Menyorot Dampak Lingkungan Pembangunan NYIA

Editor: Koko Triarko

YOGYAKARTA – Masifnya pembangunan di sebuah daerah, selalu akan menimbulkan dampak tersendiri di sekitarnya. Hal ini pula yang terjadi di sekitar lokasi pembangunan bandara baru New Yogyakarta Internasional Airport (NYIA) Kulon Progo Yogyakarta.

Menjelang beroperasinya bandara baru Kulon Progo yang begitu megah, ternyata masih banyak pekerjaan rumah yang harus dibenahi, untuk mengantisipasi dampak negatif yang muncul. Salah satunya adalah dampak kerusakan lingkungan yang juga masif terjadi di sekitar lokasi tersebut.

Kebutuhan tanah uruk yang begitu besar, membuat sejumlah kawasan perbukitan di Kulon Progo harus dieksploitasi. Dua wilayah, yakni Kokap dan Pengasih, menjadi tempat yang paling banyak muncul tambang galian. Selain mengakibatkan rusaknya sejumlah infrastruktur jalan, banyaknya lokasi penambangan itu juga berpotensi merusak lingkungan.

Gimin, warga Dusun Grindang bekerja sebagai tenaga pengatur lalu lintas keluar masuk truk pengangkut dari lokasi penambangan -Foto: Jatmika H Kusmargana

Sayangnya, tak sedikit warga kurang memahami dampak kerusakan lingkungan yang bisa muncul akibat eksploitasi secara besar-besaran tersebut. Hal itu karena warga lebih tergiur dengan potensi ekonomi yang bisa mereka dapatkan, dengan adanya keberadaan lokasi penambangan itu.

Seperti terlihat di kawasan Desa Hargorejo, Kokap, Kulon Progo. Di desa yang terletak di sebelah utara lokasi pembangunan bandara baru ini, banyak sekali muncul lokasi penambangan. Setiap hari selama berbulan-bulan, ratusan truk hilir-mudik mengangkut tanah galian hingga ke pelosok-pelosok dusun, untuk kebutuhan pembangunan bandara baru.

Salah satu lokasi penambangan yang terbilang baru terdapat di Dusun Grindang. Di lokasi ini, sebuah bukit cukup besar dikeruk dan diratakan untuk diambil tanahnya. Meski telah mengantongi izin, baik dari pemerintah desa, maupun kabupaten, namun nyatanya keberadaan lokasi penambangan ini masih menimbulkan pro-kontra di tengah masyarakat.

Sebagian warga mengaku menyambut baik keberdaan penambangan ini, karena mampu memberikan penghasilan maupun membuka lapangan pekerjaan. Namun sebagian warga lain mengaku menolak, karena menilai hasil dari sisi ekonomi yang mereka dapatkan tak sebanding dengan kerusakan yang ditimbulkan.

Gimin merupakan salah seorang warga yang menyambut baik keberadaan lokasi penambangan di dusunnya. Ia menilai, sejak adanya lokasi penambangan tiga bulan terakhir, puluhan warga di dusunnya kini bisa memiliki pekerjaan dengan hasil yang berlipat dari biasanya.

“Tanah bukit ini dimiliki oleh sekitar 7 orang warga. Sebagai pemilik, mereka jelas mendapatkan penghasilan dari hasil menjual tanah. Satu rit itu dapat Rp20 ribu. Sementara puluhan warga dusun lainnya juga mendapat penghasilan dengan ikut bekerja,” ujarnya.

Mulai dari menjadi pengatur lalu-lintas truk, menjadi tukang pendata keluar-masuk truk, pendata batas tanah yang diambil, tenaga pemasang terpal, tenaga perbaikan jalan, tenaga jaga malam dan sebagainya.

Sejumlah warga, termasuk Gimin, mengaku mendapat upah harian sebesar Rp80 ribu dari perusahaan penambang. Jumlah itu terbilang jauh lebih tinggi jika dibandingkan dengan penghasilanan yang mereka dapatkan selama ini, yakni sebagai petani atau tenaga buruh serabutan.

“Warga yang tidak ikut bekerja di sini juga tetap mendapat uang ganti rugi. Ada 44 kepala keluarga di dusun ini yang mendapat uang ganti rugi kesehatan, karena truk yang lewat membawa material debu. Pihak perusahaan juga memberikan dana pemasukan untuk kas RT maupun dusun,” ungkapnya.

Sementara itu, warga lainnya yang enggan disebutkan namanya, menilai pendapatan ekonomi yang diperoleh warga sebenarnya tak sebanding dengan kerusakan lingkungan yang ditimbulkan di lokasi penambangan.

Selain mengakibatkan kerusakan jalan dusun dan polusi debu yang tidak baik untuk kesehatan, adanya penambangan suatu ketika berpotensi mengakibatkan longsor.

“Yang jelas, jalan jadi rusak parah. Walaupun ada perbaikan, tapi tetap tidak nyaman untuk dilewati warga. Belum lagi soal kesehatan. Juga lingkungan yang jadi rusak. Terus terang, kita khawatir suatu saat adanya penambahan ini akan bisa menimbulkan banjir atau longsor. Ya, walaupun mungkin tidak sekarang, tapi nanti suatu saat nanti. Karena di sini penambangan tidak hanya di satu lokasi saja,” katanya.

Karena itu, sebagai warga, ia berharap agar pemerintah terkait benar-benar mengantisipasi hal ini. Yakni, dengan membatasi kegiatan eksploitasi lingkungan dan aktivitas penambangan, agar tidak sampai melampaui batas.

“Termasuk juga melakukan tindakan penanganan, misalnya konservasi kawasan-kawasan bekas lokasi tambang, agar bisa kembali pulih seperti sedia kala,” pungkasnya.

Lihat juga...