Politik Uang Ciderai Demokrasi

Ilustrasi -Dok: CDN

MAKASSAR – Pengamat Politik dari Universitas Bosowa Makassar, Arief Wicaksono, menyatakan patut diwaspadai politik uang masih akan bergentayangan di saat minggu tenang pada Pemilu serentak Rabu, 17 April 2019.

“Biasanya minggu tenang itu ada yang tidak tenang. Munculnya fenomena money politic atau politik uang yang diwariskan elit politik terdahulu menjadi momok sampai saat ini,” katanya, di sela diskusi politik di Warkop Dottoro, Makassar, Sulawesi Selatan, Minggu (7/4/2019).

Menurut dia, selama dua pekan masa kampanye ini, para peserta Pemilu gencar melakukan sosialisasi, bahkan ada yang mencoba mempengaruhi pemilih dengan politik uang.

Meski demikian, dirinya mendorong penyelenggara dan masyarakat untuk tidak menutup mata, membiarkan hal itu terjadi, tetapi dengan memberikan pembelajaran politik yang baik untuk pelaksanaan proses demokrasi sesungguhnya.

Selain itu, fenomena politik uang dan serangan fajar di masa tenang tidak akan memberikan pendidikan politik yang baik bagi pemilih. Bahkan di masa tenang, peserta pemilu (Calon Legislator, Calon anggota DPD dan tim sukses Capres) malah gencar turun.

Tentu perilaku seperti ini, kata dia, mengajarkan masyarakat menilai suaranya dengan uang, bukan dengan hati nurani atas pilihannya sendiri memilih yang pantas untuk dipilih.

Kendati membawa pesan pendidikan politik bagi masyarakat, tapi hanya berlaku di musim politik, termasuk muncul fenomenal politik uang. Seharusnya, sejak awal masyarakat diberikan pendidikan politik bukan hanya penyelenggara pemilu, tapi juga Parpol.

Bila hal ini terus bergulir dalam pesta demokrasi, bukan hanya Pemilu serentak, tapi pada Pilkada di tahun depan, maka masyarakat akan jenuh sehingga muncul fenomena Golongan Putih (Golput).

Lihat juga...