hut

Penyintas Tsunami di Kunjir Harapkan Tambahan Fasilitas Penampungan Air

Editor: Satmoko Budi Santoso

LAMPUNG – Sekitar 138 kepala keluarga (KK) penyintas tsunami Selat Sunda pada 22 Desember 2018 silam mulai menempati hunian sementara (huntara) yang dibangun pemerintah.

Sebagian menempati huntara sejak Desember 2018 silam meski masih mempergunakan tenda darurat di lokasi huntara Desa Kunjir.

Masni, salah satu penyintas tsunami asal Dusun Gusung, Desa Kunjir menyebut, ia sudah tinggal di lokasi huntara selama empat bulan sejak tsunami terjadi.

Masni, salah satu penyintas tsunami di huntara Kunjir mencuci menggunakan air yang diambil dengan ember – Foto: Henk Widi

Kehilangan tempat tinggal akibat diterjang tsunami membuat Masni beserta suami dan dua anak mengungsi ke dataran tinggi. Secara bertahap ia mengaku, mendapat bantuan tenda darurat hingga dibangunkan huntara oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).

Ia menyebut, tinggal di blok paling atas bersama penyintas tsunami yang tinggal di blok tengah serta blok bawah. Salah satu kendala bagi penyintas tsunami diakuinya fasilitas bak penampungan air.

Masni menyebut, fasilitas bak penampungan air dibuat pada sejumlah blok namun belum mencukupi kebutuhan penyintas tsunami. Sebagian penyintas tsunami bahkan memilih membeli selang untuk mengalirkan air dari bak penampungan.

Bak penampungan tersebut sebagian dilengkapi fasilitas kamar mandi serta toilet. Meski demikian jumlah penyintas tsunami yang banyak membuat kebutuhan air lebih banyak.

“Sebagian penyintas tsunami mulai memilih membuat kamar mandi dan toilet secara swadaya untuk memudahkan kegiatan mandi serta buang air besar di sekitar lokasi huntara,” beber Masni saat ditemui Cendana News, Minggu (28/4/2019).

Masni juga menyebut, fasilitas selang air yang digunakan untuk mengalirkan air cukup kecil. Bantuan berupa selang serta pipa pvc dengan diameter kecil membuat air yang dialirkan debitnya tidak maksimal.

Imbasnya untuk menampung air pada ember atau galon membutuhkan waktu lama. Masni berharap bantuan instalasi air bersih bisa lebih ditata di lokasi huntara untuk memudahkan distribusi air bersih.

Mempercepat kebutuhan air bersih Masni bahkan kerap menggunakan ember untuk mendapatkan air bersih.

Air bersih yang diangkut dari bak penampungan air komunal diambil berjarak ratusan meter. Air bersih tersebut berasal dari Gunung Rajabasa yang mengalir sepanjang waktu. Selain dipergunakan untuk kebutuhan mandi, mencuci sejumlah penyintas tsunami menggunakan air bersih untuk memasak dan minum.

Ia menyebut hingga kini penyintas tsunami tidak kesulitan air bersih hanya instalasi air bersih perlu dibenahi.

Ahmad, penyintas tsunami di blok bawah huntara Desa Kunjir menyebut air bersih cukup lancar di lokasi tersebut.

Meski demikian ia menyebut, lokasi kamar mandi komunal berjarak cukup jauh dari blok bawah. Total sebanyak 90 kepala keluarga berada di huntara dekat area SMAN 1 Rajabasa sementara sebanyak 40 kepala keluarga menempati huntara di dekat SMPN 1 Kunjir.

Ahmad bersama sejumlah penyintas tsunami lain mengaku memilih membuat kamar mandi dan toilet secara swadaya.

“Kalau mengandalkan bantuan pemerintah lokasinya jauh sementara jumlah pengguna kamar mandi dan air bersih cukup banyak,” cetus Ahmad.

Pada fasilitas kamar mandi darurat terbuat dari asbes dan kayu tersebut, ia menyediakan ember besar penampung air. Ember besar penampung air menampung air yang disalurkan mempergunakan selang dan pipa pvc bisa dipakai oleh puluhan penghuni blok.

Ia berharap ada fasilitas bak penampungan air di setiap blok agar memudahkan penyintas tsunami memenuhi kebutuhan air bersih.

Fasilitas huntara bagi penyintas tsunami meski terbatas cukup membantu bagi warga yang tidak memiliki tempat tinggal.

Rafiah, warga Dusun Merak yang sempat mengontrak mengaku ia harus mengeluarkan biaya ekstra untuk tempat tinggal.

Rafiah, salah satu penyintas tsunami yang baru pindah dari kontrakan di Desa Batu Balak, mulai pindah ke huntara Desa Kunjir, Kecamatan Rajabasa, Lampung Selatan – Foto: Henk Widi

Selama empat bulan tinggal di kontrakan membuat ia ingin menempati huntara yang disediakan pemerintah. Huntara yang ditempati tersebut sudah diberi nomor dan ia memperoleh huntara nomor 83 dari total sebanyak 90 huntara di lokasi tersebut.

Rafiah berharap tinggal di huntara bisa membuat ia lebih nyaman karena tetap bisa melakukan aktivitas seperti biasa. Kedua anaknya yang masih duduk di bangku SMP dan SMA bahkan mulai kembali bersekolah seperti kondisi sebelum tsunami.

Fasilitas huntara serta pasokan air bersih disebut Rafiah cukup memadai karena ia sudah mempersiapkan ember dan wadah-wadah penampungan air. Ia juga berharap segera mendapatkan hunian tetap (huntap) yang akan disediakan pemerintah.

Penyediaan huntap bagi penyintas tsunami akan segera direalisasikan sebelum akhir tahun 2019. Hal tersebut dibenarkan I Ketut Sukerta, Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Lamsel.

I Ketut Sukerta, Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Lampung Selatan – Foto: Henk Widi

Ia menyebut sesuai data penyintas tsunami yang menetap di huntara saat ini berjumlah sebanyak 440 keluarga. Jumlah tersebut diakuinya tersebar di huntara Desa Banding, Rajabasa, Way Muli Induk, Way Muli Timur, Sukaraja, Kunjir dan Hotel 56 Kalianda.

“Pemerintah sudah menentukan titik koordinat untuk penentuan lokasi huntap termasuk mekanisme pembelian lahan,” terang I Ketut Sukerta.

Total sesuai data ada sebanyak 532 kepala keluarga yang akan dibuatkan huntap. Pembuatan huntap diakuinya memperhitungkan aspek sosial sekaligus mata pencaharian sebagai nelayan. Sebab zona merah rawan bencana diakuinya sudah tidak boleh dijadikan lokasi bangunan tempat tinggal.

Meski saat ini sebagian menempati huntara ia menyebut, penyintas tsunami akan diverifikasi ulang. Sebab sebagian warga yang tidak memiliki tempat tinggal masih menumpang di rumah kerabat dan tetap akan mendapatkan huntap.

Terkait ketersediaan air bersih, I Ketut Sukerta menyebut telah berkoordinasi dengan Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) dan Dinas Perumahan dan Permukiman (Disperkim).

Pada lokasi huntara ia menyebut, kebutuhan air bersih sangat penting. Sebab selain digunakan untuk MCK air bersih juga berkaitan dengan sanitasi lingkungan.

Imbauan untuk merasa memiliki lingkungan huntara dilakukan BPBD Lamsel dengan membersihkan area huntara agar semakin nyaman ditinggali.

Lihat juga...