Petani Kopi di Bali Diminta Hasilkan Kopi Berkualitas

Editor: Satmoko Budi Santoso

182

TABANAN – Komoditas Kopi Bali kini telah menjadi salah satu komoditas primadona di dunia internasional. Perlu upaya lebih signifikan untuk meningkatkan produksi sekaligus meningkatkan kualitas dari komoditas yang banyak diusahakan perkebunan rakyat ini.

“Untuk itu para petani kopi Bali dituntut untuk menghasilkan produk yang selain bermutu tinggi, juga ramah lingkungan serta organik. Di tengah persaingan global di bidang hasil produksi pertanian,” ucap Kepala Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura (TPH) dan Perkebunan Provinsi Bali, Ida Bagus Wisnuardhana, di acara Aksi Gerakan Pengendalian OPT Tanaman Kopi (Hama PBKo) yang bertempat di Desa Kebon Padangan, Banjar Galiukir, Pupuan, Kabupaten Tabanan, Senin (15/4/2019).

Wisnuardhana dalam kesempatan tersebut menjelaskan, beberapa kendala yang bisa menghambat peningkatan kualitas dan kuantitas produksi kopi khususnya di Bali adalah serangan hama penggerek buah kopi (PBKo). Dia menyebut, hampir 5 % jumlah kehilangan dari total hasil panen biji kopi.

“Hama ini punya pengaruh langsung dan nyata terhadap penurunan produksi dan kualitas hasil biji kopi kita di pasaran, sehingga kerugiannya cukup besar. Belum lagi kerugian akibat penurunan mutu yakni biji kopi yang berlubang, tentu menurunkan nilai jual,” tambahnya.

Di sisi lain, Wisnuardhana menyebut, selama bertahun-tahun para petani masih mengandalkan insektisida sintetik atau kimia yang ternyata setelah dipergunakan terus menerus memiliki efek negatif pada lingkungan sekitar.

“Insektisida sintetik atau kimia berdampak pada pencemaran lingkungan, kontaminasi pada buah hingga menimbulkan resistensi pada beberapa jenis serangga. Selain itu, karena PBKo perkembangannya berada dalam buah kopi, penggunaan insektisida bisa dikatakan tidak efektif,” katanya.

Untuk itu, Dinas TPH BUN Bali bersama Kementerian Pertanian memperkenalkan perangkap feromon/atraktan yang lebih ramah lingkungan serta mudah dalam pengaplikasian.

Gerakan dan sosialisasi ini sebagai awal dari aksi pengendalian hama PBKo dengan menyasar 100 ha lahan di Kabupaten Tabanan sehingga diharapkan mampu menekan hama sampai batas ambang nilai ekonomi.

“Namun kita harus bekerja bersama karena jika sendiri-sendiri hasilnya tidak akan maksimal, lakukan bersama-sama agar berdampak pada hamparan luar,” pintanya.

Para petani kopi di Bali – Foto: Sultan Anshori

Di lain pihak, salah seorang petani setempat, I Gusti Ngurah Made Karta, mengapresiasi gerakan pengendalian hama PBKo yang digelar Dinas TPH BUN dan Kementan. Menurutnya, selama ini memang penggunaan pestisida kimia terbukti menurunkan kesuburan tanah.

Hewan-hewan menguntungkan seperti cacing misalnya sudah nyaris tidak tampak sehingga mengurangi kandungan humus. Selain itu, peremajaan tanaman kopi juga menurutnya sangat penting dilakukan mengingat tanaman yang ada sekarang sebagian besar sudah berumur lebih dari 40 tahun.

“Tentu pengendalian hama yang lebih ramah lingkungan juga bisa berguna untuk mengembalikan kondisi tanah. Jadi otomatis tingkat produksinya tidak setinggi dahulu,” pungkas Ngurah Made Karta.

Lihat juga...