Pedagang Kecil di Pasar Wairkoja Sikka Terancam Bangkrut

Redaktur: ME. Bijo Dirajo

146

MAUMERE — Hampir 10 tahun pasar Wairkoja yang dibangun pemerintah pusat melalui Kementerian Perindustrian dan Perdagangan sepi pembeli. Para pedagang telah berulangkali meminta pemerintah untuk melakukan berbagai langkah, namun tak kunjung dilakukan.

“Sejak dulu kami sudah meminta agar pedagang di bekas pasar Geliting jangan berjualan di sana. Tapi sampai sekarang pun bupati tidak bisa mengambil tindakan tegas,” sebut Patrisius Nong, salah seorang pedagang, Selasa (16/4/2019).

Dikatakan Patris, penjual ikan dan sayur pun mulai berjualan di sepanjang jalan di negara di dekat bekas pasar Geliting. Berulangkali Satpol PP lakukan penertiban bahkan setiap hari ditempatkan disana namun tidak ada gunanya.

“Kami pedagang di pasar Wairkoja hanya bisa pasrah saja. Meski ditertibkan terus namun pedagang tetap membandel. Keberadaan Satpol PP di areal tersebut pun sepertinya hanya pajangan saja dan tidak berani ambil tindakan,” sesalnya.

Patris juga mengatakan, pemerintah selalu menjanjikan akan membuka terminal di dekat pasar Geliting dan mengubah jalur angkutan kota.

“Penjual komoditi dari desa naik angkutan turun di depan pertokoan di bekas pasar Geliting. Uang yang didapat langsung dibelanjakan di toko-toko tersebut sehingga yang untung pedagang besar di Geliting. Ini yang membuat pasar Wairkoja tetap sepi,” tuturnya.

Nurhana, pedagang di pasar Wairkoja lainnya mengatakan, dalam sehari berjualan dirinya hanya mengantongi uang Rp. 50 ribu saja. Terkadang dirinya harus meminjam uang untuk membayar sewa kios Rp.161 ribu sebulannya.

Akibat sepinya pembeli, Nurhana mengakui terpaksa mencari tambahan penghasilan dari tempat lain atau meminjam uang untuk membayar biaya sewa kios sebesar Rp.161 ribu sebulan.

“Untuk bayar sewa kios saja pedagang harus utang sana-sini karena pemasukan hampir tidak ada. Kami hanya bertahan saja sebab mau usaha apa lagi. Paling kalau hari Jumat saat hari pasar baru pembeli sedikit ramai,” sebutnya.

Sebelumnya, Ketua komunitas pedagang pasar Wairkoja Robertus Odang menyebutkan, saat berkampanye di Wairkoja, bupati Sikka Fransiskus Roberto Diogo yang saat itu masih calon membuat kontrak politik dengan pedagang. Kontrak politik dibuat dan ditandatangani bupati Sikka dan perwakilan pedagang.

Lihat juga...