Pemkab Malang Targetkan Penurunan Stunting

Ilustrasi -Dok: CDN

MALANG – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Malang, Jawa Timur, menargetkan penurunan angka stunting pada 2019, hingga mencapai 10 persen, dari 20 persen pada 2018, bahkan pada 2017 menyentuh angka 28,3 persen dari jumlah bayi secara keseluruhan.

Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kabupaten Malang, Tomie Herawanto, mengemukakan, dari sampel yang diambil sebanyak 140.637 bayi pada 2018, sekitar 20 persen di antaranya mengalami stunting.

“Karena itu, penanganan dan mencari solusi yang tepat untuk menurunkan angka stunting ini menjadi pekerjaan rumah (PR) bagi kami, dan kondisi ini harus segera dituntaskan. Paling tidak, tahun ini persentase angka stunting bisa turun menjadi 10 persen dari angka 20 persen,” katanya, Sabtu (6/4/2019).

Meski angka stunting di Kabuapten Malang mencapai 20 persen pada 2018, secara nasional masih tergolong rendah dibandingkan dengan daerah lain di Tanah Air. Di Jawa Timur, pada 2018 kasus stunting mencapai 25,2 persen, sedangkan nasional mencapai 30,8 persen.

Penyebab stunting di Kabupaten Malang, di antaranya adalah kekurangan gizi kronis, kekurangan asupan omega 3, protein dari berbagai jenis ikan segar, infeksi berulang atau stimulan psikososial yang tak memadai, terutama dalam 1.000 hari pertama kehidupan (kelahiran). Stunting mengakibatkan kemampuan kognitif tidak berkembang maksimal dan mudah sakit.

Berbagai upaya dilakukan Pemkab Malang untuk menurunkan angka stunting, bahkan Dinas Ketahanan Pangan (DKP) juga turun tangan, dan menetapkan 10 desa menjadi fokus penanganan stunting.

Ke-10 desa tersebut adalah Desa Dilem di Kecamatan Kepanjen, Pandanrejo di Kecamatan Wagir, Sumbermanjing Kulon di Kecamatan Pagak, Codo di Kecamatan Wajak, Pandanrejo di Kecamatan Pagak, Mentaraman di Kecamatan Donomulyo, Kedungrejo di Kecamatan Pakis, Madiredo di Kecamatan Pujon, Tamanharjo di Kecamatan Singosari, dan Desa Dalisodo di Kecamatan Wagir.

Tingginya angka stunting tersebut tidak hanya terjadi di Kabupaten Malang, di Kota Malang dan Batu pun juga demikian. Di Kota Malang angka stunting mencapai 7.074 bayi, dan di Kota Batu jumlahnya naik dua kali lipat dari sebelumnya, yakni dari 660 menjadi 1.237 bayi.

Kepala Dinas Kesehatan (Kadinkes) Kota Malang, Asih Tri Rachmi Nuswantari, mengakui jumlah bayi penderita stunting memang masih tinggi. Dari pendataan di 16 puskesmas di Kota Malang, jumlah kasus stunting pada akhir 2018 tercatat dari 59.000 bayi dan balita, 7.074 di antaranya atau 20,82 persen mengalami stunting.

Jumlah bayi stunting terbanyak ditemukan di Puskesmas Kedungkandang, yakni mencapai 1.565 bayi stunting. Selanjutnya, Puskesmas Kendalkerep 702 bayi, dan Puskesmas Ciptomulyo 668 bayi.

Karena itu, pada 2018 dilakukan standardisasi melalui perbaikan kemampuan kader, alat-alat, dan penghitungan menggunakan IT, jumlah kasus anak yang mengalami stunting naik signifikan hingga 20,82 persen.

Dari jumlah tersebut, 14,29 persen atau 4.865 adalah anak dengan kriteria stunting pendek, 6,55 persen atau 2.229 adalah anak dengan kriteria stunting sangat pendek. (Ant)

Lihat juga...