolah kompos dan lainnya. Sehingga bersama membangun pemusnah sampah dengan cara swadaya. Pemusnah sampah menggunakan teknologi Incinerator secara swadaya, mulai perancangan biaya membuat kira-kira sampai Rp150 juta.

Tahap awal mulai perancangan pad 2013, dengan terlebih dulu membuat bedeng, terus tiga tahun ganti ke generasi kedua dengan emisi yang dikombinasi dengan udara baru (fresh air).

“Sampai pada 2018, dapat bantuan dari PUPR Jawa Barat untuk mengembangkan infrastrukturnya dari bedeng menjadi bangunan permanem TPS 3R, senilai Rp350 juta,” katanya.

Diakuinya, kultur warga di lingkungannya ingin menyelesaikan sampah zero waste menjadi 2 persen/ 2 kilogram abu/residu dari 100 kilogram sampah yang dimusnahkan.

Meski diakuinya menurut undang-undang, sampah tidak boleh dibakar, karena meninggalkan masalah emisi. Namun, Susilo mengaku semaksimal mungkin meminimalisir emisi.

Melalui generasi ketiga TPS3R,  incinerator itu ada unit pembakaran sampah sendiri dengan temperatur sampai 900 derajat. Gas buangnya  di-scrapping menggunakan peralatan. Sehingga, emisinya  disemprot air, sehingga partikel yang terbang terikat dengan air-air itu jatuh turun.

“Air dari waste, skaltrer kita tes PH-nya, ternyata normal. Jadi boleh dibuang di selokan, kecuali endapannya di uruk. Yang keluar dari cerobong itu uap,” tandasnya, yang mengaku abu dari pembakaran  diuruk di tanah dan sebagian menjadi pupuk.

Berkat kerja tim warga, saat ini TPS3R sudah memiliki gerobak, incinerator, cluster composer untuk mencincang sampah organik menjadi kompos, ada composter, ada mesin pemilah, mesin press. Melalui mesin pemusnah menggunakan teknologi incinerator, saat ini bisa menyelesaikan maksimal 150 kilogram sampah per jam.

“Setiap daerah itu punya local wisdom, atau punya cara mengelola sampahnya masing-masing. Memang cara paling efektif menanggulangi sampah, kalau kami merekomendasikan incinerator,” sarannya.

Joko Susilo menyampaikan harapannya, bahwa sampah itu masalah kita semua, maka diharap peduli, sampah itu bagi kami adalah hajat, maka menjadi tanggungjawab semua orang.

Lihat juga...