Nenek Tahang

CERPEN JELSYAH DAULENG

BEBERAPA kali, seorang wanita yang kuceritakan ini, punya nama yang berubah. Semenjak tiga kakaknya meninggal dan akhirnya hanya ia yang bertahan. Maka namanya pun menjadi Tahang.

Aku bahkan tidak tahu kapan tepatnya ia lahir. Tapi kudengar, saat ia masih bisa dengan bebas keluar rumah tanpa mengenakan sehelai kain di tubuhnya, nama Nippon terdengar. Sepertinya hanya kampungnya saja yang masih tak mengenal kata baju dan celana.

Saat penjajahan Jepang, ia menjadi pengamat yang hebat. Ia harus mengawasi adik-adiknya agar tak nampak di masa orang-orang yang bisa menjarah harta dan bahkan kehormatan. Jauh sebelum Tahang menjadi nenek, bagiku ia seorang penggembara, seorang wanita kuat, dan tak pantang menyerah.

Ia menjadi ibu dari adik-adiknya, setelah ayah dan ibu tirinya meninggalkannya untuk menjadi semakin kuat. Semua saudaranya menyayanginya.

Nama Tahang terkenal di seluruh penjuru kampung. Ia penunggang kuda yang baik. Bahkan meski ia pernah terseret kuda, orang-orang masih mengatainya wanita yang hebat. Ia juga bisa berjalan kaki dari kampung yang satu ke kampung lainnya dengan beban yang bahkan pria dewasa pun tak akan sanggup.

Mungkin karena ia diberkahi dengan segala tindakan kebaikan yang selalu ia lakukan pada orang lain, maka ia mendapat pria yang juga kuat. Seorang pria yang ingin mengentaskan penjajahan. Tapi hidup tak mudah untuk pasangan itu.

Rupanya suaminya mungkin tak bisa disebut sebagai pahlawan, tapi salah satu anggota pemberontak. Padahal mereka juga hanya ingin merdeka bersama bangsa Indonesia lainnya.

Selama bersama suaminya, Tahang ikut bertahan, setidaknya akan tetap menjadi pendukung pria yang dicintainya. Toh, tak ada yang ia langgar, ia tetap salat, mengaji, dan mengerjakan segala perintah Tuhan.

Tapi suami Tahang, tak bisa tetap membiarkan istrinya itu untuk selalu ikut. Ia tak ingin Tahang menjadi lebih kesulitan, bahkan setelah kelahiran putri pertama mereka. Hanya saja Tahang tetap ingin menjadi pendukung bagi suaminya.

Barulah saat kejadian Tahang tertembak dan membuatnya harus tinggal di kampung. Ia menurut. Suaminya bisa pulang kapan saja.

Tahun berlalu, Tahang memiliki seorang putri tertua, putra kedua, dan seorang lagi yang masih dikandungnya. Baru dua bulan ia tahu, bahkan belum ia kabari suaminya yang masih bertahan di perbatasan kampung.

Dan saat itu, ia mendapat kabar bahwa suaminya telah tertembak. Suaminya sendiri berjaga, saat tentara masuk ke tempat istirahat mereka. Seluruh pasukan suaminya menyerah bersamaan dengan pemimpin mereka yang telah menghilang.

Tahang kehilangan. Ia melahirkan tanpa kehadiran suaminya. Bahkan jasad suaminya tak bisa dikuburkannya.

Ia bersedih, tapi setahun kemudian ia gembira saat salah seorang teman, menunjukkan dimana suaminya kehilangan nyawa. Ia dan putra keduanya bersama ke tempat yang ditunjukkan teman itu.

Dengan tangannya sendiri, memindahkan tengkorak ke dalam kain sarung dan membawanya pulang ke kampung. Memberi tempat peristirahatan terakhir yang layak. Ia dan ketiga anaknya hidup bersama, kembali membentuk kebahagiaan.

Sama sepertinya, putra nomor duanya beberapa kali berganti nama. Orang bilang bapaknya akan mengambil anaknya itu, jadinya putranya itu selalu mimisan sebanyak setengah batok kelapa.

