NTB Gagas Lapas Berbasis Pesantren

Editor: Koko Triarko

MATARAM – Sebagai upaya membina kepribadian dan kemandirian warga binaan, Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia (Kemenkum HAM) Wilayah Provinsi Nusa Tenggara Barat, melalui Lembaga Pembinaan (LP) Masyarakat Mataram, menggagas Lapas berbasis pesantren.

“Lapas berbasis pesantren diadakan, dihajatkan sebagai salah satu upaya pembinaan kepribadian warga binaan yang selama ini menjalani hukuman di LP, karena tersandung berbagai permasalahan hukum”, kata Kalapas Kelas II A Mataram, Tri Saptono Sambudji, Selasa (23/4/2019).

Kalapas Kelas II A Mataram, Tri Saptono Sambudji/ Foto: Turmuzi

Harapannya, dengan pembinaan kepribadian melalui program Lapas berbasis pesantren, warga binaan akan bisa lebih baik lagi setelah bebas dan menjalani hukuman atas pelanggaran hukum yang dilakukan.

Menurutnya, warga binaan LP Mataram yang menjalani hukuman sekarang, pada dasarnya masuk LP karena ada permasalahan sosial, tidak sukses menjalankan kehidupan sosial bersama masyarakat.

“Negara tidak boleh membiarkan mereka menjadi lebih jahat lagi, karena itu pembinaan sangat penting dilakukan,” katanya.

Pembinaan kepribadian dimaksudkan, supaya mereka sadar, taat tertib selama di dalam, melakukan kegiatan keagamaan dan sosial menjadi lebih baik, kemudian tidak melakukan pelanggaran hukum.

Dikatakan, selain pembinaan kepribadian, warga binaan LP Mataram juga mendapatkan pembinaan kemandirian, melalui pendidikan keterampilan, mulai dari membuat kerajinan maupun pembinaan produk olahan.

“Dengan harapan, setelah mereka keluar dari Lapas, bisa memiliki keterampilan, sebagai bekal menghasilkan prodak barang atau jasa, hidup mandiri menjalankan kehidupan di tengah masyarakat,” jelas Tri.

Masyarakat juga diharapka bisa memberikan ruang kepada mereka menjadi lebih baik lagi, prinsip dari LP, bagaimana mereka yang semula masuk LP karena melanggar hukum, setelah keluar bisa lebih baik lagi dan taat hukum.

Dirjen Pemasyarakatan Kemenkum HAM RI, Sri Puguh Budi Utami, sebelumnya juga berharap, melalui kegiatan pemasyarakatan pesantren, warga binaan LP Mataram paling tidak yang tidak bisa baca Alquran, yang tidak salat tepat waktu, setelah mengikuti pesantren bisa baca Alquran dan salat tepat waktu.

Ketika pembinaan kepribadian dan kemandirian sudah dilakukan, walaupun belum menikmati udara kebebasan, mereka bisa berkontribusi bagi pembangunan negara, sehingga mereka juga tidak lagi digabung dengan yang baru masuk.

Selain Kegiatan keagamaan berupa pesantren, kegiataan serupa juga berlaku bagi warga binaan yang beragama lain, seperti Hindu, Kristiani lainnya.

Lihat juga...