Pembeli dan Penjual Berwajah Pucat

CERPEN PASINI

SETELAH sempat tertunda oleh alasan serba absurd, aku bertekad untuk pergi kembali pada malam Minggu ini. Yang terekam oleh ingatan sebelum keabsurdan itu adalah aku yang pergi berjalan-jalan dan hampir tiba di alun-alun kota.

Benar, sumpah! Hanya sebatas itu.

Sungguh tidak ada koneksi yang menghubungkan dengan kejadian berupa aku yang kemudian terbangun pada jelang malam hari di tempat berbeda dan mendapati semua hal seperti pertama kali kutemui.

Namun mereka di sekelilingku, yang tampaknya juga baru membuka mata, memberiku pemahaman bahwa aku bukan seorang diri di tempat serba baru ini. Setidaknya itu lebih baik ketimbang menjadi satu-satunya, atau menjadi satu-satunya yang berbeda.

Mereka yang tadi, kulihat mulai berkesibukan. Melesat ke tempat-tempat berantah dengan cepat. Mengingatkanku pada jam kantor yang membuat pagi hariku selalu serba ketergesaan.

Tapi, pekerjaan macam apakah yang dilakukan pada malam hari dan membuat mereka terburu-buru untuk pergi?

Sebagaimana dengan mereka, aku pun bersiap menjalankan rencanaku yang tertunda. Aku merasa tubuhku yang lebih ringan bisa membawaku melangkah dengan lebih cepat kepada tujuan. Lima kilo yang sama ternyata tertempuh dalam tempo seperlimanya saja.

Dan, alun-alun langsung menyambutku dengan sesuatu yang mengharu-biru. Bagaimana tidak. Aku melihat Mbah Munir, lelaki tua penjual es kocok itu, kembali berjualan lagi.

Di tempat dan dengan jenis dagangan yang sepersis terakhir kali aku melihatnya, sekitar tiga puluh tahun lalu. Yang disebut sebagai es kocok sebenarnya adalah sirup buah beraneka rasa dan warna.

Cara meraciknya, cukup dituang sekian tutup botol ke dalam plastik, lalu dicampur dengan air dan es batu. Setelah itu dikocok-kocok dan diberi sedotan. Sirup adalah minuman ajaib yang menurut cerita Mbah Munir sembari mengocok, ia beli jauh-jauh dari luar kota.

Kami -anak-anak- pada waktu itu, sebagaimana anak-anak zaman sekarang yang segera terbius dengan segala sesuatu yang berbau keajaiban.

Tetapi mungkin saja yang dikatakan Mbah Munir itu benar. Sebagai kota terbelakang yang sedang berjuang mengejar ketertinggalan, sangat mungkin yang namanya sirup itu belum ada di kota kami.

Atau kalau pun ada, hanya di toko-toko tertentu saja. Buktinya, aku baru bisa menikmati es kocok Mbah Munir setiap akhir pekan tiba, itu pun hanya jika diajak Bapak pergi ke alun-alun kota.

Hingga suatu hari, tanpa sebab yang kumengerti, tak kudapati Mbah Munir berjualan lagi. Dan alun-alun yang semakin ramai pun, mulai diramaikan oleh berjenis-jenis minuman baru.

Es-es dengan nama-nama dan komposisi baru bermunculan. Bahkan sensasi rasa es Mbah Munir kemudian kutemukan di dalam minuman kaleng yang kubeli dari warung depan rumahku.

Ketiadaannya tidak kurindukan, hanya sebatas ingatan pada lelaki tua yang menunggui gerobak minuman di sebelah barat daya alun-alun.

Kuawali langkahku ke sana. Kerinduanku bukan pada es kocok -yang terlambat kuketahui- bahwa sebenarnya sangat biasa-biasa saja, tidak memiliki unsur keistimewaan sama sekali.

Melainkan kangen kepada senyum ramah penjualnya dengan tutur yang mampu menghipnotis para pelanggan. Kubayangkan, apalagi yang akan Mbah Munir akui sebagai keajaiban sekarang, setelah era es kocoknya berlalu dan ditikung es oyen, es campur, es cincau, dan minuman botol berkarbonasi.

