hut

Pengamat Sarankan Pemerintahan Terpilih Dorong Pendidikan Vokasi

Ilustrasi kegiatan belajar mengajar di dalam kelas -Dok: CDN

JAKARTA – Pengamat ekonomi, Hisar Sirait, menyarankan agar pemerintahan yang akan terpilih, untuk menyelaraskan struktur pendidikan dengan konsep link and match, terkait penciptaan lapangan kerja.

“Orang percaya, bahwa lapangan kerja haruslah diciptakan oleh suplai. Tapi dengan pola kondisi saat ini, adalah kita harus bisa memastikan, bahwa struktur pendidikan kita, baik yang sifatnya sektor pendidikan yang melekat di dalam pendidikan formal maupun informal itu selaras dengan konsep link and match,” ujar Rektor Institut Bisnis dan Informatika Kwik Kian Gie Jakarta, Kamis (18/4/2019).

Dia menjelaskan, bahwa sekarang institusi pendidikan memastikan bahwa apa yang institusi itu berikan kepada generasi muda mulai dari mereka masuk dari level pendidikan menengah, terutama SMK, mengingat pendidikan menengah kejuruan itu menjadi prioritas.

“Saya melihat untuk 10 sampai dengan 15 tahun mendatang, industri yang akan masuk ke Indonesia, yakni industri yang membutuhkan semiskilled labour, yang berasal dari SMK kalau dari sisi sekolah menengah, dan vokasi untuk tingkat pendidikan tinggi atau universitas,” ujar pengamat itu.

Hisar juga menambahkan, bahwa saat ini pemerintahan yang akan terpilih harus lebih banyak lagi mendorong pendidikan-pendidikan vokasi, sehingga lebih banyak lagi anak-anak muda yang memiliki keterampilan.

Selain itu, menurut dia, harus ada perubahan paradigma di dalam penyiapan tenaga-tenaga kerja dalam level semiskilled labour.

Ia mengatakan, budaya untuk memasukkan generasi muda ke sekolah-sekolah yang memberikan keterampilan, seperti SMK dan pendidikan vokasi, masih sangat rendah. Budaya masyarakat saat ini cenderung memasukkan anak-anaknya ke SMA atau universitas.

“Padahal, sebetulnya peta pembangunan industri kita untuk 15 tahun mendatang adalah industri yang membutuhkan semiskilled labour atau tenaga kerja yang semi-skill. Siapa yang bisa menjawab hal ini? Hanya SMK dan pendidikan vokasi,” ujar Hisar.

Pengamat ekonomi itu berharap, hal tersebut bisa menjadi dorongan kepada siapa pun sosok yang akan terpilih sebagai menteri pendidikan serta menteri riset, teknologi, dan pendidikan tinggi, karena seyogianya mereka harus sudah memikirkan pendidikan vokasi yang betul-betul link and match dengan kebutuhan industri. Inilah kemungkinan jawaban bagi pembangunan ekonomi mendatang.

Selain itu, Hisar Sirait juga melihat, bahwa saat ini tren dari peta pengeluaran dunia sekarang sudah masuk pada industri pariwisata atau hospitality. Dengan demikian, harus lebih banyak lagi bidang-bidang di dalam pendidikan Indonesia yang mengarah pada sektor jasa pariwisata. (Ant)

Lihat juga...
error: Terimakasih Sudah Berkunjung !!