hut

Produsen Oleh-oleh Khas Yogya Butuh Pelatihan Pemasaran Online

Editor: Satmoko Budi Santoso

YOGYAKARTA – Sejumlah produsen Yangko asal Yogyakarta masih kesulitan memanfaatkan teknologi digital dalam memasarkan produk mereka.

Selama ini mereka diketahui masih mengandalkan cara manual untuk menjual produk makanan oleh-oleh khas kota Yogyakarta itu.

Program Go Online yang digadang-gadang pemerintah provinsi DIY untuk mendorong seluruh pelaku UKM memasarkan produk secara online, juga diketahui belum menyentuh mereka. Hingga saat ini, mereka bahkan mengaku belum mendengar dan mengetahui adanya program tersebut.

“Kita masih menjual produk dengan cara menitip-nitipkan ke sejumlah toko oleh-oleh. Secara online belum. Terus terang kita belum mampu. Dari pemerintah juga belum ada sosialisasi sama sekali. Karena selama ini sosialisasi lebih pada upaya meningkatkan kualitas produk,” ujar salah seorang pelaku UKM pembuat Yangko, Eko Prasetyo, asal Sorosutan Umbulharjo Yogyakarta, Selasa (16/4/2019).

Padahal menurut Eko, salah satu kendala utama yang dihadapi para produsen Yangko di Yogyakarta saat ini adalah soal pemasaran. Banyaknya produsen Yangko yang bermunculan membuat persaingan antartiap pelaku UKM semakin ketat. Sehingga jika tak mampu bersaing, usaha mereka akan sulit berkembang.

“Kalau dari sisi kualitas produk kita berani bersaing. Karena kami sudah mulai memproduksi Yangko sejak 30 tahun lalu. Hanya saja memang dari sisi pemasaran kita kurang,” ujar Eko yang mengaku meneruskan usaha pembuatan Yangko milik orang tuanya itu.

Eko sendiri saat ini mengaku, tak memproduksi Yangko setiap hari. Hal itu dikarenakan menurunnya omzet penjualan Yangko miliknya. Biasanya ia hanya membuat Yangko setiap dua hari sekali. Dalam sekali produksi ia mengaku, hanya biasa menghasilkan sekitar 200 kotak Yangko.

“Ya karena sekarang sudah banyak yang bikin. Di Sorosutan ini saja ada lebih dari 5 tempat produksi. Kalau dulu, saya tiap hari selalu produksi, sekali produksi bahkan bisa sampai 1000 kotak lebih,” katanya.

Menjual Yangko mulai dari harga Rp12-14 ribu per kotak, Eko biasa memasarkan produk ke luar Yogya. Hal itu dilakukan untuk meminimalisir persaingan dengan produsen Yangko lainnya. Seperti pelaku UKM lainnya, Eko memproduksi dua macam Yangko yakni Yangko rasa original dengan kacang dan Yangko aneka rasa seperti durian, pandan, stroberi dan coklat.

“Sebenarnya pemerintah sudah mendorong UKM produsen Yangko di sini. Saya juga pernah ikut sejumlah pelatihan yang diselenggarakan pemerintah. Namun memang untuk soal pemasaran belum ada. Apalagi pemasaran secara online. Tentu kita berharap ada pelatihan semacam itu. Karena sangat penting,” katanya.

Sebagai kota tujuan wisata, potensi usaha pembuatan oleh-oleh khas Yogyakarta seperti Yangko memang cukup besar.

Pada momen tertentu seperti libur panjang, omzet pelaku UKM pembuatan Yangko bahkan selalu meningkat hingga 2-3 kali lipat dari biasanya. Karena itu dukungan dari pemerintah sangat penting untuk memajukan usaha mereka.

Lihat juga...