“Rasa jeruknya, Mbah. Satu,” kataku seperti biasa, setelah lelaki tua itu usai melayani beberapa pengantre yang tiba lebih dulu daripada aku. Ia masih punya cukup banyak pelanggan juga. Aku yakin bukan karena rasa yang melegenda. Sama sepertiku, lebih ingin bernostalgia saja.

Sesuatu tiba-tiba masuk ke kepalaku dan memaksa dipecahkan. Kuterima es pesananku dari tangan Mbah Munir yang dingin. Kemudian kuseruput sembari berjalan-jalan menikmati suasana yang baru kusadari ternyata lebih ramai dari malam-malam sebelumnya.

Baik pengunjung, penjual makanan, juga arena permainannya. Dan… astaga. Andong itu kembali ada. Sejak kapan? Bukankah pada dua pekan lalu, terakhir kali aku ke sini, wahana itu belum ada dan memang sudah sejak lama tidak ada. Kereta minilah yang menggantikannya.

Lagi-lagi kenangan masa kecil kembali menyergapku dan mendudukkan aku di salah satu joknya. Kusir lalu menarik tali kekang kuda yang kemudian berlari dengan kecepatan lambat mengitari jalan raya di sekeliling alun-alun. Sesuatu yang tiba-tiba tadi, masih menghuni batok kepalaku.

Setelah turun dari andong, aku kembali ke alun-alun. Kutemukan Mbah Munir yang tetap sibuk dengan pelanggannya. Dilayani kesemuanya.

Meracik es, mengocok, lalu menerima sejumlah uang. Pembeli satu pergi. Pembeli berikutnya datang mengisi. Mbah Munir kembali mengulangi prosesi yang tadi. Kepalaku semakin berputar-putar.

Langkahku kembali terayun menikmati setiap sudut alun-alun. Es kocokku sudah tidak sedingin tadi. Kali ini hatiku dipikat martabak Pak Is yang menjadi primadona, membuat para penjual martabak lainnya hanya sebagai opsi yang baru akan dilirik saat si jawara libur berjualan atau terlalu cepat habis.

Banyak cerita berhamburan dan ikut-ikutan berkembang. Ada yang bilang Pak Is pakai jimat penglaris, sampai campuran minyak babi dalam margarinnya. Dan aku adalah satu dari banyak orang yang mengabaikan.

Bukan karena sedang tak bersinergi dengan klenik. Tapi lebih karena martabak Pak Is memang punya rasa paling memikat, dibanding kepingan kabar yang akan sangat sulit terbuktikan.

“Isi kacang, Pak Is.”

Senyum lelaki lima puluh tahunan itu tertebar manis, dan mungkin saja ada remah-remah senyuman yang tertumpah ke atas adonan tepung lalu menularkan kemanisannya. Para pembeli semuanya berwajah tergesa, berebut menjadi yang lebih dulu dilayani maestronya.

Tapi sampai pembeli terakhir bubar, aku masih menjadi satu-satunya pelanggan yang bersabar. Adonan tepung masih tersisa beberapa gulung dan tidak ada alasan bagi lelaki itu untuk tidak menjualnya.

Apalagi malam masih terlalu muda dan digemerlapkan ribuan gemintang. Mustahil bagi seorang pedagang ingin buru-buru pulang dan berbaik hati melepaskan sisa rupiah.

“Saya pembeli, bukan peminta!”

Bukannya bergegas meracik, Pak Is justru memilih duduk manis sembari tetap memamerkan wajah manis kepada para kaum pejalan kaki yang rata-rata bersenyum manis. Senyum itu seolah berisi permintaan mampir untuk sudi membeli. Yang sedari tadi di kepala, mendekati pecah saja.

Ke arah utara tujuanku berikutnya. Perempuan bermodal dipan dengan tumpukan lontong di atasnya. Itu adalah makanan kesukaan Bapak dan para orang sepuh lainnya. Pilihan menu baru agaknya lebih dianggap sebagai kosakata asing yang tidak ditemukan dalam kamus alih bahasa.

Bagi beberapa orang, terutama manula, mencoba hal baru tidak lebih menarik dibanding kebiasaan lama yang telanjur memberikan rasa nyaman dalam melakukannya.

