hut

Memahami Peluang Hidup Setiap Tingkatan Kanker Serviks

Editor: Satmoko Budi Santoso

JAKARTA – Kanker Serviks merupakan salah satu jenis kanker yang paling banyak menimbulkan kematian pada wanita setelah kanker payudara. Menurut data Kementerian Kesehatan, ada sekitar 15 ribu kasus per tahun yang terjadi di Indonesia.

Anggota Yayasan Kanker Indonesia (YKI) dr. Venita Eng, M.Sc memaparkan bahwa serviks adalah salah satu bagian di bawah rahim yang terhubung ke vagina.

“Kanker ini tumbuh di sel-sel leher rahim. Banyak yang tidak mengetahui keberadaan kanker ini sejak dini, karena memang tidak ada gejala. Dan lokasinya juga tidak terlihat. Baru saat dilakukan tes, ketahuan ada atau tidak,” kata Venita, saat ditemui di salah satu acara sosialisasi kanker serviks di Jakarta, Minggu (28/4/2019).

Venita menjelaskan bahwa ada dua jenis kanker serviks. Yaitu Karsinoma Sel Skuamosa (KSS) dan Adenokarsinoma.

“KSS ini yang paling sering terjadi. Kanker diawali pada sel Skuamosa, yaitu sel yang melapisi bagian luar leher rahim. Satu lagi, Adenokarsinoma yaitu yang berawal dari sel kelenjar di saluran leher rahim,” papar Venita.

Untuk beberapa kasus, walaupun sangat jarang terjadi, Venita menyebutkan mungkin saja dua jenis kanker ini terjadi dalam satu kasus.

Seperti halnya, jenis kanker yang lain, Kanker Serviks juga memiliki 4 stadium yang didasarkan pada luasnya penyebaran sel kanker.

“Saat Stadium 1, sel kanker baru ada di permukaan leher rahim saja. Belum menyebar ke luar rahim. Ukurannya sekitar 4 cm,” ujar Venita lebih lanjut.

Pada saat sel kanker sudah menyebar ke rahim tapi belum menyebar ke bagian bawah vagina atau dinding panggul, Venita menyebutkan sudah masuk ke stadium 2.

“Pada stadium 2 ini, ada kemungkinan kanker sudah menyebar ke kelenjar getah bening. Namun belum menyerang ke organ sekitarnya. Ukurannya sudah bisa lebih dari 4 cm,” katanya.

Di stadium 3, penyebaran sel kanker sudah sampai ke bagian bawah vagina dan menekan saluran kemih.

“Kalau sudah menyebar ke organ lain, bahkan hingga hati, paru-paru bahkan tulang, artinya penderita sudah memasuki stadium 4. Dan ini menyebabkan peluang hidup juga semakin kecil,” ujar Venita.

Dari hasil pendataan, jika terdeteksi pada stadium 1, maka peluang hidup hanya 80-93 persen. Dan di stadium 2, menurun hingga 58-63 persen.

“Pada stadium tiga, angkanya akan menurun hingga 30-an persen. Dan di stadium empat hanya tinggal 15 persen,” ucap Venita.

Selain penurunan peluang hidup, biaya yang dibutuhkan untuk mengobati penyakit kanker serviks cukup mahal. Karena itu Venita sangat menekankan pendeteksian dini dan vaksinasi.

“Seperti yang sudah saya sampaikan berulang kali di setiap acara sosialisasi, kanker serviks ini bisa dicegah dengan vaksinasi. Jadi jangan anggap remeh memeriksakan sejak dini dan melakukan vaksinasi. Toh, mencegah itu lebih baik daripada mengobati,” pungkasnya.

Lihat juga...