hut

Kerajinan Batu Alam Bantul Tembus Pasar Eropa

Editor: Koko Triarko

YOGYAKARTA – Bersama sejumlah karyawannya, Sudarmo, warga Banaran, Sumberagung, Jetis, Bantul, tampak sibuk memecah bongkahan batu-batu besar. Dengan telaten, mereka membentuk berbagai jenis batu alam itu menjadi aneka macam barang kebutuhan sehari-hari. 

Ada batu yang diubah menjadi barang-barang, seperti asbak, meja kursi, hingga hiasan rumah. Ada juga batu yang dimanfaatkan sebagai hiasan taman dan dinding. Bahkan, ada batu yang dibuat menjadi perlengkapan kamar mandi, seperti tempat sampo, tempat sabun, hingga wastafel.

“Semua jenis batu kita gunakan. Mulai dari batuan gunung, batu serut, batu breksi, batu onyx, batu marmer hingga batu fosil. Semua kita bentuk dan kita buat sesuai permintaan pesanan,” katanya, kepada Cendana News, Sabtu (6/4/2019).

Sudarmo, warga Banaran, Sumberagung, Jetis, Bantul, Yogyakarta -Foto: Jatmika H Kusmargana

Lelaki yang akrab disapa Mamo ini, mengakui perkembangan kerajinan batu alam saat ini semakin tumbuh pesat. Hal itu karena tumbuhnya tren penggunaan barang-barang sehari-hari dari bahan batu alam.

Selain lebih awet, barang dari batu alam memiliki nilai seni dan eksotisme tersendiri.

“Semua produk kita jual untuk kebutuhan properti. Mulai dari rumah pribadi, restoran mewah, hotel, resort, dan sebagainya,” katanya.

Dirintis sejak 2000, usaha skala rumahan lelaki asal Tulungagung, Jawa Timur ini telah mampu merambah pasar luar negeri. Mayoritas produk kerajinan buatannya selama ini bahkan dijual untuk memenuhi kebutuhan ekspor ke sejumlah negara Eropa, seperti Belgia, Belanda hingga Perancis.

“Mayoritas pasar kita memang untuk luar negri. Walaupun kita tidak menjual langsung, namun melalui pihak ketiga,” katanya.

Mamo sendiri mengaku mendatangkan berbagai bahan baku batu alam dari sejumlah wilayah di Yogyakarta dan sekitarnya. Seperti batuan kali, ia datangkan dari kawasan lereng Gunung Merapi. Batuan serut dari daerah Klaten. Batu breksi dari derah Prambanan. Batu putih dari Gunung Kidul dan batu marmer dari daerah Tulungagung.

“Untuk harga bervariasi. Tergantung ukuran dan bahan baku. Semakin besar ukuran dan semakin bagus bahan baku, harga tentu semakin tinggi. Ya, mulai dari puluhan sampai ratusan ribu,” katanya.

Tren pasar sendiri, saat ini dikatakan Mamo sedang menyukai batuan kali. Batu berwarna hitam eksotis ini banyak digunakan sebagai bahan dasar untuk membuat aneka perlengkapan kamar mandi. Khususnya di hotel-hotel maupun resort.

“Kendala lebih kepada modal. Karena dari sisi bahan baku, tenaga, maupun pasar sudah ada. Sebenarnya jika dituruti, dalam sebulan permintaan bisa mencapai ribuan unit, hanya memang modal kita yang terbatas,” pungkasnya.

Lihat juga...
error: Terimakasih Sudah Berkunjung !!