Penuhi Kebutuhan Daging , Kaltim Budidayakan Kerbau Kalang

Editor: Mahadeva

SAMARINDA – Pemprov Kalimantan Timur membudidayakan Kerbau Kalang. Langkah tersebut, untuk memenuhi kebutuhan produk peternakan seperti daging, telur dan susu.

Wakil Gubernur Kaltim, Hadi Mulyadi – foto Ferry Cahyanti

Wakil Gubernur Kaltim, Hadi Mulyadi, mengatakan, target kontribusi lokal produk pangan asal ternak akan terus dipacu. “Saat ini kontribusi produk peternakan lokal baru mencapai 79 persen. Kami akan tingkatkan agar bisa mandiri dan berdaulat,” kata dia, Senin (15/4/2019).

Hadi Mulyadi menyebut, peternakan Kaltim memiliki potensi besar. Selain ternak jenis sapi, provinsi ini memiliki hewan ternak plasma nutfah, berupa Kerbau Kalang atau Kerbau Kalimantan Timur. Kerbau Kalang potensial dikembangkan di daerah rawa dan danau. Salah satu wilayah yang cocok adalah di Kabupaten Kutai Kartanegara. Kerbau Kalang sudah dibudidayakan secara turun temurun di Kecamatan Muara Muntai dan Muara Wis. “Saat ini populasi Kerbau Kalang di dua kecamatan tersebut sekitar 1.500 ekor,” imbuh Hadi Mulyadi.

Data Dinas Peternakan setempat, masyarakat Muara Muntai dan Muara Wis beternak kerbau sejak awal 1900-an. Peternak kerbau juga dapat dijumpai di Desa Melintang. Tahun ini, pemerintah mencatat ada sekira 380 ekor populasi Kerbau Kalang. Mereka terus berkembang biak secara alami. Kerbau ini terbagi dalam dua kelompok besar dan hidup bebas di sekitar wilayah Danau Melintang yang habitatnya masih alami.

Kerbau Kalang memiliki ciri tanduk horizontal, melengkung berputar sejalan dengan bertambahnya umur. Kerbau ini memiliki bobot sekitar 500 hingga 570 kilogram perekor. Dengan harga jual di kisaran Rp15 juta hingga Rp20 juta perekor. Jarak kelahiran satu dengan kelahiran berikutnya adalah satu tahun. sedangkan umur produktif mencapai 10 hingga 12 tahun.

Daging kerbau memiliki karakteristik yang mirip dengan daging sapi. Namun, memiliki serat lebih kasar. Tekstur dagingnya lebih liat dengan warna merah pekat cenderung gelap. Daging kerbau memiliki lemak lebih rendah, sehingga sangat baik untuk di konsumsi.

Ditjen Peternakan dan Kesehatan Hewan (PKH) Kementerian Pertanian telah mengkampanyekan gerakan konsumsi daging kerbau. Sebagai upaya diversifikasi pangan di masyarakat yang selama ini lebih suka mengkonsumsi daging sapi.

Pemprov Kalimantan Timur memberikan bantuan berupa perbaikan kandang, sebagai upaya meningkatkan populasi Kerbau Kalang. Ketua Kelompok Ternak Lebak Singkil di Desa Melintang, Alkan, dana senilai Rp150 juta, dipakai untuk menambah kandang dengan luasan 75×8 meter persegi.    Kandang kerbau kalang dibuat dengan tinggi kurang lebih tiga meter dari permukaan tanah. Terdiri dari dua sampai tiga tingkatan, yang bisa menjaga kerbau untuk tetap kering meskipun musim banjir.

Kandang kerbau kalang pernah terbakar di 2002, dan dibangun kembali di tahun itu juga. Pembangunan dengan sumber dana hasil patungan dari petenak. Kerbau Kalang sangat unik. Tergolong hewan penjelajah, karena mampu menembus hutan dan rawa di areal danau hingga 75 kilometer persegi. Kerbau baru dinaikkan ke kalang (kandang) saat banjir meluap.

Kerbau Kalang ditetapkan sebagai plasma Nutfah (sumber daya genetik hewan asli Kaltim) pada 2012 melalui Surat Keputusan Menteri Pertanian Nomor 2843/Kota/LB.430/8/2012 tentang penetapan Rumpun Kerbau Kalimantan Timur, yang saat itu ditandatangani oleh Menteri Pertanian Suswono.

Lihat juga...