Kaya Fungsi Ekologis, Warga Lamsel Lestarikan Waru dan Akasia

Redaktur: ME. Bijo Dirajo

213

LAMPUNG — Keberadaan sungai Way Sekampung menjadi sumber pengairan lahan pertanian, budidaya perikanan di Lampung Timur (Lamtim) dan Lampung Selatan (Lamsel). Namun, banjir yang kerap terjadi pada musim penghujan juga menjadi momok menakutkan bagi warga sekitar. Salah satu cara meminimalisi, warga Desa Bandar Agung, Kecamatan Sragi, Lamsel menggalakkan pelestarian pohon waru dan akasia.

Agus (59) salah satu petani sekaligus pembudidaya ikan air tawar menyebutkan, warga sekitar mempertahankan jenis tanaman waru (Hibiscus tiliaceus) dan akasia daun kecil (Acacia aulicoliformis) sudah puluhan tahun. Tanaman tersebut dinilai efektif memperkuat tanggul, mempertahankan longsor hingga menyerap udara kotor.

“Rantai manfaat ekologis berbagai jenis tanaman untuk lahan pertanian,perikanan sekaligus keselamatan lingkungan bisa diperoleh berkat adanya upaya melestarikan jenis pohon waru serta akasia daun kecil,”beber Agus saat ditemui Cendana News, Rabu (17/4/2019)

Diterangkan, waru dan albasia yang yang memiliki kaya fungsi juga digunakan sebagai sumber pakan ternak. Pakan alternatif tersebut diberikan saat musim kemarau saat peternak kesulitan mencari rumput.

“Fungsi jangka pendek serta jangka panjang tanaman waru dan akasia sangat terasa sehingga terus saya lestarikan,” beber Agus.

Selain itu, daun waru dan akasia yang berguguran dimanfaatkan sebagai pupuk kompos melalui pembusukan. Daun yang membusuk di empang ikan menjadi penyubur pertumbuhan lemna minor dan azolla sebagai sumber pakan alami ikan nila, patin dan gurame. Selanjutnya azolla dimanfaatkan petani sebagai pupuk pengganti urea penyubur tanaman padi.

“Pengaplikasian rantai fungsi makanan alami pada ikan serta unsur hara dari pupuk kompos daun waru dan akasia memberi keuntungan ekonomi dan efisiensi pakan serta pupuk,” tutur Agus.

Agus memanfaatkan tanaman azolla sebagai pupuk alami bagi tanaman padi miliknya. Foto: Henk Widi

Pada jangka panjang sejumlah tanaman waru dan akasia bisa dimanfaatkan sebagai bahan palet kotak paket serta furniture. Kayu waru dan akasia kerap dibeli dengan harga Rp1juta perpohon dengan usia lebih dari 10 tahun serta memiliki diameter lebih dari 50 cm.

Kekuatan serta nilai artistik dari kayu waru dan akasia daun kecil membuat kedua jenis tanaman tersebut memiliki nilai ekonomi tinggi. Tren penggunaan lantai kayu sekaligus membuat permintaan kedua jenis kayu tinggi.

Meski permintaan tinggi penanaman ulang paska penebangan disebutnya terus dilakukan. Memiliki sifat pertumbuhan yang cepat membuat kedua jenis tanaman tersebut cocok digunakan sebagai tanaman reboisasi. Kawasan DAS Way Sekampung yang menghijau diakuinya didominasi waru dan akasia daun kecil.

Keberadaan dua jenis tanaman tersebut sekaligus menjadi penyumbang pasokan oksigen serta fungsi lain yang sangat beragam. Agus dan sejumlah warga bahkan melakukan penanaman dengan pola teratur sehingga fungsi ekologis berpadu dengan estetika dengan jajaran tanaman yang terlihat apik.

Lihat juga...