Pleno di PPK Alok Berjalan Alot

Editor: Koko Triarko

MAUMERE – Rapat pleno perhitungan dan rekapitulasi suara tingkat kecamatan Alok, kabupaten Sikka, berjalan alot, usai menghitung dan merekap suara perolehan calon presiden dan calon wakil presiden serta DPR RI di TPS 01 Desa Semparong, berjalan alot.

“Seharusnya, jumlah surat suara untuk presiden dan wakil presiden, DPR RI, DPD, DPRD provinsi NTT dan DPRD kabupaten Sikka daerah pemilihan Sikka 1 harus sama. Jumlahnya harus sama 216 lembar, tetapi jumlah surat suara DPD sebanyak 234 lembar,” sebut Yani Making, saksi partai Nasdem, Selasa (23/4/2019).

Ketua PPK Alok, kabupaten Sikka, Dominikus Deny Hendriques. -Foto: Ebed de Rosary

Dikatakan Yani, jumlah surat suara untuk calon presiden dan wakil presiden dan DPR, sama sebanyak 216, tetapi kenapa untuk DPD jumlahnya lebih 18 lembar? Ini yang menjadi pertanyaan dan protes para saksi yang hadir.

“Tadi diputuskan amplop surat suara DPD, baik yang terpakai, rusak dan tidak terpakai dibuka dan dihitung ulang. Setelah dihitung ulang, ternyata jumlah surat suara tetap sama 234 lembar,” ungkapnya.

Vicky da Gomez, saksi partai PKPI pun mempersoalkan hal ini. Menurutnya, seharusnya surat suara sama sebanyak 216 lembar, karena rumus bakunya jumlah DPT ditambah 2 persen. Kenapa surat suara lain jumlahnya sama, tapi DPD berbeda?

“Berita acara penerimaan surat suara juga tidak mencantumkan jumlah yang pasti. Dalam formulir C1, pun jumlah keseluruhan surat suaranya berbeda. Ini yang membuat bingung, sehingga diputuskan menghitung jumlah surat suara secara keseluruhan,” ujarnya.

Yohanes Y.Parera, saksi partai Golkar juga mempersoalkan kekeliruan ini. Menurutnya, seharusnya bila ditemukan jumlah surat suara yang kurang, harus dibuatkan berita acara dan dikembalikan. Kelebihan surat suara saja dibakar di kantor KPU Sikka pada 16 April 2019, sehari sebelum pemungutan suara.

“Ini kekeliruan yang dilakukan petugas KPU, sehingga tidak heran di banyak TPS ada yang kekurangan surat suara, karena terjadi kelebihan di TPS lainnya. Petugas pengawas pemilu pun tidak jeli, sehingga ini bisa berpotensi dilaksanakan pemungutan suara ulang,” tegasnya.

Yohanes menyayangkan kejadian kelebihan surat suara ini, dan pihak Panwaslu pun tidak menyikapinya saat ditemukan adanya kelebihan. Ini sangat fatal, karena kelebihan satu surat suara saja dipertanyakan, ini malah kelebihan banyak sekali serta berbeda dengan surat suara DPR dan presiden.

Ketua PPK Alok, Dominikus Deny Hendriques, mengatakan, memang terjadi kekeliruan baik dalam penjumlahan angka maupun adanya kelebihan surat suara DPD di TPS 01 Desa Semparong.

“Seharusnya, hal ini bisa diselesaikan di tingkat KPPS maupun PPS sehingga tidak berlanjut saat terjadinya pleno perhitungan suara. Saat ditemukan adanya kelebihan surat suara, harusnya KPPS segera koordinasi dengan PPS, agar bisa dicarikan jalan keluarnya,” ungkapnya.

Untuk itu, kata Deny, pihaknya hanya memberikan catatan saat pelaksaan rapat pleno perhitungan dan rekapitulasi suara. PPK tidak diberi kewenangan untuk memutuskan dilaksanakannya pemungutan suara ulang.

“Untuk mengecek kebenaran, maka diputuskan untuk membuka amplop surat suara, sehingga dihitung ulang. Surat suara sah sebanyak 172, tidak terpakai 57 lembar, rusak 1 serta tidak sah sebanyak 4 lembar,” paparnya.

Perhitungan dan rekapitulasi suara di PPK Alok berlangsung mulai Selasa (23/4) sejak pukul 10.00 WITA. Hingga siang, proses perhitungan masih berlangsung untuk satu TPS dari 3 TPS di desa Semparong.

Lihat juga...