hut

Rakerkesda Provinsi Sumbar Angkat Lima Isu Strategis

Editor: Koko Triarko

PADANG – Rapat kerja kesehatan daerah (Rakerkesda) Provinsi Sumatra Barat, mengangkat lima isu strategis, yakni percepatan penurunan angka kematian ibu (AKI) dan angka kematian neonatal (AKN), percepatan penurunan stunting, percepatan eliminasi TBC, peningkatan cakupan mutu imunisasi serta peningkatan pencegahan pengendalian penyakit tidak menular.

“Ada lima isu yang kita paparkan di hadapan Menteri Kesehatan dalam Rakerkesda ini. Dari lima isu ini, yakni penurunan angka kematian AKI dan AKN, dari kunjungan ke kabupaten dan kota perlu ada pendekatan sentuhan sosial melalui program yang kita miliki,” ujar Kepala Dinas Kesehatan Sumatra Barat, Merry Yuliesday, dalam Rakerkesda di Padang, Senin (15/4/2019).

Kemudian, kata Merry, untuk percepatan penurunan angka stunting, selama ini di Sumatra Barat, dari data riskesdas, angka stunting sudah menurun, itu dilihat dari tahun 2013 yang berada pada angka 39,2 menurun pada 2018 di angka 30.

Sedangkan, analisis situasi tuberkolosis di Sumbar dari target 70 persen pada 2018, baru mencapai 46 persen. “Untuk itu, peranan semua pihak untuk meningkatkan angka capaian ini, baik provinsi, kabupaten dan kota serta stakeholders terkait,” katanya.

Lalu, untuk peningkatan cakupan imunisasi di Sumatra Barat yang terealisasi baru pada angka 74,2 persen pada 2018, masih kurang dari capaian target yang diminta, yakni 80 persen. Belum mencapai targetnya capaian imunisasi ini kemungkinan dipengaruhi dari imunisasi realisasi rubella.

“Untuk penyakit tidak menular di Sumatra Barat, usia di atas 15 tahun pada 2018, yakni hipertensi berada di angka 25,1 persen dan diabetes di angka 1,3 persen,” ungkapnya.

Dari data lima isu yang dipaparkan itu, tutur Merry, masih ada berapa pencapaian yang belum sesuai target, maka pihaknya akan melakukan aksi bersama dengan kabupaten dan kota untuk mencapai target dari lima isu yang dipaparkan ini.

“Kita akan membentuk tim percepatan ini, melakukan upaya aktif dan edukasi, penguatan sarana dan prasarana serta melaksanakan gerakan masyarakat, seperti yang telah dilakukan tiga bulan berjalan di kegiatan car free day (CFD),” ulasnya.

Menanggapi hal itu, Menteri Kesehatan Republik Indonesia, Nila Djuwita F. Moeloek, mengungkapkan lima isu yang dipaparkan itu merupakan hal yang sangat strategis, apalagi terkait dengan pelayanan kesehatan kepada masyarakat.

Masyarakat mesti mendapatkan pelayanan yang optimal. Maka untuk itu, kolaborasi pusat dan daerah harus terkelola.

“Terkelolanya antara pusat dan daerah itu, terkait dengan alat kesehatan, obat-obatan hingga sumberdaya manusia. Sehingga, semua memenuhi pelayanan kesehatan dan cakupan layanan akan lebih efektif, sehingga target untuk peningkatan kesehatan masyarakat akan tercapai,” tuturnya.

Selain itu, kata Nila, kegiatan promotif dan preventif yang merupakan implementasi program gerakan masyarakat hidup sehat (Germas) harus selalu digalakkan dan digaungkan.

“Adanya germas, seperti olah raga, makan yang bergizi, cek kesehatan berkala dan lainnya ini, dapat meningkatkan kesehatan masyarakat, karena merupakan salah satu cara hidup sehat. Jika sehat, maka hidup ini akan lebih produktif. Angka harapan hidup juga akan meningkat,” tukasnya.

Sementara itu, Gubernur Sumatra Barat, Irwan Prayitno, berharap dengan adanya rakerkesda ini dapat mencari solusi dalam menyusun rencana aksi di daerah terkait kesehatan. Apalagi, rencana aksi itu mengkompakkan antara pusat provinsi, kabupaten dan kota.

“Adanya kekompakan antara pusat dan daerah ini, maka secara umum akan berhasil untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat, kemudian pelayanan kesehatan, sehingga tingkat harapan hidup juga turut meningkat,” tukasnya.

Dalam kesempatan itu, Menteri Kesehatan menyerahkan sertifikat akreditasi rumahsakit standar internasional kepada RSUP M Djamil Padang.

“Capaian akreditas mulai dari tingkat dasar, madya dan paripurna, itu tingkat nasional, dan RSUP M Djamil ini sudah tingkat internasional. Baru ada tiga yang berstandar internasional di Indonesia, termasuk RSUP M Djamil, yakni RSUD Dr. Syaiful Anwar, Malang, dan Pusat Jantung Nasional Harapan Kita, Jakarta. Kita harapkan dengan pencapaian ini, akan lebih meningkatkan manajemen dan pelayanan rumah sakit, sehingga diakui masyarakat sesuai dengan predikat akreditasi yang telah dimilikinya,” pungkas Sekretaris Eksekutif Komite Akreditasi Rumah Sakit (KARS), dr. Djoti Atmodjo.

Lihat juga...
error: Terimakasih Sudah Berkunjung !!