Pemilu di Lamsel, Tingkatkan Omzet Usaha Kuliner

Editor: Koko Triarko

158

LAMPUNG – Pesta demokrasi yang digelar setiap lima tahun sekali, memberi dampak positif bagi sejumlah usaha kuliner di Lampung Selatan. Pasalnya, dalam gelaran pemilihan umum serentak ini, sejumlah Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS) bekerja sejak pagi hingga siang, sehingga membutuhkan konsumsi makanan serta minuman. Pesanan akan konsumsi makan siang serta makanan kecil, pun meningkat.

Nurul Damayanti, warung masakan Padang, mengatakan, pesanan nasi dari sejumlah Tempat Pemungutan Suara (TPS) sudah dilakukan sepekan sebelum pemilu. Ia menerima pesanan nasi bungkus lebih banyak dibanding hari biasa, bahkan hingga ratusan bungkus yang diambil langsung oleh petugas untuk makan siang.

Nurul Damayanti, pemilik usaha kuliner di Jalan Lintas Sumatra kebanjiran order nasi bungkus -Foto: Henk Widi

Menurutnya, petugas TPS sengaja memilih konsumsi makan dari warung untuk memudahkan kegiatan pemungutan suara. Di wilayah Desa Pasuruan, ada 10 TPS dari sekitar 12 TPS yang memilih memesan nasi bungkus untuk kebutuhan konsumsi petugas.

Warung berkonsep harga serba sepuluh ribu (Serbu), dipilih karena cukup hemat dan terjangkau dengan menu nasi, sayur, sambal dan lauk ayam goreng.

“Pemilu pada tahun ini persis sama dengan penyelenggaraan pemilu kepala daerah tahun sebelumnya. Banyak TPS yang menyerahkan penyediaan konsumsi pada kami, istilahnya katering,” beber Nurul Damayanti, saat ditemui Cendana News, Rabu (17/4/2019).

Paket hemat Rp10.000 cukup diminati, karena praktis dan ekonomis. Dengan pesanan sekitar 20 bungkus per satu TPS, ia menerima Rp200 ribu. Maka dari 10 TPS, ia bisa mendapatkan omzet sekitar Rp2 juta, belum termasuk pelanggan umum.

Pelanggan umum di antaranya merupakan pengendara yang mampir untuk makan di warung yang berada di jalan Lintas Sumatra KM 70 tersebut.

Selain dikemas dengan kertas bungkus, ada pula yang memesannya dengan kemasan kotak nasi, dengan harga per bungkus diberi tambahan Rp1.000. Proses memasak untuk kebutuhan petugas TPS dilakukan sejak pagi, karena sebagian sudah diambil menjelang makan siang. Pesanan dari sejumlah TPS selama penyelenggaraan pemilu, membuat makanan yang terjual lebih cepat habis dibanding hari biasa.

“Pada kondisi normal, warung yang buka sejak pagi akan buka sampai malam. Kini dengan adanya pemilu, saat sore makanan yang disediakan sudah habis terjual,”cetus Nurul Damayanti.

Selain penyedia warung makan, penyelenggaraan pemilu serentak juga menguntungkan bagi para pembuat kue.

Sumaini, pemilik usaha pembuatan kue tradisional, mengaku mendapatkan pesanan kue dengan sistem paket. Satu paket kue dengan harga Rp200.000, bisa memperoleh pisang goreng, tahu isi, bakwan, lemper, arem-arem serta beberapa jenis kue lainya. Kebutuhan kue basah menjadi pelengkap karena sebagian kue untuk petugas TPS merupakan kue kering.

“Kue basah hanya sebagai pelengkap, namun beberapa TPS memesan cukup banyak selama kegiatan pemungutan suara,” beber Sumaini.

Sumaini menyebut, berjualan di Jalinpantim saat pemilu serentak, membuatnya tetap bisa menggunakan hak pilih. Dibantu sang anak, ia masih bisa berjualan, selanjutnya tetap bisa mendatangi TPS. Selain menyediakan kue pesanan yang disebutnya dalam penyelenggaraan pemilu memberi omzet ratusan ribu, ia juga menyediakan kue bagi petugas jasa penyeberangan kapal. Pelayanan di pelabuhan Bakauheni yang tetap berjalan normal, membuatnya memilih tidak libur.

Matias Krismanto, Ketua KPPS Pasuruan, menyebut pemesanan nasi bungkus serta kue bersifat fleksibel. Sejumlah petugas memiliki kesempatan untuk makan siang, setelah seluruh warga menggunakan hak pilih.

Pilihan memesan makanan di usaha kuliner, sebutnya, untuk memudahkan panitia tetap menjalankan tugas tanpa mengesampingkan kebutuhan konsumsi.

Pelaksanaan pemungutan suara, yang digelar sejak pagi diakhiri dengan penghitungan suara, disaksikan oleh petugas pengawas TPS, dan saksi, selanjutnya kotak suara akan dikirimkan ke Panitia Pemilihan Kecamatan.

Lihat juga...