Masa Trek, Produksi TBS di Lampung Turun

Editor: Mahadeva

LAMPUNG – Produksi Tandan Buah Segar (TPS) Sawit di Lampung turun. Siklus trek pada tanaman kelapa sawit, berimbas pada penurunan produksi.

Joni (40), pemilik kebun sawit di Desa Labuhan Ratu, Kecamatan Pasir Sakti, Lampung Timur menyebut, trek merupakan musim dimana tanaman sawit tidak berproduksi maksimal. Kondisi tersebut diakibatkan, kondisi iklim terutama cuaca yang tidak menentu.

Saat memasuki masa pembungaan buah sawit pasokan air hujan kurang maksimal. Meski telah dilakukan pemupukan, hasil TBS atau brondolan menurun. Dari 1.000 batang tanaman kelapa sawit di lahan seluas dua hektare, hanya menghasilkan TBS satu ton.

Sementara di kondisi normal, sekali panen petani bisa mendapatkan lebih dari empat ton. Meski memasuki masa trek, proses pemanenan TBS tetap dilakukan. Pemanenan dengan alat yang disebut dodos, sekaligus dijadikan sarana pembersihan pelepah serta area perkebunan sawit.

Hasan (kiri) dan Joni (kanan) mengumpulkan panen kelapa sawit dari hasil kebun miliknya – Foto Henk Widi

Joni menyebut, jumlah produksi yang menurun berimbas pada harga jual. Harga TBS sawit sebelumnya mencapai Rp1.800 perkilogram. Saat ini, hanya harga Rp1.000 perkilogram. “Imbas trek yang diakibatkan oleh perubahan cuaca sangat terasa pengaruhnya. Produksi tandan buah segar serta harga yang juga menurun, membuat penghasilan pekebun sawit berkurang,” ungkap Joni kepada Cendana News, Rabu (24/4/2019).

Pekebun lain, Hasan, mengamini informasi penurunan produksi sawit. Masa trek disebutnya, berakibat tanaman kelapa sawit tidak berbuah normal. Dan itu terjadi di satu hamparan tanaman sawit hanya berbuah sedikit. Pada kondisi normal, Hasan bisa mendapatkan dua ton TBS sawit. Saat ini produksi hanya sekira sembilan kuintal. “Meski mengalami penurunan hasil, tetapi masih ada TBS sawit yang berpotensi sebagai sumber penghasilan bulanan,” beber Hasan.

Hasan dan petani pekebun sawit lain menyebut, menanam sawit masih menjadi investasi yang menjanjikan. Sebagian tanaman yang sudah berusia lebih dari delapan tahun, menjadi salah satu sumber pendapatan rutin bulanan.

Meski demikian, saat musim trek yang menjadi masa paceklik, petani melakukan upaya penyiraman dan pemberian pupuk. Penyiraman dilakukan menggunakan mesin pompa dengan mengambil air di Sungai Way Sekampung.

Pengepul TBS sawit, Daseng, menyebut, pada masa trek Dia harus mengumpulkan sawit dari pekebun di wilayah Lampung Selatan dan Lampung Timur. Hal itu untuk memenuhi kuota yang dibebankan pabrik kepadanya. Untuk setor ke pabrik pengolahan, Dia harus membawa sekira delapan ton sawit sekali kirim. Pengiriman ke pabrik pengolah Crude Palm Oil (CPO) di Lampung Tengah.

Daseng menyebut, permintaan sawit akan semakin meningkat untuk kebutuhan hari raya Idul Fitri. CPO yang diolah menjadi minyak goreng, kebutuhannya akan semakin meningkat untuk Ramadan dan hari raya Idul Fitri. Sebagai pengepul, Daseng berharap harga TBS sawit bisa naik di kisaran Rp2.500 perkilogram. Diasumsikan upah bongkar muat mencapai Rp500 perkilogram, petani masih bisa mendapat keuntungan Rp2.000 perkilogram.

Belum memperhitungkan biaya operasional untuk perawatan serta pemupukan. Dengan demikian harga Rp2.500 pada dasarnya masih belum menguntungkan. Meski demikian, pekebun masih menjadikan tanaman tersebut sebagai tumpuan untuk penghasilan rutin setiap dua pekan sekali.

Lihat juga...