hut

Pemuda Asal Gunungkidul Ini Sukses Kembangkan Usaha ‘Web Developer’

Editor: Koko Triarko

Andi Praesti (29), pemuda asli Gunungkidul yang sukses mengembangkan usaha jasa pembuatan website –Foto: Jatmika H Kusmargana

YOGYAKARTA – Memanfaatkan perkembangan dunia digital yang begitu pesat, seorang pemuda asal Tepus, Gunungkidul, sukses mengembangkan usaha jasa pembuatan website. Memiliki 13 orang karyawan, ia mampu mencapai omzet belasan hingga puluhan juta rupiah setiap bulannya.

Andi Praesti (29), pemuda asli Gunungkidul yang kini tinggal di Caturtunggal, Depok, Sleman, ini mengaku mulai merintis usahanya semenjak lulus kuliah. Bersama rekannya, ia memulai usaha web developer atau jasa pembuatan website secara online pada 2014.

“Awalnya, saya dan teman, hanya buka jasa pembuatan website secara online. Jika ada pesanan, kita mengerjakan di rumah. Waktu itu belum punya kantor resmi seperti sekarang,” kata pria lulusan D3 Manajemen Informatika di sebuah kampus swasta di Yogyakarta ini, Selasa (16/04/2019).

Karena masih awal, ia mengaku cukup kesulitan mendapatkan pelanggan. Ia pun terpaksa ‘nyambi’ bekerja di sebuah perusahaan web developer di Yogyakarta. Selain menambah pengalaman, ia juga mengaku mendapat banyak ilmu mengenai usaha jasa pembuatan website dengan bekerja di perusahaan lain.

“Awalnya, saya ditempatkan di bagian programmer. Namun mungkin karena dinilai kurang cocok, saya lalu dipindah ke bagian marketing. Dari situ saya banyak belajar, bagaimana mendapatkan pelanggan. Sehingga ilmu itu bisa saya aplikasikan ke usaha yang tengah saya rintis sendiri,” katanya.

Setelah 1,5 tahun berjalan, usahanya mulai mendapatkan banyak pelanggan. Andi kemudian memutuskan untuk resign dari tempatnya bekerja. Ia mengaku ingin fokus mengembangkan usaha web developer miliknya sendiri. Bersama rekannya, ia kemudian membesarkan usahanya yang diberi nama Jogja Media Web itu.

“Kita membuka jasa pembuatan website untuk para pelaku-pelaku usaha atau UKM. Seperti produsen produk kerajinan, makanan, hingga pelaku usaha jasa tour and travel. Biasanya, mereka membutuhkan website untuk sarana promosi. Ada juga pelanggan kita yang berasal dari sekolah-sekolah, instansi, dan sebagainya,” katanya.

Andi menawarkan jasa pembuatan website dengan harga bervariasi. Harga itu tergantung vitur, desain, kapasitas maupun tingkat kesulitan setiap website yang dibuat. Untuk website paling sederhana, Andi mematok harga Rp500 ribu. Sementara tarif pembuatan website paling mahal bisa mencapai Rp50 juta sekali buat.

“Dalam sebulan, kita biasa menerima pesanan sekitar 15-20 web. Satu buah web, biasanya selesai dikerjakan dalam waktu 10-14 hari. Jadi, kita ada tim. Mulai dari programer tetap, programer freelance, hingga ada anak-anak sekolah yang magang di sini,” katanya, yang kini membuka kantor di Jalan Sengon, Caturtunggal, Depok, Sleman.

Menurut Andi, selain persaingan yang cukup ketat, salah satu tantangan usaha jasa pembuatan website, khususnya di wilayah Yogyakarta, saat ini adalah bagaimana membuat tampilan website yang menarik untuk perangkat mobile. Pasalnya, mayoritas masyarakat saat ini lebih banyak membuat website lewat HP mereka dibandingkan melalui dekstop atau perangkat komputer.

“Di Jogja, memang persaingan cukup ketat. Karena di sini banyak terdapat web developer. Sehingga memang harus pintar-pintar mencari konsumen dan menawarkan jasa sebaika mungkin,” pungkasnya.

Lihat juga...