Kebudayaan Lumbung Pembangunan Pariwisata

Editor: Koko Triarko

Prof. Dr. I Gede Pitana M.Sc., Tenaga Ahli Menteri Pariwisata Bidang Pemasaran dan Kerja Sama Pariwisata Kementerian Pariwisata. -Foto: Sultan Anshori

DENPASAR – Prof. Dr. I Gede Pitana M.Sc, selaku Tenaga Ahli Menteri Pariwisata Bidang Pemasaran dan Kerja Sama Pariwisata, menegaskan, berdasarkan penelitian, wisatawan yang berlibur ke suatu tempat motivasi utamanya karena budaya dan sejarah.

“Selebihnya, karena ingin menikmati faktor keindahan alam. Tapi, motivasi utama mereka ingin berwisata budaya dan sejarah,” kata Prof. Dr. I Gede Pitana, di sela pembukaan International Conference Organization World Heritage City (OWHC) Eurasia IX, di salah satu hotel di kawasan Sanur, Denpasar, Selasa, (30/4/2019).

Pitana menambahkan, budaya ini tidak hanya identik dengan tarian dan sejenisnya. Budaya yang dimaksud dalam ini berkaitan hal-hal positif lainnya. Misalnya, perilaku masyarakatnya, sawahnya dan lainnya. Karena sejatinya, kebudayaan itu adalah lumbung pembangunan pariwisata. Tetapi, pariwisata itu harus dikembangkan sesuai dengan code of ethics of tourism.

“Dan, data membuktikan, pasar pariwisata dunia terus meningkat. Kita sangat kaya dengan potensi budaya. Dari berbagai penelitian menunjukkan, bahwa daerah-daerah yang menggunakan pariwisata sebagai sektor unggulan itu rakyat Indonesia sejahtera. Dan, indeks kebahagiaannya lebih tinggi sesuai dengan hasil penelitian BPS,” katanya.

Menurutnya, berdasarkan data kunjungan wisatawan pada 2018, mencapai  16 juta orang, membuktikan budaya ini sangat berperan penting dalam pengembangan pariwisata di suatu daerah.

“Jadi sangat benar sekali, bahwa pariwisata itu adalah tradisi masa depan kita itu pariwisata, karena pariwisata nggak pernah ada habis-habisnya,” imbuh Pitana.

Karena itu, kata Pitana, budaya yang dimiliki oleh suatu daerah harus tetap dijaga dan dilestarikan.

Menurut Pitana, terdapat beberapa faktor untuk pelestarian kebudayaan. Pertama, konservasi atau perlindungan. Kedua, pengembangan dan adaptasi, dan yang ketiga pemanfaatan kebudayaan itu sendiri.

“Jadi pemanfaatan kebudayaan untuk mendapatkan manfaat ekonomi melalui kegiatan pariwisata, juga merupakan salah satu cara melakukan pelestarian. Di samping itu, komponen ke empat yang harus ditambahkan, yaitu pembinaan,” pungkas Pitana.

Lihat juga...