Pemda Lebak Dorong Destinasi Wisata Badui Mendunia

Bupati Lebak Iti Octavia Jayabaya [Ant]

LEBAK — Bupati Lebak Iti Octavia Jayabaya mengatakan, pemerintah daerah mendorong destinasi wisata Badui mendunia, salah satunya dengan memasukkannya dalam rencana pembangunan jangka menengah daerah (RPJMD) 2019-2024.

“Kami optimistis destinasi wisata Badui akan dibanjiri wisatawan mancanegara karena memiliki keunikan, di mana masyarakatnya hingga kini mempertahankan budaya nenek moyang dan menolak kehidupan modern.” kata Iti Octavia di Lebak, Banten, Sabtu (13/4/2019).

Budaya masyarakat Badui terus didorong untuk lebih mendunia dengan berbagai promosi yang dilakukan pemerintah daerah. Destinasi wisata Badui menjadikan ikon Kabupaten Lebak, karena tidak dimiliki oleh daerah lain di Tanah Air.

Bahkan, para aparatur sipil negara (ASN) di lingkungan Sekretariat Pemerintah Kabupaten Lebak diwajibkan setiap Rabu mengenakan pakaian batik Badui juga ikat lomar di atas kepala.

Masyarakat Badui yang tinggal di Gunung Kendeng, termasuk suku asing, karena mereka membangun kehidupan tersendiri baik di bidang pertanian maupun pergaulan sosial.

Mereka mempertahankan kehidupan adat yang diajarkan dari nenek leluhur, seperti bertani dilarang menggunakan cangkul maupun pupuk kimia.

Begitu juga di lingkungan permukiman Badui Luar (Badui Penamping) dan Badui Dalam (Urang Badui jero) dilarang menggunakan barang perabotan elektronika dan kendaraan. Mereka menolak pembangunan infrastuktur jalan, jembatan dan penerangan listrik.

Namun, masyarakat Badui sangat mencintai pelestarian hutan dan lahan agar hijau serta asri. Masyarakat Badui antara lain melarang melakukan penebangan pohon karena penebangan pohon dapat mengakibatkan kerusakan hutan yang pada akhirnya bisa menimbulkan malapetaka seperti bencana alam.

Keunikan masyarakat Badui yang juga tetap mempertahankan adat leluhurnya menolak kehidupan modernisasi, telah mendunia dan menjadi daya tarik wisatawan.

Masyarakat Badui hidup penuh kesederhanaan dengan membangun rumah-rumah terbuat dari bambu, kayu hutan dan atap injuk pohon aren.

Warga Badui tinggal di permukiman kawasan hak tanah ulayat di Desa Kanekes Kecamatan Leuwidamar dengan luas lahan 5.110 hektare yang terdiri dari 3.000 hektare hutan adat dan 2.110 hektare permukiman, serta jumlah penduduk di atas 11.000 jiwa.

Masyarakat Badui Dalam yang tersebar di Kampung Cibeo, Cikawartana dan Cikeusik menggunakan pakaian putih-putih hingga kini selalu berpergian dengan berjalan kaki tanpa kendaraan, sekalipun ke Jawa Timur.
Apabila, warga Badui Dalam menggunakan kendaraan angkutan maka akan dikenakan sanksi berat.

“Destinasi wisata Badui tentu cukup unik, karena bagian peninggalan khasanah budaya kerajaan Sunda itu,” katanya.

Untuk mendongkrak pengunjung wisata Badui, pemerintah daerah terus membenahi pembangun infrastruktur jalan betonisasi, jembatan, sarana penerangan listrik dan angkutan.

Selama ini, potensi destinasi wisata Badui memiliki nilai jual hingga mendunia karena cukup menarik untuk dijadikan bahan penelitian. Pemerintah daerah dapat mengembangkan objek wisata adat sehingga dapat mendongkrak pendapatan asli daerah (PAD) dan pertumbuhan ekonomi masyarakat.

“Kami yakin objek wisata itu bisa mendatangkan wisatawan mancanegara,” ujarnya.

Sekrletaris Desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, Sarpin mengatakan selama ini rombongan pengunjung objek wisata Badui kebanyakan dari perguruan tinggi, sekolah, peneliti, lembaga, instansi swasta, dan pemerintah.

“Kami yakin melalui pengembangan destinasi wisata Badui, kunjungan wisatawan akan meningkat, baik wisatawan mancanegara maupun wisatawan lokal,” kata Sarpin. [Ant]

Lihat juga...