hut

Kenaikan Tarif Jasa Pengiriman Paket Ekspedisi, Hambat Pelaku UMKM

Editor: Makmun Hidayat

YOGYAKARTA — Naiknya tarif jasa pengiriman paket barang sejak beberapa waktu terakhir memberikan dampak negatif bagi perkembangan Usaha Menengah Kecil Mikro (UMKM) di berbagai daerah, khususnya yang menjual produknya secara online.

Bagaimana tidak, dalam kurun waktu beberapa bulan terakhir, kenaikan tarif jasa pengiriman paket itu bahkan terjadi hingga dua kali. Kenaikan pertama tercatat terjadi pada awal tahun 2019 sekitar bulan Januari-Februari lalu. Kenaikan ini terjadi sebagai dampak kenaikan harga tiket pesawat.

Sementara kenaikan tarif kedua terjadi pada kurun waktu Maret-April ini. Sejumlah jasa kurir ekspedisi diketahui menaikan tarif mereka mencapai sekitar 30-50 persen. Baik itu untuk jasa pengiriman paket barang yang dilakukan lewat jalur udara maupun jalur darat.

Ari (35) warga Banyon Pendowoharjo Bantul, merupakan salah satu pelaku UMKM yang merasakan dampak negatif kenaikan tarif jasa pengiriman barang tersebut. Pengrajin sofenir kipas ini, mengaku harus meyakinkan konsumennya untuk mau menanggung biaya pengiriman hingga dua kali lipat dari tarif sebelumnya.

“Saya mempromosikan produk kipas full lewat internet atau secara online. Sehingga hampir semua pelanggan berasal dari luar daerah. Mau tidak mau ya harus kirim barang lewat ekspedisi. Kalau tarifnya naik jelas kita susah, karena bisa terancam kehilangan pelanggan,” katanya Selasa (23/04/2019).

Ari menuturkan kenaikan tarif jasa pengiriman paket yang biasa ia gunakan terjadi sejak 3 bulan lalu. Tak tanggung-tanggung, kenaikan tarif pengiriman kargo via darat itu bahkan mencapai 50 persen dari tarif sebelumnya.

“Dulu kirim kipas pakai jalur darat, sekilo hanya Rp2500, tapi sekarang naik jadi Rp5000 per kilo. Itu untuk wilayah Pulau Jawa saja. Kalau kirim ke Kalimantan Utara biayanya naik jadi Rp50ribu per kilo. Ke Malaysia bahkan sampai Rp80ribu per kilo. Padahal sekali kirim paket, saya biasa sampai 30 kilo,” katanya.

Hal yang sama juga diungkapkan pelaku UMKM lainnya Dwi (27) asal Mergangsan Yogyakarta. Penjual online aksesoris HP skala rumahan ini mengaku mengeluh atas kenaikan tarif jasa pengiriman paket yang terjadi sejak awal April lalu. Kenaikan tarif jasa pengiriman paket via udara yang biasa digunakannya tercatat meningkat hingga 50-70 persen.

“Dulu kirim ke Kalimantan hanya sekitar Rp27 per kilo. Sekarang naik jadi Rp 47 per kilo. Naiknya saja sampai Rp20 ribu. Itu kan 70 persen lebih,” kesahnya.

Dwi pun mengaku tak bisa berbuat banyak atas kenaikan tarif jasa pengiriman paket tersebut. Ia hanya bisa berharap agar pelanggannya tetap mau membeli dagangannya meski harus menanggung biaya ongkos kirim lebih banyak dari sebelumnya.

“Solusinya cuma kita arahkan untuk mencari kurir yang tarifnya lebih murah. Walaupun sampainya tentu juga lebih lama. Atau kalau tidak ya kita arahkan agar pengiriman diringkas, yang biasanya dua kali seminggu menjadi sekali seminggu,” ungkapnya.

Lihat juga...