Menenun, Ukuran Martabat Wanita Flores Timur

Editor: Mahadeva

LARANTUKA – Menenun kain bagi perempuan di Flores Timur, utamanya etnis Lamaholot, dahulunya merupakan sebuah kemahiran yang dibanggakan.

Silvester Petara Hurit salah seorang pelaku seni budaya di kabupaten Flores Timur. Foto : Ebed de Rosary

Seorang perempuan yang terampil menenun kain hingga menjadi sarung, akan memiliki kebanggaan tersendiri. “Menenun menjadi kekuatan keterampilan yang telah diwariskan semenjak dahulu kala oleh nenek moyang kita. Keterampilan menenun di masa lalu menjadi ukuran martabat seorang wanita Flores Timur,” sebut Silvester Petara Hurit, Kurator Festival Bale Nagi, Rabu (24/4/2019).

Sil, sapaan akrabnya menuturkan, masyarakat Lamaholot harus bangga dengan kain tenun ikat. Kekuatan tenun ikat Flores Timur sudah teruji semenjak dahulu kala, dan hangat dibicarakan di dunia internasional.

“Hal ini dapat dibuktikan dengan lukisan patung Sang Penenun, asal Kecamatan Ilebura, yang kini berada di Gallery Nasional Australia,” ujar pelaku seni budaya Flores Timur tersebut.

Patung Sang Penenun tersebut, menjadi sebuah lukisan dahsyat dan hebat, karena mengisahkan seorang wanita sedang menenun sambil menyusui anak. Sangat menggugah hati semua yang melihatnya, betapa mulianya, hati seorang wanita Lamaholot Flores Timur.

“Ini adalah gerakan budaya, sebuah undangan untuk semua orang Flores Timur di tanah rantau untuk pulang. Nama festival ini Bale Nagi, artinya pulang kampung. Panggilan kepada segenap warga Flores Timur,” terangnya.

Untuk itu himbau Sil mengajak masyarakat untuk menggali dan menjaga, serta mempertahankan kekayaan nilai budaya Lamaholot. “Ini untuk anak cucu kita nanti. Mari kita mewariskan tradisi menenun ini untuk generasi yang akan datang,” tandasnya.

Ibu Rasi, penenun wanita asal Sukutokan, Kecamatan Klubagolit, Pulau Adonara mengaku bergembira ketika kelompok tenun Tane Tuan, diundang menghadiri festival yang spektakuler tersebut. Tentunya menjadi kehormatan tersendiri bagi kelompok tenunnya tersebut, bisa ikut berpartisipasi.

“Usia tidak menjadi penghalang, jika kita tetap semangat dan disiplin serta fokus untuk menenun. Ini harus menjadi perhatian dan bekal khusus kaum milenial, yang akan menjadi penerus tenun ikat Lamaholot,” ujarnya.

Kelompok Tane Tuan, didirikan sejak 2013 silam. Saat ini kelompok tersebut sudah berkembang pesat. Hal itu dapat dilihat dengan membaiknya ekonomi keluarga dari anggota kelompok tenun tersebut. “Hampir separuh, bahkan seluruh biaya anak sekolah anggota kelompok, didapat dari hasil karya tenun ikat. Tidak sedikit juga yang bisa menjadi sarjana dari hasil karya tenun ikat,” tuturnya bangga.

Kondisi tersebut, menjadi sebuah hasil yang luar biasa, dan patut menjadi teladan bagi kelompok tenun lain di Flores Timur. Tentunya hal itu tidak terlepas dari campur tangan Pemda Flores Timur, yang membantu peralatan tenun dan mesin jahit.

Acara juga dimeriahkan oleh Terada Band dan musik kampung dari masing-masing kelompok penenun, yang berasal dari Lewo atau kampung di setiap kecamatan. Peserta tenun massal berasal dari kelompok tenun maupun perseorangan, yang selama ini beraktivitas sebagai penenun di rumah.

Festival tenun ikat juga dipertunjukan fashion show dari Oa Pariwisata kaum milenial. Tujuannya untuk memperkenalkan sarung tenun dengan beragam motif etnis Lamaholot.

Lihat juga...