hut

Kampung Laut Belum Miliki Akses Perbankan dan Sulit Sinyal

Editor: Koko Triarko

CILACAP – Kampung Laut merupakan pemukiman yang berada di Segara Anakan, antara daratan Kabupaten Cilacap sebelah barat dengan Pulau Nusakambangan. Kecamatan tersebut terdiri dari empat desa, dan untuk mencapainya harus menyeberangi lautan cukup lama.

Akses yang cukup sulit ini, membuat Kampung Laut hingga kini  belum memiliki perbankan. Masyarakat harus menyeberangi Segara Anakan untuk bisa mengakses perbankan, baik menuju perbankan di wilayah Kabupaten Cilacap atau pun di wilayah Pangandaran, Jawa Barat. Kampung ini juga belum teraliri listrik dan minim dari jangkauan sinyal.

Camat Kampung Laut, Nurindra Wahyu Wibawa. -Foto: Hermiana E. Effendi

“Masyarakat di sini sebenarnya membutuhkan perbankan untuk menunjang kegiatan perekonomian mereka. Selama ini, mereka harus menyeberang Segara Anakan terlebih dahulu jika ingin ke perbankan,” kata Camat Kampung Laut, Nurindra Wahyu Wibawa, Kamis (11/4/2019).

Kepala Bank Indonesia (BI) Purwokerto, Agus Chusaini, mengatakan, selama ini BI rutin melakukan kunjungan ke Kampung Laut untuk melakukan penukaran uang. Hanya saja, dilakukan bergilir antara empat desa yang berada di Kampung Laut, yaitu Desa Ujung Alang, Ujung Gagak, Panikel dan Klaces.

Berapa pun kebutuhan penukaran uang pecahan, BI siap untuk melayani. Hanya saja, lanjutnya, BI tidak mempunyai kewenangan untuk meminta perbankan membuka kantor di Kampung Laut. Sebab, hal tersebut sudah menyangkut masalah bisnis, sehingga jika dipaksakan tidak akan berjalan dengan baik.

Melihat perkembangan perekonomian di Kampung Laut, menurut Agus, sebenarnya butuh sedikit peningkatan lagi untuk bisa perbankan membuka kantor di wilayah tersebut. Perputaran uang sudah cukup bagus, hanya perlu ditingkatkan sedikit lagi.

“Ada dua fungsi perbankan, yaitu menghimpun dana masyarakat dan menyalurkan dana kepada masyarakat. Perbankan selalu melihat potensi bisnis serta akses jalan untuk  membuka kantor cabang. Sebelumnya harus dilakukan survey tentang potensi ekonomi di wilayah tersebut, karena harus berjalan beriringan antara penyerapan dana dengan penyalurannya,” terang Agus.

Selain rutin melakukan penukaran uang, lanjutnya, BI Purwokerto juga melakukan sosialisasi ciri-ciri uang asli kepada masyarakat Kampung Laut. Sebab, peredaran uang palsu bisa di mana saja dan khusus untuk wilayah yang cenderung sepi dan perputaran uang sedikit, biasanya juga menjadi target peredaran uang palsu. Karena itu, untuk mengantisipasi peredaran uang palsu, masyarakat diberikan penjelasan tentang cara mengenali keaslian uang.

“Dalam mengenali atau mendeteksi uang palsu, masyarakat di daerah pinggiran atau yang sepi perputaran uang sedikit lebih lamban. Berbeda dengan di tempat ramai, SPBU, misalnya, hanya dengan melihat sekilas, petugas SPBU sudah bisa mengenali uang asli dan palsu. Karena itu, sosialisasi keaslian uang pada masyarakat Kampung Laut ini perlu dilakukan,” pungkasnya.

Lihat juga...