Menjaga Bumi dengan Membersihkan Sampah di Pantai

Editor: Koko Triarko

LAMPUNG – Sampah plastik yang dibuang secara sengaja atau tidak sengaja di aliran sungai, sebagian terdampar di pantai Mutiara Baru, Desa Karya Makmur, Kecamatan Labuhan Maringgai, Lampung Timur (Lamtim).

Didit Widyanto (28), penggiat Mangrove di pantai Mutiara Baru, menyebut cara langsung menjaga bumi dengan mengurangi sampah plastik. Pengurangan sampah plastik dilakukan oleh Didit Widyanto dan sejumlah pemerhati lingkungan di pesisir Lamtim, dengan rutin membersihkan sampah.

Didit Widyanto, Pegiat mangrove dan pemerhati lingkungan di pantai Mutiara Baru, Desa Karya Makmur, Labuhan Maringgai, Lampung Timur -Foto: Didit Widyanto

Ia menyebut, kondisi bumi terus sakit dengan adanya sampah, khususnya di wilayah pesisir. Sampah plastik yang tidak bisa terurai berimbas tercemar dan terganggunya lingkungan pantai Mutiara Baru.

Didit Widyanto menyebut, sampah plastik umumnya bukan berasal dari wilayah setempat, melainkan dari wilayah lain. Sampah yang terbawa dari sejumlah aliran sungai di wilayah Lamtim, Lamsel, terbawa arus laut dan terdampar di tepi pantai.

Selain merusak estetika, sampah plastik ikut merusak ekosistem kawasan pesisir yang menjadi habitat beragam biota perairan dan mangrove di pesisir.

Tergerak untuk menjaga kebersihan bumi, Didit Widyanto memilih mendedikasikan diri untuk rutin membersihkan sampah di pesisir pantai tersebut.

“Bersama dengan sejumlah warga lain yang memiliki kepedulian akan keberlangsungan ekosistem, kami rutin membersihkan sampah serta melakukan rehabilitasi pesisir pantai dengan menanam mangrove, serta beberapa pohon yang memiliki habitat di tepi pantai,” terang Didit Widyanto, Senin (22/4/2019).

Sebagai pemuda yang lahir dan dibesarkan di Desa Karya Makmur, ia mengaku mendengar cerita dari sang ayah, Misniadi, bahwa pada era 1975 kawasan tersebut masih merupakan hutan lebat. Ekosistem yang masih terjaga, membuat kawasan tersebut menjadi habitat berbagai satwa liar, termasuk gajah. Seiring dengan perkembangan zaman, kondisi terus berubah dan mengakibatkan abrasi pantai akibat penebangan mangrove.

Kerusakan wilayah pantai Mutiara Baru, bahkan terjadi secara masif akibat aktivitas manusia, termasuk pembukaan tambak. Meski demikian, ia memastikan saat ini kesadaran masyarakat untuk kembali memulihkan ekosistem terus dilakukan, dengan penanaman pohon sekaligus membersihkan sampah. Kegiatan membersihkan sampah berupa plastik, kaleng, ranting dan batang kayu, terus dilakukan setiap hari.

“Saya sempat dikira gila karena terus berkutat untuk membersihkan sampah. Namun, saya memiliki panggilan untuk mengembalikan kawasan ini kembali lestari,” beber Didit Widyanto.

Menyemangati Hari Bumi, Didit Widyanto menyebut kegiatan menyelamatkan bumi bisa dilakukan dengan hal sederhana. Sejumlah sampah plastik yang volumenya meningkat, mulai menjadi tempat hidup biota pesisir pantai.

Salah satu hewan yang sejatinya hidup di batu karang, kayu lapuk bahkan harus menempel di sampah plastik. Biota laut jenis teritip yang merupakan atropoda, anggota Subfilum Crustaceae tersebut bahkan menempel di plastik bekas makanan.

Teritip rentan menempel pada objek apa saja yang ditemui di permukaan dangkal, seperti plastik dan kayu. Menempelnya Teritip pada plastik, menjadi indikator volume plastik yang terus bertambah. Sampah plastik yang tidak seharusnya menjadi tempat menempel biota laut tersebut, bahkan terpaksa menempel karena rusaknya ekosistem alami di pantai Mutiara Baru.

Didit Widyanto menyebut, isu paling masif untuk menjaga bumi, salah satunya mengurangi pemakaian plastik sekali pakai. Ia berharap, masyarakat tidak lagi sembarangan membuang plastik di sungai yang bisa terbawa ke laut dan menepi di pantai.

Bersama sejumlah relawan, pegiat lingkungan Didit Widyanto kerap berbekal karung, gerobak dorong melakukan pengumpulan sampah. Sampah tersebut selanjutnya dikumpulkan, untuk dimusnahkan dengan harapan bisa membersihkan area pantai Mutiara Baru.

“Dalam sepekan, tidak terhitung berapa puluh kuintal sampah dominan sampah plastik kami bersihkan, kumpulkan untuk membersihkan pantai Mutiara Baru,”cetus Didit Widyanto.

Tren penambahan sampah di pantai Mutiara Baru dan sejumlah pantai di pesisir timur, diakuinya bisa dicegah jika masyarakat tidak membuang sampah sembarangan.

Ia menegaskan., menjaga bumi bisa dilakukan dengan hal-hal sederhana melalui penggunaan barang yang bisa digunakan lagi. Sebab, selama ini sejumlah produk makanan kerap dijual dengan sistem sekali pakai dan kemasan dibuang menjadi sampah tidak terurai.

Sampah plastik yang merusak bumi, menjadi tempat hidup teritip, bukti kerusakan bumi akibat plastik harus segera dikurangi.

Lihat juga...