“Bapaknya nasuka anak ini,” begitu kata sanro, dukun kampung kepadanya.

Dan putranya itu mengganti nama. Tapi ia harusnya tahu, anaknya itu tak akan menghilang jika belum waktunya. Seperti putra ketiganya yang pergi karena waktunya memang telah tiba. Enam tahun usia si bungsu menghadap Tuhan.

Hidupnya kembali bergerak. Ia bahkan tak pernah bercerita lagi, bagaimana sakitnya saat mobil dengan tempat duduk yang saling berhadapan, yang ditumpanginya berguling-guling beberapa kali.

Orang bilang, ia tidak akan bertahan hidup, tapi Tahang kembali bertahan dan menemani putri sulungnya menikah, mendapati cucu pertamanya yang hanya bertahan beberapa hari, dan melihat putrinya itu lebih dulu berbaring di tanah.

Aku bahkan tidak pernah mengerti bagaimana ia bisa menghadapi semuanya. Atau mungkin saja kehadiran putra yang kini jadi anak satu-satunya masih bisa jadi obat penenang untuknya.

Ia mulai menata hidup bersama putranya, berpindah ke pulau tetangga mencari rezeki yang ternyata semakin tahun berlalu semakin pula dibutuhkan.

Selain merawat putranya, beberapa pria dijadikan anak untuknya. Ia menjadi ibu bagi para anak-anak pengembara rezeki. Diawasinya mereka dengan perlakuan yang sama.

Ia tak masalah dengan anak-anak mereka yang suka bersenang-senang, menonton pertandingan sama-sama, atau hal lainnya, tapi paling tak suka kalau mereka itu berpacaran, akan mengganggu kehidupan mereka saja, pikirnya.

Setelah beberapa tahun, putranya akhirnya bisa menaikkannya haji bersama Keteng saudara sepupu yang juga ibu dari salah satu anak yang diasuhnya. Ia senang, bersyukur. Selama menunaikan ibadah haji, ia lagi-lagi menjadi pagar untuk orang-orang yang pergi bersamanya.

Menggenggam tangan mereka, bahkan tak masalah saat terinjak, tak akan ia lepaskan tangan Keteng dan teman lainnya.

Ia pulang setelah hajah menjadi gelarnya. Tiba di kampung halaman dengan putranya yang tak tinggal diam setelah orang-orang mulai berebut mendekati bus jamaah.

Putranya dengan cepat menggendongnya, membuat sudut bibirnya terangkat. Ia merindukan putranya yang kemudian menikah dengan pilihan hatinya.

Hajah Tahang lalu tinggal dengan keluarga putranya. Berkali-kali saudaranya mengajak tinggal bersama, berkali-kali ia tolak. Ia bahagia bersama putranya. Ia masih bisa menjadi ibu yang baik. Juga akan menjadi nenek yang akan menyayangi cucu-cucunya.

Meski hidup semakin tak mudah. Dengan berbagai angka yang menjadi semakin tinggi pencapaiannya. Ia tetap bertahan di sisi putranya yang bahkan menderita kecemasan. Tetap menyokong putranya.

Ia sadar menantunya kadang tak suka jika ia terlalu mempelakukan putranya masih seperti anak kecil. Ia mengerti.

Nenek Hajah Tahang lalu mendapat cucu pertama, disusul cucu kedua, semuanya gadis-gadis. Ia menyanginya. Ia senang menjemput cucunya ke sekolah.

Pergi dengan jalan kaki dan kembali bersama cucunya naik becak. Ia senang dengan cucunya yang selalu juara satu, meski ia hanya tahu bentuk angka satu sampai dua belas.

Tiga cucu nenek Hajah Tahang lalu hadir dalam kurun waktu sepuluh tahun. Dan dengan lima cucu, ia begitu senang. Meski karakter mereka berbeda, kelimanya punya hal yang sama, mereka sangat mencintai nenek Hajah Tahang.

Dan tahun 2017, tahun lalu, berarti sudah dua puluh empat tahun Tahang menjadi Nenek. Empat bulan yang lalu, ia masuk rumah sakit. Putranya masih memboncengnya, sebelah tangannya memegang botol air minum dan tasbih kecil yang disambungnya sendiri.