Setelah lelah melangkah ke mana-mana, terduduk aku pada bangku panjang berpayung rerimbunan pohon beringin raksasa dengan reranting terbagi ke arah-arah terserah, yang ketika di siang terik akan mampu meneduhi beberapa pedagang minuman dingin sekaligus.

Es kocokku telah menjadi minuman yang berubah suhunya. Tetapi bukan karena alasan itu ia tidak lagi menjadi istimewa. Telah kutemukan sesuatu yang baru dan lebih menarik.

Mbah Munir setelah tiba-tiba berjualan lagi, mendadak kembali sebagai lelaki berwajah pucat. Demikian juga dengan kusir, penjual lontong, penjual seruling bambu, penjual ketapel.

Kepada merekalah, aku akan dilayani dengan sepenuh hati meski tanpa senyum dan tetap berwajah pucat. Hanya jika berwajah cerah dan manis, kau baru akan dilayani oleh Pak Is, oleh penjual burger, penjual fried chicken, juga pemilik wahana permainan sekuter itu.

Aku sudah berteriak-teriak mencobanya dan tidak dipedulikannya.

Pengunjung alun-alun pun, meski tampak membaur, jika diamati -harus dengan teliti karena malam hari- maka akan terbagi juga menjadi dua koloni: berwajah pucat dan berwajah cerah.

Tidak ada satu pun pemilik wajah cerah yang bersedia membeli kepada penjual berwajah pucat. Sebaliknya, pemilik wajah pucat juga hanya akan dilayani oleh para penjual pucat.

Semakin malam, pengunjung berwajah cerah akan semakin berkurang. Sedangkan pemilik wajah pucat akan semakin berduyun-duyun datang. Mereka mengisi setiap jok andong dan berjajar mengantre di depan para penjual jajanan tempo dulu.

Semuanya tampak gembira dengan wajah pucatnya dan meski tanpa senyum. Aku bisa merasakannya, sesuatu yang kubisa tanpa lebih dulu mempelajarinya. Seakan semua terjadi dengan tiba-tiba dan begitu saja.

Dua remaja mendadak duduk di sebelahku. Keduanya berwajah cerah dan tampaknya sepasang kekasih. Aku sudah belajar memahami, si muka pucat tak akan dianggap ada oleh si muka cerah.

“Jangan di sini,” elak si gadis. Aku mendengus muak, tapi tak memilih pergi. Bagaimana pun akulah yang lebih dulu di sini dan lebih berhak menguasai tempat ini.

“Ayolah.”

“Kau tak takut larangan itu!” tunjuk si gadis pada tulisan besar-besar yang dipasang pada papan pengumuman. Tapi siapa pun tahu, di mana-mana, yang namanya peringatan adalah sebuah basa-basi yang super basi.

“Lagi pula kecelakaan kemarin itu di jalan belakang kita ini lho…”

“Alaaah… Yang sebenarnya terjadi adalah, kota ini membutuhkan banyak tumbal untuk menyempurnakan gedung-gedungnya.”

Si gadis tergugu. Pemudanya tampak kesal. Ditinggalkannya si gadis tanpa sisa rasa iba. Sambil mengumpat, ia membuat langkah menjauh yang terburu-buru.

Dikepal-kepalkan tangannya ke arah belakang, tepatnya ke muka si gadis, alpa melihat kiri kanan saat hendak menyeberang jalan. Lalu…

Hanya mereka yang berwajah cerah yang berhamburan mendekati warna merah yang tertumpah ke altar jalan. Pemilik wajah pucat tetap dengan wajah pucat dan datar.
***
AKU kembali datang ke alun-alun kota pada keesokan malamnya. Mbah Munir tidak lagi semenarik sebelumnya.

Aku lebih terpaku pada sosok berwajah pucat yang membeku sendirian di bangku kayu. Lelaki tak tahu diri kemarin. ***

Pasini, cerpenis tinggal di Ngawi, Jawa Timur. Tulisannya pernah tersiar di Femina, Media Indonesia, dan lainnya.

Redaksi menerima cerpen. Tema bebas tidak SARA. Karya belum pernah tayang di media mana pun baik cetak, online, juga buku. Kirim karya ke editorcendana@gmail.com. Disediakan honorarium bagi karya yang ditayangkan.

 

Lihat juga...