Mengenal Tanaman Legenda Indonesia, Cengkih

Editor: Mahadeva

Bunga cengkeh dan tanaman cengkeh koleksi Blok D Taman Buah Mekarsari - Foto Ranny Supusepa

JAKARTA – Salah satu komoditas rempah Indonesia yang memiliki nilai historis adalah cengkih. Tanaman yang sering menjadi bahan campuran pembuatan makanan dan minuman tersebut, memang mempunyai banyak cerita.

Supervisor Pengembangan Hasil Penelitian dan Landscape Gardener Taman Buah Mekarsari, Junaedi, menyebut, cengkih yang diperdagangkan oleh masyarakat adalah bunga cengkih yang sudah berwarna kecoklatan. “Tanaman cengkih atau yang bernama latin Syzigium aromaticum, masuk dalam family Myrtaceae. Perdebatan mengenai asalnya belum jelas tapi pohon cengkih tertua itu ada di Maluku,” kata Junaedi, Selasa (30/4/2019).

Menurut data, penyebaran cengkih keluar Maluku pertama kali terjadi di 1769. Saat itu dibawa ke Rumania, Zanzibar dan Madagaskar. Sementara penyebaran ke area Jawa, Sumatera dan Kalimantan, baru terjadi di 1870-an.

Cengkih termasuk tanaman perdu berbatang besar dan berkayu keras. “Tinggi pohon ini bisa mencapai 20 sampai 30 meter. Dan cabang-cabangnya termasuk lebat,” urai Junaedi.

Daunnya tunggal dan kaku, bertangkai, berbentuk lanset memanjang dengan ujung yang runcing. Tepian daun rata, tulang daun menyirip dengan lapisan bagian atas yang mengkilap. “Panjang daunnya antara enam hingga 13,5 sentimeter (cm) dan lebar 2,5 hingga lima cm.

Saat muda, daun berwarna hijau muda atau cokelat muda. Kalau sudah tua, akan berubah menjadi hijau tua. Bunga dan buah cengkih muncul di ujung ranting dengan tangkai pendek serta bertandan. “Warna bunga cengkih muda keungu-unguan, nanti akan berubah menjadi kuning kehijauan dan saat tua akhirnya menjadi merah. Saat kering, bunga cengkih berwarna cokelat kehitaman dan jika digigit akan berasa pedas. Rasa ini muncul karena kandungan minyak atsiri,” papar Junaedi.

Tanaman cengkih tumbuh baik di dataran antara 600 hingga 1.100 meter dari permukaan laut (mdpl). Tanaman tersebut dapat dikembangbiakan baik secara generatif maupun vegetatif. “Kalau generatif, perkembangbiakan menggunakan biji. Jika menggunakan sistem ini, maka akan ada kemungkinan anakan cengkeh akan memiliki produksi bunga yang berlainan,” ujar Junaedi.

Untuk menghasilkan anakan cengkeh yang seragam dalam hal produksi bunga, maka dilakukan pengembangbiakan vegetatif. “Perbanyakan vegetatif dapat dilakukan melalui stek, kultur jaringan, grafting dan cangkok,” ucap Junaedi.

Saat ini pengguna cengkeh yang terbesar adalah sebagai campuran pembuatan rokok. Selain itu, cengkeh juga digunakan sebagai bumbu masakan maupun bahan baku obat.

Lihat juga...