Tapi dokter bilang, ia harus dirawat. Meski ia terlihat baik, semua cucunya menangis sembunyi-sembunyi. Dan suatu waktu, saat perawat yang tidak bilang apa-apa pada keluarganya, menyuntikkan—kata orang suntikan anti biotik yang membuat nenek Tahang tak sadarkan diri beberapa saat.

Semua keluarga yang hadir, tersedu, mengira nenek dengan rambut putih akan pergi.

Salah satu cucunya lalu berdoa, meminta diberi kesempatan untuk berbuat lebih banyak kebaikan. Bahkan mencebokinya tak masalah. Dan beberapa saat kemudian, nenek bersuara, meminta semua yang hadir di sana tetap tenang. Masih saja dikhawatirkannya orang-orang di sisinya.

Keesokan harinya, saat selang infus nenek sudah terlepas sendiri, dokter yang berkunjung paginya dan bahkan tak tahu kejadian suntikan itu, mempersilakannya pulang. Semua anggota keluarganya senang.

Putranya bilang akan menggendong. Salah satu cucunya bilang pakai kursi roda saja. Tapi ia bilang bisa jalan saja. Lagi pula kursi roda baru rumah sakit, sepertinya sulit dilepaskan perawat. Entah bagaimana, sampai kursi roda itu bisa digunakan kemudian.

Seminggu pertama, nenek Tahang belum bisa salat. Putranya bilang asal tetap ingat Tuhan. Tapi ia rupanya tak bisa lama-lama ketinggalan salat. Jadinya cucunya bantu ke kamar mandi, menemani wudu, dan salat.

Ia bahkan salat sunat temannya salat fardu, meski salat tahajud dan duha tak bisa dilaksanakannya lagi. Itu berlangsung selama sebulan lebih.

Sebulan berikutnya, kakinya jadi agak gemetaran, tidak bisa menahan berat tubuh. Mesti dipapah cucunya yang baru benar-benar merasa neneknya memberinya beban. Ia bahkan hanya bisa salat duduk. Agama juga memperbolehkan itu.

Hanya saja sebulan berikutnya, nenek Tahang tiba-tiba merasa sesak nafas. Nafasnya pendek-pendek. Katanya asma. Bergerak sedikit saja, bisa capek. Ia merasa bersalah. Tak bisa mengerjakan kewajibannya. Tak bisa berbuat apa-apa. Ia merasa menjadi beban.

Entah kenapa, ia sering meminta cucunya untuk memijat-mijat kakinya yang makin kehilangan bobot. Ia tak tahan sendiri, sepertinya. Tapi cucu-cucunya sering saja saling suruh. Mereka sepertinya lupa, bagaimana cinta neneknya untuk mereka.

Tapi nenek Hajah Tahang harus tahu, kalau semua cucunya sangat menyayanginya. Bahkan mereka selalu kesal pada orang-orang yang datang menjenguk, tapi ributnya minta ampun.

Oh, sepertinya salah satu cucunya juga salah, ia diminta baca yasin, tapi kesal sama salah satu mereka. Ia bilang, ia selalu baca setiap malam Jumat, dan minta orang itu tidak memperdengarkan, tak ingin neneknya terkejut saja.

Malamnya, saat semuanya terasa menenangkan, cucu keduanya duduk di sebelah neneknya. Menyentuh tangannya. Ia harus memotong kukunya Jumat besok, pikirnya.

Ia sering lupa itu. Lalu berdiri, duduk kembali di depan laptopnya. Begadang lagi seperti malam kemarin, sebelum tidur ia tulis di buku hariannya, minta beliau diberi kesehatan, kekuatan, dan yang terbaik untuk Nenek Tahang.

Aku yakin, kalau cucunya tahu sesuatu akan terjadi esok, tak mungkin ia duduk di depan laptopnya malam itu atau kembali tidur setelah salat Subuh. Dan tiga bulan lebih, setelah cucunya sering lupa kalau ia pernah janji untuk selalu ada untuk nenek Hajah Tahang, entah kenapa tak bisa menahan air matanya.

