Petani Kakao di Sikka Masih Dipusingkan Penyakit Busuk

Editor: Koko Triarko

MAUMERE – Penyakit busuk yang diakibatkan oleh infeksi cendawan Phytoptora palmivora, telah sejak belasan tahun menyerang tanaman kakao di kabupaten Sikka, dan hingga kini belum mendapat penanganan menyeluruh.

“Awalnya, serangan hama menyerupai bercak coklat pada bagian luar buah di ujung atau pangkal buah yang lembab dan basah. Bercak pun kian membesar, hingga menutupi semua bagian kulit buah,” kata Carolus Winfridus Keupung, Senin (15/4/2019).

Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Sikka, Hengky Sali. -Foto: Ebed de Rosary

Ketika cuaca lembab, sambungnya, maka bercak tersebut terus membesar hingga buah pun dipenuhi jamur dan berwarna putih. Buah pun mengeras dan lama-lama berwarna kehitaman. Penyakit ini menyebar ke buah lainnya dengan cepat melalui bantuan angin.

“Penyebarannya pun bisa melalui hewan lainnya, seperti semut yang sering hidup di sekitar batang dan dahan kakao. Bisa juga karena buahnya bersentuhan dengan buah kakao lainnya yang sehat,” terangnya.

Menurut Wim, cara yang paling ampuh untuk menekan penyebaran penyakit ini dengan melakukan pemangkasan secara rutin. Batang induk ditebang dan bisa dilakukan penyambungan samping atau sambung pucuk, dengan mengambil dari pohon kakao bibit unggul dan tahan hama.

“Penanaman kakao dengan jarak yang terlalu dekat, termasuk dengan pohon pelindungnya, membuat pohon kakao tidak terkena sinar matahari. Tanah di bagian bawah pohon kakao harus dibersihkan dari dedauanan yang bisa membuat tanah lembab, dan menjadi sarang kuman penyakit,” terangnya.

Petani juga harus menanam bibit kakao yang tahan hama. Buah kakao yang terserang hama, saran Wim, dikumpulkan dan dikubur agar hama tidak menyebar. Selain itu lakukan penyemprotan pestisida.

“Tapi cara yang paling efeketif dengan melakukan perawatan secara teratur, dengan melakukan pemangkasan secara rutin. Cara ini yang tidak dilakukan petani di Flores. Bahkan, kebun kakao pun tidak pernah dibersihkan dari dedaunan kering,” tuturnya.

Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Sikka, Hengky Sali, mengatakan, petani di kabupaten Sikka banyak yang masih menggunakan pola tradisional. Kebun kakao pun tidak pernah dilakukan perawatan dan dijaga kebersihannya.

“Petani kita harus memiliki pola pikir bisnis, sehingga rutin melakukan perawatan kebun kakao. Petani jangan hanya memetik hasilnya saja, tapi mulai melakukan perawatan dan menanam bibit kakao unggul,” sarannya.

Banyak kakao di Sikka umurnya sudah di atas 30 tahun, sehingga harus dilakukan peremajaan. Tetapi, kata Hengky, sulit sekali dilakukan karena rata-rata petani sayang untuk menebang pohon kakao yang berumur tua.

“Petani harus lakukan peremajaan, menanam tanaman kakao baru. Memang penebangan bisa juga dilakukan tidak serentak, tapi bertahap. Dengan begitu, petani masih bisa memanen dari pohon yang lama, sambil menunggu pohon yang baru berbuah,” sebutnya.

Peremajaan pun, kata Hengky, harus dilakukan secara serentak untuk kebun di dalam satu wilayah. Dengan langkah ini, lambat laun peyakit busuk buah pun akan hilang. Tapi, memang masih sulit dilakukan karena petani tidak mau pohon kakao yang lama ditebang selama masih bisa berbuah.

Lihat juga...