Pantai Mutiara Baru, Perpaduan Keindahan Bahari dan Konservasi

Editor: Mahadeva

225

LAMPUNG – Destinasi wisata bahari di Lampung Timur, seperti Pantai Mutiara Baru, salah satu pesona kekayaan alam di Desa Karya Makmur, Kecamatan Labuhan Maringgai menjadi tumpuan wisata di daerah tersebut.

Pantai Mutiara Baru, memiliki keunikan berupa berkontur pasir landai, vegetasi tanaman mangrove, serta sejumlah wahana menarik bagi pecinta fotografi, petualang, pengamat burung liar (bird watching).  Menuju Pantau Mutiara Baru, bisa ditempuh melalui jalan darat. Akses melalui Jalan Lintas Pantai Timur (Jalinpantim) bisa dilewati dengan kendaraan roda dua maupun roda empat hingga ke tepi pantai.

Akses jalan menuju ke objek wisata mempergunakan jalan lingkungan, yang merupakan akses pemilik tambak udang. Sajian perumahan warga, sawah menghijau, dan tambak, menjadi pemandangan jalan sepanjang dua kilometer.

Sekretaris Camat Labuhan Maringgai, Agustinus Trihandoko, menyebut, Pantai Mutiara Baru dikembangkan atas dukungan masyarakat dan pemerintah. “Pantai Mutiara Baru sudah dikenal cukup lama oleh masyarakat. Memiliki sajian pantai yang cukup indah, panjang sekitar dua kilometer meliputi tiga dusun dengan pasir putih serta tanaman mangrove serta tanaman lain,” terang Agustinus Trihandoko, kepada Cendana News, Minggu (14/4/2019).

Pengembangan sektor pariwisata di Kecamatan Labuhan Maringgai, terintegrasi dengan desa lain. Potensi wisata tersebut diantaranya membentang dari Desa Karyatani, Desa Karya Makmur, hingga ke Desa Margasari, semuanya dikemas dalam satu paket wisata.

Saat berkunjung ke destinasi wisata Pantai Mutiara Baru, wisatawan tidak hanya akan mendapati pantai berpasir. Wisatawan akan dimanjakan dengan hijaunya vegetasi pohon mangrove, dan tanaman berbagai jenis. Konsep wisata di kawasan tersebut, terintegrasi dengan pelestarian lingkungan. Ciri khas pantai Mutiara Baru kaya flora dan fauna burung pantai berbagai spesies.

“Pengelola telah menyiapkan sejumlah bibit mangrove untuk ditanam pengunjung, selanjutnya bisa didokumentasikan sebagai kenangan yang merupakan salah satu poin sapta pesona,” beber Agustinus.

Selain sajian alam, wahana wisata kekinian yang kerap diinginkan anak-anak milenial berupa Land Mark, beberapa tulisan unik untuk swafoto, ayunan, gazebo atau saung, peneduh alam hingga rumah pohon, semuanya saat ini sudah tersedia.

Dukungan pemerintah untuk pengembangan sektor pariwisata terus dilakukan. Tahun ini, peningkatan infrastruktur jalan akan dikucurkan melalui APBN, dengan membuat jalan aspal sepanjang 1.000 meter dengan lebar empat meter. Jalan tersebut akan dilengkapi dengan tanggul setinggi empat meter.

Upaya memberikan kenyamanan kepada wisatawan meliputi Atraksi, Amenitas dan Aksebilitas (3A), menjadi bentuk perhatian pemerintah. Berkoordinasi dengan pemangku kebijakan, pengelola destinasi wisata di Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Pantai Mutiara Baru, Agustinus berharap destinasi wisata tersebut bisa memberi kesejahteraan masyarakat.

Peningkatan 3A di Pantai Mutiara Baru dilakukan sejak 2018 silam. Didit Widiyanto, Bagian Pengembangan Pokdarwis Pantai Mutiara Baru menyebut, peningkatan sektor pariwisata di pesisir timur tidak terlepas dari kearifan lokal masyarakat setempat. Pantai terintegrasi dengan tambak masyarakat, lokasi mata pencaharian masyarakat di kawasan tersebut, sehingga aktivitasnya dikembangkan dengan sistem ekowisata.

Konsep wisata yang ditawarkan, tidak hanya menyajikan unsur keindahan tetapi juga pelestarian. Sebagai salah satu pemuda peduli konservasi dan penggiat mangrove, pengembangan sektor pariwisata, Didit menyediakan bibit mangrove untuk ditanam pengunjung. “Salah satu poin sapta pesona adalah keindahan yang bisa diciptakan melalui kebersihan agar pengunjung nyaman sehingga kami sediakan kotak sampah dan plastik sampah,” papar Didit.

Pengembangan wisata yang dilakukan, tidak semata-mata berorientasi bisnis. Meski profit menjadi salah satu tujuan akhir, upaya konservasi untuk mempertahankan keindahan alam terus dilakukan. Semua komunitas yang tergabung di kawasan tersebut, berupaya menjaga keasrian objek wisata. Kearifan lokal masyarakat sebagai nelayan tetap dipertahankan, untuk mendukung kegiatannya, seperti pembuatan rute air oleh nelayan.

Rute air tersebut akan dilakukan dari Tempat Pendaratan Ikan Kuala Penet, serta susur sungai Nibung. Nelayan yang mencari kerang, ikan dengan sejumlah peralatan tradisional sekaligus menjadi atraksi yang hanya bisa ditemukan di pantai Mutiara Baru.

Wahyuni, pengunjung asal Kalianda menyebut, Pantai Mutiara Baru termasuk unik. Memiliki bentang pantai sekira dua kilometer, membuat pengunjung bisa menikmati suasana pantai dengan sajian mangrove, pasir putih hingga suara burung yang indah.

Sebagai remaja yang akrab dengan media sosial Instagram, kunjungan ke Pantai Mutiara Baru semakin lengkap dengan swafoto. Objek sekaligus latar belakang foto yang unik dan menarik, membuat bisa memajang foto di akun media sosialnya.

Lihat juga...