Berkali-kali disusut, berkali-kali air matanya jatuh saat melihati wajah neneknya. Apalagi saat neneknya menyebut namanya. Ia hanya berpura-pura tak terjadi apa-apa dengan perasaan tenang tapi hampa, dan berkata ia akan selalu ada di sana.

Dan sejam kemudian, satu hal itu rupanya terjadi. Nenek Hajah Tahang sepertinya sudah mengerti. Mungkin juga putranya mengerti dengan berkali-kali mengatakan, selalu ada kebaikan yang akan menanti orang yang diberi berkah hidup untuknya.

Ia berkali-kali menggumamkan sahadat. Sampai saat putranya ingin izin ke masjid untuk salat Jumat, saat pembicara di masjid sudah memulai setelah azan, Nenek Hajah Tahang pergi.

Kata keluarga yang datang, nenek Hajah Tahang itu orang yang sabar. Tapi tak banyak orang lain yang tahu tentang nenek yang berkali-kali bangkit setelah jatuh itu.

Bahkan di cerita ini tak ada dialog, karena ia terlalu sabar, tak pernah mengeluh, mungkin saja ia lebih suka berbicara dalam doa setelah salat. Ia pergi setahun yang lalu. Dan aku ingin orang lain tahu kalau ada seorang wanita tegar dan sabar yang bernama nenek Hajah Tahang yang akan selalu mengajarkanmu arti bertahan.

Di kampungku ini, tidak ada lagi nenek yang pakai baju kebaya dan sarung batik, seperti khas pakaian nenek Tahang. Dan dengan tubuh ringkihnya berjalan ke masjid, satu-satunya tempat yang selalu ia datangi.

Kupikir lama kelamaan orang akan lupa padanya, sampai kemarin kudengar cucunya bilang sedang rindu dan iri dengan orang-orang yang bisa memasukkan cerita mereka di koran. Maka kubilang padanya, kenapa ia tidak kirim juga, ia bilang sudah, tapi tidak ada kabar selama ini.

Karena ada alasan lain, maka kuminta cerita-cerita yang dibuatnya. Aku meringis dalam hati, kuambil salah satu cerita yang ia tulis. Tentang Nenek Tahang juga rupanya, ia bilang ia ingin orang tahu ada orang yang namanya Nenek Tahang.

Kukatakan lagi padanya kalau banyak orang yang akan menghilang tanpa orang lain tahu, bukan hanya Nenek Tahang. Bahkan orang-orang tahun ini mungkin hanya akan tinggal satu-dua orang pada 2019. Dan aku melihat tanggal elektronik tahun itu, menghela nafas, aku juga mungkin akan dilupakan.

Untuk Nenek yang sedang baca koran

Kulihat Anda di teras depan rumah. Waktunya tergantung pilihan Anda, siang atau sore dengan minuman hangat dan cemilan.

Kuperhatikan kaca mata Anda nampaknya turun beberapa kali, sebelum Anda benar-benar memperbaikinya.

Anda perhatian betul dengan huruf-huruf yang tertulis di sana. Senang sekali Anda pasti. Nenekku bahkan hanya mengenal angka 1 sampai 12 —berkat jam bundar yang menunjukkan jam salat dan kapan ayahku pulang kerja.

Anda pasti beruntung dengan bacaan yang bisa menyita waktu Anda. Semoga anak atau menantu Anda tidak mengganggu hal yang terlihat sangat menyenangkan bagi Anda. Atau saat Anda minta si cucu mengambilkan segelas air dan mereka menolak, kuharap Anda tak bersedih hati. Kupastikan mereka sangat menyayangi Anda.

Seandainya bisa juga kukatakan pada nenekku, meski aku malas sekali diminta bacakan koran untuknya, bahwa aku sangat menyayanginya. ***

Jelsyah Dauleng, penulis yang tinggal di Siwa, Sulawesi Selatan.

Redaksi menerima cerpen. Tema bebas tidak SARA. Karya belum pernah tayang di media mana pun baik cetak, online, juga buku. Kirim karya ke editorcendana@gmail.com. Disediakan honorarium bagi karya yang ditayangkan.

 

 

Lihat juga...