hut

Kurangi Risiko Bencana dengan Mitigasi

Editor: Mahadeva

JAKARTA – Indonesia merupakan daerah rawan bencana alam. Salah satu bencana yang berpotensi terjadi adalah gempa bumi.

Kondisi tersebut dikarenakan, posisi Indonesia berada di pertemuan dua lempeng bumi. “Lempeng yang berada diatas cairan panas ini terus bergerak dengan kecepatan yang sangat lambat. Bahkan lebih lambat dibandingkan pertumbuhan kuku manusia,” kata Operation On Duty INATEWS, Yuniarsih, di Kantor Pusat BMKG Jakarta,  Selasa (30/4/2019).

Dengan memahami kondisi geografis tersebut, akhirnya Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menginisiasi sosialisasi mitigasi bencana gempa bumi. Kegiatan tersebut menyasar warga usia muda.

“Ada tiga kondisi terkait mitigasi bencana gempa bumi ini. Yaitu, sebelum bencana gempa bumi terjadi, saat terjadinya dan setelah terjadi gempa bumi,” kata Staf Klimatologi, Susi, di depan peserta Jambore Iklim.

Sebelum bencana terjadi, BMKG meminta agar masyarakat bisa memahami kondisi lingkungan sekitarnya. “Lingkungan disini, maksudnya adalah rumah kita, tempat kerja kita, atau sekolah kita. Kita memahami, kemana harus berkumpul saat terjadi gempa. Dimana harus berlindung. Atau kalau dirumah, pastikan penyusunan barang-barang tidak akan meningkatkan risiko cedera saat terjadi gempa bumi,” papar Susi.

Jangan lupa untuk mempersiapkan tas siaga, yang berisi perlengkapan pribadi, obat-obatan, nomor telpon penting, senter, jaket, cadangan makanan dan minuman.  “Di era elektronik seperti sekarang, bisa juga mempersiapkan cadangan power bank. Atau bisa ditambahkan sendal atau sepatu yang nyaman jika memang harus berlari,” papar Susi.

Melakukan pelatihan seragam reguler, akan mengurangi risiko jatuhnya korban jiwa. “Saat terjadi gempa, yang pertama harus dilakukan adalah melindungi kepala dan leher. Jika tidak ada benda yang bisa digunakan untuk melindungi,  bisa juga dengan tangan,” kata Susi sambil mencontohkan cara menutupi kepala dan leher dengan kedua tangan dan merunduk kepada para peserta Jambore Iklim.

Selanjutnya,  mencari posisi berlindung yang aman. Yaitu dibawah meja atau kursi dan menjauh dari kaca. “Jika sedang berada di dalam mobil, keluar dari mobil. Upayakan untuk berlari ke lapangan terbuka dan hindari jalan yang merekah,” jelasnya.

Usai gempa, sesegera mungkin mencari tempat yang lebih aman atau berkumpul di lapangan terbuka. “Perhatikan sekitar. Jika ada yang luka, coba upayakan pengobatan sederhana atau berkoordinasi dengan tim medis. Begitu pula jika ada gas yang bocor atau kebakaran. Jika memang gempa yang terjadi tidak merusak saluran komunikasi, sebaiknya langsung mengabarkan kepada keluarga, agar mereka tahu bahwa kondisi kita aman,” ujar Susi lebih lanjut.

Lihat juga...