hut

Masyarakat Tradisional Kupang Gunakan Astronomi

Editor: Koko Triarko

JAKARTA – Astronomi bukanlah sesuatu hal yang baru bagi masyarakat Indonesia. Bahkan, masyarakat tradisional di Kupang, ternyata tidak asing dengan astronomi. Mereka telah mempergunakan bintang-bintang sebagai penanda waktu dalam kegiatan sehari-hari. 

Staf Planetarium Jakarta, Widya Sawitar, menceritakan, bahwa salah satu mata pencaharian masyarakat di sekitar Gunung Timau, yang merupakan lokasi dari Observatorium Timau, adalah memanen madu. Mereka memanen madu yang dihasilkan oleh jenis lebah hutan Apis dorsata yang hidup di hutan-hutan sekitar.

Staf Senior Planetarium Jakarta, Widya Sawitar –Foto: Ranny Supusepa

“Satu hal yang menarik adalah gugus bintang pleiades dipakai para pemanen madu. Dengan berpanduan pada pleiades, mereka bisa menentukan kapan madu hutan boleh dipanen,” kata Widya, saat ditemui di Planetarium Jakarta, Rabu (10/4/2019).

Widya menjelaskan, bahwa masyarakat akan memanen madu saat pleiades terbit di timur. Yaitu, sekitar saat ternak masuk kandang, pada pukul 06.00 sore.

“Selain itu, dalam kegiatan menggarap lahan pertanian, mereka juga menggunakan posisi bintang untuk menentukan waktu mulai menggarap sawah. Masyarakat ini hanya mengandalkan hujan sebagai sumber air untuk mengairi sawah mereka,” ujar Widya.

Masa awal cocok tanam ditandai dengan terbitnya empat bintang yang mereka sebut sebagai Kuaha’in, yang menurut penelitian adalah bintang Capella, Betelgeuse, Sirius dan Procyon.

“Di samping Kuaha’in, ada juga Nua’in, yang diduga adalah bintang Aldebaran dan Rigel. Kedua bintang ini dipakai, manakala terbitnya Kuaha’in tidak disusul dengan turunnya hujan,” ucap Widya.

Widya menyebutkan, bahwa masyarakat di daerah Gunung Timau juga menggunakan Konstelasi Orion sebagai pedoman awal bercocok tanam.

“Tiga bintang di sabuk orientasi, yaitu Mintaka, Alnita dan Alnilam diberi nama Aloi Tua. Mereka menggambarkannya sebagai dua orang yang sedang menggotong guci berisi sopi. Terbitnya ketiga bintang ini di timur jelang Matahari terbit, menandai awal musim tanam mereka,” ucap Widya.

Langit di Timau, menurut Widya, masih sangat bersih dan terang. Selain karena memang secara iklim, musim hujannya tidak terlalu panjang, juga karena belum banyak polusi cahaya.

“Ini adalah salah satu alasan, kenapa observatorium baru dibangun di Timau. Karena secara historis, memang cocok dan didukung juga oleh kondisi lingkungannya,” pungkas Widya.

Lihat juga...