hut

Penanaman padi di Penengahan Masih Lestarikan Liuran

Editor: Mahadeva

LAMPUNG – Penanaman padi di Kecamatan Penengahan, Lampung Selatan (Lamsel) masih mempertahankan cara tradisional. Proses penanaman, perawatan, hingga pemanenan memanfaatkan warga dengan sistem gotong royong.

Ahmad (50), salah satu warga menyebut, sebagian warga Desa Tanjungheran yang didominasi dari Sunda menerapkan kearifan lokal liuran, sebuah kerjasama komunal dalam bidang pertanian. Tradisi liuran dimulai pada awal menanam dikenal dengan tandur, penyiangan gulma atau matun, pemanenan padi atau ngarit. Semua cara tersebut dilakukan dalam konteks kebersamaan, sekaligus pembagian dari hasil pekerjaan yang telah dilakukan.

Liuran pada saat proses tandur, petani di Tanjungheran menerapkan sistem ceblok. Sistem ceblok merupakan cara petani memperoleh tenaga kerja tanam padi. Saat tandur dilakukan kaum perempuan, dan kaum laki-laki mencabut benih padi atau ndaut.

Proses ndaut dan tandur dilakukan sekira 20 hingga 30 orang. Mereka sekaligus menjadi perawat dan pemanen padi. “Semua aktivitas mulai dari awal masa tanam, hingga masa panen kerap kami sebut liuran karena semua pekerjaan dilakukan secara gotong royong untuk mendapatkan hasil dengan pembagian merata,”papar Ahmad salah satu warga saat ditemui Cendana News, Minggu (14/4/2019).

Liuran memiliki nilai historis, karena sebagian warga yang merupakan pendatang belum atau tidak memiliki sawah. Hal itu dilakukan, sebagai upaya untuk bisa memiliki gabah. Warga mulai bekerja pada pemilik lahan yang menanam padi.

Pemilik sawah akan mencari tenaga kerja, menyesuaikan luasan lahan, serta jumlah petak yang akan ditanami padi. Pada lahan yang tengah dipanen oleh Ahmad dan warga lain, merupakan milik warga Desa Tanjungheran bernama Umar Said. Di proses ceblok atau tanam padi, perempuan penanam padi akan menanam di beberapa petak sawah. Lahan seluas dua hektare, dibagi menjadi empat bagian dengan tenaga kerja masing masing sekira 20 orang.

Lahan yang diceblok, menjadi bagian dari penanam dan hasilnya akan dibagi dengan perbandingan enam berbanding satu. Saat mendapatkan tujuh ember padi, maka satu ember akan menjadi hak pemanen dan enam ember bagi tenaga ceblok. “Disinilah makna liuran bermula, jadi setiap penanam akan mendapatkan hasil padi secara berkelompok, dan dibagi merata sesuai jumlah yang diperoleh,” cetus Ahmad.

Hasil panen padi yang bagus, membuat warga bisa memperoleh padi untuk dibawa pulang dalam jumlah banyak. Satu kali panen dengan sistem liuran, warga bisa memperoleh bagian sesuai dengan jumlah padi yang dirontokkan. Saat memperoleh hasil 10 karung gabah, maka akan dibagi dalam bentuk gabah, beras atau diuangkan setelah dijual tergantung kesepakatan. Sistem bagi hasil tersebut, membuat warga bisa mendapatkan bagian meski tidak memiliki lahan pertanian padi.

Melalui kearifan lokal, Liuran Ahmad juga menyebut proses penanaman hingga pemanenan akan berlangsung cepat. Kebersamaan dalam proses pemanenan menjadikan warga memiliki kesempatan, untuk memperoleh gabah atau beras saat musim panen.

Dalam satu kali musim tanam hingga panen, puluhan warga tersebut bisa melakukan kegiatan liuran lebih dari 20 bidang dari ribuan hektare lahan sawah di wilayah tersebut. “Semakin banyak bidang sawah yang kita tanami hingga panen maka perolehan hasil gabah semakin banyak,” beber Ahmad.

Rusmiati, salah satu warga Desa Tanjungheran,Kecamatan Penengahan memanen padi varietas Ciherang – Foto Henk Widi

Warga lain, Rusmiati, menyebut, meski berperan sebagai petani mereka lebih dikenal dengan petani gurem. Meski berprofesi sebagai petani, namun sebagian besar tidak memiliki tanah, jika memiliki lahan garapan sebagian memakai sistem menumpang dan mengontrak tanah.

Sistem gadai sawah juga menjadi cara petani memperoleh hasil dari menanam padi sawah. Namun kearifan lokal Liuran, dari awal tanam hingga panen membuat warga terutama kaum perempuan masih memiliki cadangan gabah.

Rusmiati menyebut, kehadiran alat dan mesin pertanian (Alsintan) mulai dari penanam padi (rice transplanter), hingga pemanen padi (combine harvester), menggeser peran manusia. Beruntung di wilayah Penengahan, dengan kontur sawah terasering di bawah kaki Gunung Rajabasa, membuat alat tersebut sukar digunakan.

Kebijakan untuk menghindari penggunaan alsintan modern, sekaligus menjadikan kearifan lokal liuran bertahan. Sebab masa tanam, penyiangan gulma, hingga pemanenan, bisa menjadi sumber penghasilan bagi warga.

Lihat juga...