Ngrowot, Menu Pantang dan Puasa Umat Katolik Lampung

Editor: Mahadeva

195

LAMPUNG – Aturan mengenai pantang dan puasa di dalam Gereja Katolik berkaitan dengan pengaturan pola makan. Hal tersebut biasa dilakukan pada masa Prapaskah hingga menjelang Paskah.

Aturan tersebut diberlakukan, sebagai cara askese atau pengendalian diri, agar umat bisa lebih menghayati iman akan Paskah. Fransiska Suyatinah (60), salah satu jemaat gereja Katolik unit Pastoral Bakauheni menyebut, aturan pantang dan puasa sudah ditetapkan sejak ratusan tahun silam.

Aturan pantang dan puasa, kerap diaplikasikan dengan kearifan lokal masyarakat setempat. Meski demikian, aturan baku yang masih diterapkan adalah pantang makan daging atau makanan lain yang ditentukan oleh Konferensi para Uskup. Salah satunya Uskup Keuskupan Tanjung Karang di Lampung. Aturan tersebut mengikat umat yang sudah berusia dewasa, atau genap berusia empat belas tahun hingga enam puluh tahun. Kewajiban puasa pada hari Rabu Abu, Jumat Agung serta selama masa Prapaskah, saat ini terus dilestarikan sebagai cita rasa tobat.

Fransiska Suyatinah yang berasal dari Keuskupan Agung Semarang dan pindah di Lampung tersebut mengatakan, puasa dan pantang diatur oleh Gereja. Puasa diartikannya, makan kenyang hanya satu kali dalam sehari. Sementara pantang, merupakan bentuk penyangkalan akan kebiasaan yang kerap dilakukan. Bentuk pantang tersebut diantaranya pantang daging, rokok, garam, gula dan semua manisan. Serta pantang hiburan seperti televisi dan gawai.

“Bagi sejumlah keluarga pengaplikasian pantang dan puasa, menjadi tindakan sukarela tidak makan atau minum seluruhnya, bagi umat Katolik yang berasal dari Jawa, ngrowot atau tidak makan nasi dengan alternatif menu lain kerap dilakukan dengan tujuan untuk berderma,” terang Fransiska Suyatinah kepada Cendana News, Sabtu (20/4/2019).

Selama masa Prapaskah, selama 40 hari jika dirata-rata selama 30 hari saja keluarganya meniadakan makan nasi, maka sekira 30 kilogram beras bisa disisihkan. Dengan asumsi harga beras Rp8.000 perkilogram, maka bisa disisihkan sekira Rp240.000 sebulan.

Menyisihkan derma pada masa Prapaskah tersebut didominasi dari kebutuhan makan yang dipantang. Selanjutnya, uang derma dikumpulkan menjadi aksi puasa paskah, atau dikenal Aksi Puasa Pembangunan (APP). Cara tersebut juga diterapkan bagi anak-anak, dengan mengurangi aktivitas jajan di sekolah serta mengurangi bentuk hiburan. Bentuk celengan atau tabungan khusus dari berpantang jajan, sering sudah ditentukan oleh guru sekolah minggu bagi anak-anak.

Menu berpantang bagi sebagian umat Katolik dengan alternatif pilihan singkong kukus dan rebusan daun singkong, pepaya sebagai pengganti nasi serta lauk – foto Henk Widi

Ngrowot, merupakan cara untuk mengurangi penggunaan nasi dengan sejumlah menu alternatif. Bahan makanan pengganti terdsebut biasanya, ubi jalar atau mantang, pisang, sukun, ubi kayu atau singkong. Sayur mayur hijau yang dikukus atau direbus menjadi cara mengurangi penggunaan bumbu dan minyak yang bisa disisihkan untuk derma. “Pekan sebelumnya saya memasak ubi jalar yang dikukus untuk menu makan. Pada akhir masa Prapaskah saya memasak pisang janten yang dikukus,” tandas Fransiska Suyatinah.

Menu ngrowot menjadi pilihan karena, cukup sederhana penyajiannya. Bahan yang dibutuhkan bisa diperoleh di pekarangan rumah sendiri. Menu kuliner ngrowot menjadi menu yang biasa disantap oleh Yohana Ari Wandriasari (25), sang anak. Asupan yang terkandung dalam sejumlah menu ngrowot, cukup mengandung karbohidrat. “Pemahaman pantang dan puasa untuk mengurangi makanan tertentu kerap sulit diterapkan, tapi keluarga ikut mendukung selama masa PraPaskah,” terang Yohana.

Berpantang dan berpuasa harus disatukan dengan doa dan derma. Berpuasa dan berpantang bukan sekedar untuk kesehatan dan diet dengan mengurangi makan dan minum tertentu. Berpuasa dan berpantang menjadi salah satu cara untuk mengatur pola makan dan mengurangi asupan makanan yang bisa mengganggu kesehatan.

Selama hampir empat puluh hari menjalankan puasa dan pantang, uang yang disisihkan dikumpulkan. Saat malam Paskah atau hari raya Paskah, uang yang terkumpul digunakan untuk sejumlah misi kemanusiaan gereja. Yohana menyebut, puasa bisa diaplikasikan dengan cara berbeda oleh setiap keluarga. Pasalnya menu makanan tertentu akan sulit diperoleh dan justru bisa mengeluarkan biaya. Pilihan ngrowot dilakukan oleh yang tinggal di pedesaan, karena bahan bahan makanan tersedia di alam.

Lihat juga...