Keluarga Hansip Meninggal Berharap KPU Kaji Kembali Pemilu Serentak

Editor: Koko Triarko

PURWOKERTO – Pelaksanaan pemilu serentak dengan lima surat suara, ternyata sangat menguras tenaga pelaksana di lapangan. Tak hanya rasa lelah atau pun sakit yang ditanggung, tetapi ada juga yang sampai harus meregang nyawa. 

Kehilangan suami tercinta, harus dialami Warsiti (53), warga Kelurahan Kober, Kecamatan Purwokerto Barat, Kabupaten Banyumas. Suaminya, Slamet (63), Hansip yang bertugas di Tempat Pemungutan Suara (TPS) 9 Kober, meninggal dunia akibat kelelahan saat bertugas.

Anak kedua korban, Ariyanto. –Foto: Hermiana E. Effendi

“Suami saya tiga hari tiga malam tidak pernah tidur di rumah, ia berangkat pagi dan pulang pagi hari berikutnya. Hanya untuk mandi dan ganti baju, kemudian berangkat lagi, begitu terus selama tiga hari sejak H-1 sampai dengan H+1 pencoblosan,” tutur Warsiti, Senin (22/4/2019).

Aktivitas yang menguras tenaga tersebut, baru dirasakan dampaknya oleh Slamet pada Minggu (21/4) pagi. Usai Salat Subuh, tidak seperti biasa, Slamet tidur kembali. Sekitar pukul 06.00 WIB, Warsiti yang merasa heran suaminya masih tertidur, lalu menghampirinya.

Ia sangat terkejut saat mendapati suaminya menggigil, kemudian mengeluhkan pusing. “Badannya panas, katanya pusing dan kemudian kejang-kejang. Saya dan anak-anak langsung membawanya ke rumah sakit terdekat,” katanya.

Namun, sekitar pukul 09.00 WIB, pihak rumah sakit merujuk Slamet ke Rumah Sakit Margono Soekardjo (RSMS) Purwokerto, untuk mendapatkan penanganan dengan peralatan yang lebih lengkap.

Anak kedua Warsiti, Ariyanto mengatakan, hanya berselang sekitar 4 jam setelah dirujuk ke RSMS, ayahnya dinyatakan meninggal dunia. Dari keterangan dokter, pembuluh darah pada otak kiri korban pecah akibat kelelahan, dan tensi darahnya juga tinggi, sampai 190.

Menurut keterangan pihak keluarga, Slamet bukan hanya kali ini saja bertugas di TPS. Ia selalu terlibat dalam kegiatan pemilu. Seperti dalam pilkada Banyumas dan Pilgub Jateng 2018, Slamet juga bertugas di TPS. Namun, ia tidak sampai jatuh sakit.

“Pemilu kali ini memang luar biasa, ada 5 surat suara yang harus dihitung, sehingga seluruh petugas PPS merasa kelelahan,” kata Ariyanto.

Ariyanto berharap, Komisi Pemilihan Umun (KPU) selaku penyelenggara atau pun pemerintah, bisa mengkaji kembali pelaksanaan pemilu serentak ini. Jika tetap dilaksanakan serentak, setidaknya harus menambah jumlah personel di TPS, sehingga tugas bisa dilaksanakan secara bergantian, dan petugas mempunyai jeda waktu untuk istirahat.

“Saya dengar korban petugas PPS yang meninggal dunia cukup banyak, semoga ini menjadi bahan evaluasi untuk pelaksanaan pemilu ke depan, sehingga tidak sampai jatuh korban lagi,” pungkasnya.

Lihat juga...