hut

Masa Tenang, Warga Lamsel Manfaatkan Limbah APK

Editor: Satmoko Budi Santoso

LAMPUNG – Warga Lampung Selatan (Lamsel) memilih memanfaatkan limbah bekas pemasangan Alat Peraga Kampanye (APK), usai dibersihkan oleh personel gabungan.

Rusdi, salah satu warga Desa Pasuruan, Kecamatan Penengahan, mengaku, memanfaatkan kayu bekas tempat memasang APK kepada petugas gabungan. Kayu bekas kerangka pemasangan baliho calon legislatif (caleg) di tepi Jalinsum tersebut akan dibuat menjadi kandang ayam serta pagar.

Rusdi, salah satu warga Desa Pasuruan mengumpulkan kayu penyangga banner alat peraga kampanye dari kayu sengon untuk bahan pembuatan kandang ayam – Foto: Henk Widi

Rusdi menyebut, sejak dua hari terakhir sejumlah APK dibersihkan oleh simpatisan partai politik sebagian oleh petugas. Sejumlah APK yang dipasang diakuinya mempergunakan kerangka kayu yang dipaku di papan, tiang bambu.

Usai masa kampanye berakhir ia menyebut, limbah APK tersebut sebagian masih dibiarkan di tempat pemasangan karena baliho sudah dilepas. Sejumlah kain spanduk yang mulai usang bahkan dimanfaatkan oleh Rusdi dan warga lain untuk penutup kandang ayam.

Berbeda dengan Rusdi, warga lain bernama Nurjanah mengaku, meminta petugas meninggalkan kayu dan bambu bekas pemasangan APK.

Kayu dan bambu tersebut diakuinya bisa dimanfaatkan untuk pembuatan jemuran pakaian dan lap di warung makan tepi Jalan Lintas Sumatera miliknya.

Nurjanah menyebut, pembersihan APK dengan meninggalkan limbah kayu, kain, bambu tersebut sebagian menguntungkan warga. Pasalnya limbah berupa kayu dan bambu bisa dipergunakan untuk tiang jemuran.

Nurjanah, memanfaatkan kayu bekas pemasangan APK untuk jemuran baju – Foto: Henk Widi

“Personel gabungan untuk pembersihan alat peraga kampanye hanya mencopot spanduk, banner dan mencatatnya sehingga warga bisa memanfaatkan limbah kayu serta bambu untuk kandang ayam. Jemuran atau kayu bakar setelah meminta kepada petugas,” terang Nurjanah, salah satu warga Penengahan, saat ditemui Cendana News, Senin (15/4/2019).

Nurjanah juga menyebut, pembersihan APK menguntungkan bagi warga dan sejumlah pelaku usaha. Pasalnya, sejumlah APK berukuran besar seperti baliho yang dipasang di sepanjang Jalinsum kerap mengganggu pemandangan.

Pemilik warung makan di wilayah tersebut yang memiliki plang nama bahkan harus tertutup oleh sejumlah baliho. Memasuki masa tenang jelang pemungutan suara ia mengaku, kondisi sepanjang Jalinsum juga terlihat lebih bersih dari sampah visual.

Sumadi, ketua Badan Pengawas Pemilu Kecamatan Penengahan, menyebut, hari terakhir pembersihan sejumlah APK personel gabungan dikerahkan.

Personel yang dilibatkan diantaranya puluhan anggota Bawaslu kecamatan Penengahan, personel satuan polisi pamong praja (Satpol PP) Kecamatan Penengahan. Pembersihan APK disebutnya sudah disosialisasikan kepada peserta Pemilu sehingga sebagian sudah dibersihkan sebelum masa tenang.

“Personel gabungan hanya melakukan penyisiran karena masih ada sebagian APK yang terpasang di tepi Jalinsum. Petugas mencatat dan membawa ke sekretariat Bawaslu seluruh APK yang dibersihkan,” beber Sumadi.

Ratusan APK yang dikumpulkan disebut Sumadi, dominan merupakan baliho, spanduk, stiker serta bendera. Sejumlah kayu dan bambu yang dipergunakan untuk memasang alat peraga kampanye disebutnya dibersihkan oleh warga yang berniat memanfaatkan untuk sejumlah keperluan.

Pembersihan oleh warga tersebut diakuinya sekaligus ikut membantu petugas gabungan menjaga masa tenang sebelum pemungutan suara agar tidak ada APK yang berada di tempat umum.

Pembersihan APK saat masa tenang disebut Sumadi, dilakukan sesuai amanat dari Peraturan Komisi Pemilihan Umum (KPU) Nomor 23 Tahun 2018.

Berdasarkan aturan KPU Nomor 23 Tahun 2018 pasal 34 ayat 8 APK harus diturunkan peserta Pemilu paling lambat satu hari sebelum hari pemungutan suara. Koordinasi dengan petugas di tingkat desa juga dilakukan untuk membersihkan atribut partai politik, spanduk, baliho, banner caleg hingga capres dan cawapres.

Selain fokus pada pembersihan APK, Bawaslu diakui Sumadi, juga mulai melakukan pengawasan terkait praktik politik uang. Ia menyebut, telah berkoordinasi dengan seluruh anggota Bawaslu kecamatan untuk meminimalisir praktik politik uang.

Ia juga mengimbau kepada masyarakat untuk melaporkan temuan adanya praktik politik uang jelang hari pemungutan suara. Sebab praktik politik uang yang kerap dikenal dengan “serangan fajar” berpotensi terjadi pada masa tenang sebelum pemungutan suara pada Rabu (17/4/2019).

Sejumlah cara disebut Sumadi, dilakukan untuk melakukan pengawasan politik uang. Sebab saat masa tenang, indikasi kecurangan bisa terjadi melalui berbagai cara dengan pemberian uang maupun barang dengan tujuan untuk memilih calon tertentu.

Ia juga meminta peran aktif masyarakat dan media untuk melaporkan adanya indikasi praktik politik uang dengan tujuan menjurus seruan atau ajakan memilih calon tertentu. Koordinasi dengan kepolisian juga dilakukan untuk menindak praktik politik uang dengan tujuan menyuap.

Lihat juga...