Pantai Mutiara Baru di Lamtim, Tumbuhkan Peluang Usaha

Editor: Koko Triarko

LAMPUNG – Kawasan objek wisata ikut mendorong peluang usaha bagi warga di Lampung Timur (Lamtim). Salah satunya, pantai Mutiara Baru, di Kecamatan Pelabuhan Maringgai.

Rubinem, warga Desa Karya Makmur, mengaku mulai usaha berjualan di pantai Mutiara Baru sejak satu tahun terakhir. Sebelumnya, Rubinem merupakan buruh tani yang membantu panen padi, dan terkadang panen pada lahan tambak udang.

Pengelolaan pantai yang dibenahi menjadi kawasan wisata dan infrastruktur jalan penunjang, ikut menumbuhkan sektor ekonomi bagi warga. Bersama beberapa pedagang lain, semula ia hanya berjualan makanan kecil, es kelapa muda dan kuliner tradisional.

Saat pengunjung semakin ramai, bersama sang suami, ia menambah barang dagangan. Sejumlah barang dagangan yang dijual di antaranya minuman kemasan dan makanan ringan.

Bermodalkan uang satu juta rupiah, ia mulai membenahi lokasi untuk berjualan, sekaligus menambah barang untuk dijual. Pembenahan di antaranya berupa pembuatan tempat duduk, rumah pohon terbuat dari bambu.

“Usaha berjualan awalnya hanya sebagai pengisi waktu luang saat tidak ada permintaan menjadi buruh tani, ternyata hasilnya cukup menjanjikan sehingga terus saya tekuni,” terang Rubinem, saat ditemui Cendana News, Selasa (23/4/2019).

Selain Rubinem, sejumlah pedagang di pantai Mutiara baru yang semula beberapa orang kini, total berjumlah 25 orang. Warga yang memanfaatkan peluang usaha dengan berjualan, semakin bertambah saat musim liburan.

Rubinem bahkan menyebut, seperti pada tahun sebelumnya sehari jelang bulan suci Ramadan, menjadi peluang mendapatkan keuntungan berlipat. Pasalnya, ratusan masyarakat memilih mandi di laut sebelum Ramadan atau bulan puasa.

Pedagang yang memilih usaha di lokasi tersebut, kata Rubinem, juga difasilitasi oleh pengelola melalui kelompok sadar wisata (Pokdarwis). Sebab, sebagian warga diberi kesempatan untuk berjualan sejumlah produk lokal hasil pertanian dan perikanan masyarakat.

Hasil pertanian yang dijual, antara lain jagung manis dalam bentuk bakar serta rebus, kelapa muda, pisang goreng, serta sejumlah produk olahan hasil pertanian lainnya. Lokasi yang berada di dekat pertambakan dan laut, sekaligus memberi peluang pemilik usaha kuliner boga bahari (seafood).

Pada kondisi normal dan liburan akhir pekan, Rubinem mengaku mendapatkan omzet minimal Rp500 ribu per hari. Pada saat liburan panjang dan momen punggahan jelang Ramadan serta libur hari raya, penghasilan lebih dari Rp1 juta, bisa diperolehnya.

Selain menjual makanan dan minuman, kini ia juga mulai bisa menawarkan suvenir kaos hasil produksi pengelola wisata.

Sobri, salah satu petambak udang, menyebut keberadaan sejumlah tempat usaha ikut membantu para petambak. Sebab, sebelumnya sejumlah petambak yang ada di wilayah tersebut harus membeli sejumlah keperluan keluar dari wilayah tersebut.

Beberapa kebutuhan yang kerap diperlukan oleh petambak, di antaranya makanan dan minuman ringan. Keberadaan sejumlah warung tersebut, diakuinya sangat membantu karena saat musim panen udang banyak buruh angkut.

“Kami sangat terbantu dengan keberadaan pelaku usaha yang berjualan, karena membuat kami bisa lebih efesien mempergunakan waktu,” beber Sobri.

Peluang usaha bagi warga di sekitar pantai Mutiara Baru, menjadi perhatian bagi Kecamatan Labuhan Maringgai. Sekretaris Camat Labuhan Maringgai, Agustinus Trihandoko, mengaku terus mendorong sektor usaha kecil berbasis pariwisata.

Menurutnya, keberadaan objek wisata harus memberi dampak positif  bagi masyarakat, di antaranya adanya peluang usaha kecil sesuai dengan kearifan masyarakat.

“Fasilitas tempat usaha yang disiapkan oleh pengelola berkoordinasi dengan pemerintah desa, kecamatan memberi peluang bagi usaha kecil, agar memberi pendapatan,” terang Agustinus Trihandoko.

Dukungan bagi pengembangan usaha kecil telah dilakukan oleh pemerintah desa dan kecamatan, melalui pembenahan infrastruktur. Melalui APBN, katanya, akses jalan sepanjang 1.000 meter akan dibangun untuk memudahkan kendaraan melintas.

Akses jalan yang dibenahi tersebut bisa mendukung usaha pertambakan, pariwisata dan pertanian. Puluhan pedagang di pantai Mutiara Baru juga terus ditata, agar estetika dan fungsi ekonomi berjalan seimbang.

Sementara itu, sejumlah pelaku usaha secara kreatif mulai membuat tempat usaha kuliner berkonsep rumah makan apung. Tempat usaha yang berada di sekitar pantai, diprioritaskan bagi pelaku ekonomi yang menjual produk lokal. Seperti bandeng presto, kerupuk kulit ikan, kemplang serta kuliner olahan hasil pertambakan di wilayah tersebut.

Produk lokal yang dijual masyarakat tersebut, diharapkan memberi nilai tambah secara ekonomi bagi masyarakat.

Pemberian fasilitas untuk berjualan, sebut Agustinus Trihandoko, juga dikonsep ramah lingkungan. Ia berharap, meski melakukan pembangunan sejumlah lokasi usaha untuk mendapatkan nilai tambah, faktor kelestarian lingkungan tetap harus dijaga.

Sejumlah warung berkonsep lingkungan, di antaranya berada di sekitar area pohon mangrove, juga dilengkapi dengan kotak sampah agar tidak mencemari kawasan tersebut.

Lihat juga...