Pembesaran Lele Kolam Terpal, Beri Nilai Tambah Ekonomi

Editor: Satmoko Budi Santoso

LAMPUNG – Potensi air bersih lancar dari Gunung Rajabasa, Lampung Selatan (Lamsel) memberi keuntungan bagi pembudidaya ikan air tawar khususnya lele.

Suyatno, salah satu pemilik usaha pembesaran ikan lele menyebut, jenis air dan tanah di wilayah itu cocok untuk lele masamo dan lele mutiara.

Pembesaran dilakukan mempergunakan kolam terpal berbagai ukuran pada lahan seluas sekitar 3000 meter persegi. Selain memiliki kolam terpal ia juga memiliki kolam tanah dan kolam permanen dari semen untuk budidaya gurame dan nila.

Suyatno membesarkan ikan lele masamo dan mutiara dengan benih mulai ukuran 5-7 cm dari tempat pembenihan kecamatan setempat. Proses pembesaran mempergunakan kolam terpal diakui Suyatno lebih praktis.

Sebab bermodalkan kayu, bambu dan terpal plastik, ia bisa membuat kolam berukuran 2×3 meter, 3×4 meter hingga 4×6 meter. Kolam-kolam tersebut dipergunakan untuk pembesaran ikan berbagai ukuran hingga siap dipanen setelah memasuki usia 3 bulan.

Penggunaan kolam terpal diakui Suyatno lebih praktis, sebab proses perawatan dan pengawasan lebih mudah. Ia juga tidak harus melakukan proses penggalian pada lahan yang akan dibuat menjadi kolam.

Sistem budidaya kolam terpal dengan sumber pengairan alami dari sungai memakai pompa air membuat proses sirkulasi air lebih lancar. Peneduh alami dari sejumlah pohon pisang, alpukat dan mangga sekaligus mendukung kestabilan suhu pada kolam terpal yang dimilikinya.

“Sistem tebar padat saya aplikasikan untuk mendapatkan hasil maksimal dengan penggunaan pakan masih mengandalkan pakan pabrikan. Sebagian didukung pakan alami organik untuk efisiensi pakan,” terang Suyatno saat ditemui Cendana News, Senin (22/4/2019).

Budidaya ikan lele sistem mandiri tanpa terlibat dengan kelompok pembudidaya ikan (Pokdakan) telah diterapkan Suyatno hampir setahun terakhir. Proses budidaya ikan dengan kolam terpal diperolehnya melalui proses belajar otodidak sebagian belajar dari Youtube.

Berdasarkan perhitungan per kilogram ikan yang dihasilkan dalam pembesaran membutuhkan 8 ons pakan. Dengan asumsi per kolam bisa mendapatkan 1 ton ia menyebut, membutuhkan sebanyak 8 kuintal pakan.

Saat ini harga per sak berisi sekitar 50 kilogram pakan dibeli dengan harga Rp300.000. Meski harga pakan cenderung naik dari semula hanya seharga Rp280.000 per sak namun ia menyebut, hasil yang diperoleh masih bisa digunakan menutupi biaya operasional.

Pada tingkat petani harga per kilogram ikan lele siap konsumsi untuk pangsa pasar kuliner pecel lele dijual seharga Rp17.000 atau untuk satu ton ikan lele ia bisa mendapatkan omzet sekitar Rp17juta.

Permintaan tersebut diakuinya dipergunakan untuk memenuhi sejumlah pedagang kuliner pecel lele di wilayah Penengahan yang dilakukan oleh distributor.

“Sistem penjualan hasil panen bekerjasama dengan distributor untuk memasok ikan lele ke pedagang kuliner pecel lele serta rumah makan,” beber Suyatno.

Suyatno menyebut, sistem budidaya menggunakan kolam terpal selain olehnya juga mulai dibudidayakan oleh warga lain. Setidaknya ada sekitar puluhan pembudidaya ikan lele sistem kolam terpal di wilayah tersebut.

Puluhan pembudidaya ikan lele saling berkoordinasi untuk memenuhi kebutuhan distributor dengan kuota sekitar 1,5 kuintal per pekan. Kerjasama saling menguntungkan diakuinya dijalin antarpara pembudidaya untuk kelancaran usaha pada sektor perikanan air tawar tersebut.

Meski harga di tingkat petani terbilang rendah karena di pengecer dijual Rp23.000 ia memastikan tetap melakukan pembesaran.

Suyatno memastikan, selain bisa memenuhi kebutuhan bahan baku kuliner di kecamatan Penengahan, ia mulai merambah kecamatan Bakauheni dan Kalianda. Sistem budidaya ikan lele kolam terpal yang dilakukannya memiliki keunggulan karena sirkulasi air bersih yang lancar.

Meski dibudidayakan pada kolam terpal ia menjamin pasokan air bersih cukup baik sehingga menjaga kualitas ikan yang dibudidayakannya. Kuota kebutuhan hingga 1 ton per bulan disebutnya untuk distributor bisa dipenuhi dari kolam miliknya dan milik pembudidaya lain.

Wagimin, distributor ikan lele untuk kebutuhan warung kuliner menyebut, ikut terbantu dengan banyaknya warga melakukan budidaya ikan lele. Sebagai distributor sekaligus pelaku usaha pembesaran ikan lele, nila dan gurame ia kerap kehabisan stok.

Wagimin, salah satu distributor ikan lele untuk usaha kuliner pecel lele di wilayah Penengahan – Foto: Henk Widi

Jalinan kemitraan dengan sejumlah pembudidaya ikan menjadi cara agar stok di kolam penampungan miliknya selalu tersedia.

“Meski kami tidak membentuk kelompok pembudidaya ikan namun ketergantungan saling menguntungkan membuat usaha berjalan lancar,” beber Wagimin.

Wagimin mengaku, dalam sebulan bisa menerima pesanan hampir sekitar 1 ton ikan lele. Ikan lele tersebut dipergunakan untuk memasok kebutuhan sejumlah pedagang kuliner, warung makan yang berada di sepanjang Jalan Lintas Sumatera (Jalinsum).

Dominasi pesanan ikan lele dari budidaya kolam terpal plastik per kilogram berisi sekitar 10 hingga 13 ekor lele. Jika ukuran sudah cukup besar pesanan berasal dari sejumlah warung makan.

Lancarnya pasokan ikan lele dari Desa Pasuruan disebut Wagimin membuat ia tidak perlu mencari ke kecamatan lain. Sebagai wilayah yang memiliki potensi air bersih mengalir lancar ia menyebut, desa Pasuruan bisa menjadi sentra perikanan air tawar.

Kondisi tersebut semakin didukung dengan adanya sejumlah tempat pemijahan atau penyedia bibit dengan benih bersertifikat. Ikan lele yang dominan dan cocok dibudidayakan dengan kondisi air di wilayah tersebut merupakan jenis masamo dan mutiara yang mulai bisa dipanen memasuki usia 75 hari.

 

Lihat juga...