hut

Pala, Tanaman Legenda yang Penuh Khasiat

Redaktur: ME. Bijo Dirajo

BOGOR, MEKARSARI — Kalau kita melihat sejarah masuknya orang asing ke Indonesia, itu adalah karena kekayaan rempah-rempah yang dimiliki Nusantara. Salah satunya adalah pala. Tanaman asli ini memang memiliki banyak manfaat. Mulai dari daging buah, lapisan biji hingga bijinya memiliki fungsi. Bahkan, saat ini sudah ada penelitian pemanfaatan tempurung biji pala.

Supervisor Pengembangan Hasil Penelitian dan Landscape Gardener Taman Buah Mekarsari Junaedi menjelaskan bahwa yang pertama kali dicari orang dari buah pala adalah lapisan di bijinya, yaitu fuli.

“Zaman dulu, sebelum obat-obatan kimia ditemukan, fuli ini merupakan salah satu bahan baku pengobatan. Karena itu, banyak bangsa asing yang mencarinya sampai ke Banda,” kata Junaedi saat ditemui di Blok D Taman Buah Mekarsari, Selasa (30/4/2019).

Fuli saat masih muda, warnanya masih putih kehijau-hijauan. Tapi kalau buah pala sudah matang maka warna fuli akan berubah menjadi merah.

“Fuli ini nanti dikeringkan. Baru disimpan. Kalau dalam keadaan kering, fuli ini bisa bertahan dalam jangka waktu tahunan,” ujar Junaedi.

Daun tanaman pala dan batangnya juga bisa menghasilkan minyak atsiri. Salah satu minyak yang banyak dicari orang dari seluruh negara.

“Selain itu, pala juga bisa menghasilkan minyak atsiri. Minyak ini memang salah satu yang banyak peminatnya. Bukan hanya karena wangi khasnya, tapi juga karena memiliki efek positif bagi kesehatan,” papar Junaedi seraya menunjukkan fuli yang masih muda.

Daging buahnya sendiri, memang sudah biasa diolah menjadi makanan ataupun minuman. Bahkan saat ini, pala pun sudah diolah menjadi keripik maupun cemilan lainnya.

Buah Pala. Foto: Ranny Supusepa
Biji pala juga sudah dikenal secara umum, sebagai salah satu rempah yang biasa digunakan masyarakat Indonesia saat mengolah bahan baku daging atau ayam.

“Bisa dibilang keseluruhan buah pala ini bisa dimanfaatkan. Bisa untuk bumbu masak, untuk obat dan untuk aromatherapy. Sehingga tidak salah jika pala menjadi salah satu primadona di agro industri,” ujar Junaedi.

Menurut data, dari keseluruhan permintaan pala, yaitu biji pala dan fuli kering dunia, 60 persennya dipenuhi oleh Indonesia. Badan Pusat Statistik (BPS) menyebutkan produksi pala terus meningkat rata-rata 22 persen per tahunnya.

“Jadi kita harusnya bangga, bahwa Indonesia lah pemilik tanaman kuno ini. Tidak hanya memiliki nilai historis tapi juga memiliki kandungan luar biasa yang bisa dimanfaatkan oleh manusia. Sekarang tinggal bagaimana, kita menjaga keberadaannya dan mengembangkan berbagai produk dari pala dan bisa diekspor ke seluruh dunia,” pungkas Junaedi.

Lihat juga...