Ratusan Ribu Orang Kembali Turun ke Jalanan di Aljazair

Ratusan ribu demonstran kembali turun ke jalan di Aljazair pada Jumat (194) untuk mengajukan desakan bagi perubahan besar demokratis setelah pengunduran diri presiden Abdelaziz Bouteflika ( Foto Ant)

ALJIER – Ratusan ribu demonstran kembali turun ke jalanan di Aljazair pada Jumat (19/4/2019) waktu setempat. Demonstran mengajukan desakan berupa perubahan besar demokratis, setelah pengunduran diri presiden Abdelaziz Bouteflika. Mereka meneriakkan, kami melakukan apa yang kami mau, dalam aksinya.

Pawai tersebut berjalan damai, seperti kebanyakan demonstrasi di negeri itu selama dua bulan belakangan. Tapi seorang remaja berusia 18 tahun, diketahui mengalami cedera selama protes telah berjalan sejak pekan lalu di Ibu Kota Aljazair, Aljier. “Remaja tersebut terluka, ketika bentrokan terjadi,  dan akhirnya meninggal pada Jumat akibat luka-luka di kepalanya. Dan polisi sedang menyelidiki kasus tersebut,” ungkap media setempat.

Dari identifikasi yang dilakukan, dimungkinkan korban telah dipukuli atau jatuh dari truk. Parlemen mengangkat seorang presiden sementara, dan menetapkan pemilihan umum pada 4 Juli. Saat ini pemerintahan dalam proses peralihan yang disahkan oleh militer Aljazair, yang tangguh.

Mundurnya Bouteflika, pada 2 April, gagal memuaskan banyak warga Aljazair. Warga ingin menggulingkan seluruh elit yang telah mendominasi negeri tersebut, sejak kemerdekaan dari Prancis pada 1962. Pemrotes berkumpul di pusat kota di seluruh Aljazair, untuk menuntut pembaruan sampai ke akar-akarnya. Termasuk pluralisme politik dan penindasan atas koruptor serta perkoncoan. Jumlah pemrotes belakangan bertambah banyak setelah Shalat Jumat.

Tak ada keterangan resmi, tetapi media setempat menyebut, jumlah demonstran mencapai ratusan ribu orang. “Kami takkan menghentikan tuntutan kami,” kata Mourad Hamini, yang berdiri di luar kedai kopinya, tempat ribuan pemrotes mengibarkan bendera Aljazair.

Massa yang berkerumun belakangan berteriak, Ini negara kami dan kami melakukan apa yang kami mau!” Pemrotes juga menyeru Abdelkader Bensalah, Kepala Majelis Tinggi Parlemen, agar mundur sebagai presiden sementara, dan Nouraddine Bedoui agar mundur dari jabatan perdana menteri. “Mereka harus pergi. Semua B harus pergi,” demikian tulisan di satu spanduk, yang merujuk kepada Bensalah, Bedoui dan Mouad Bouchareb, Ketua Partai Front Pembebasan Nasional (FLN).

Tayib Belaiz, Ketua Dewan Konstitusi Aljazair dan pejabat “B” senior keempat, mundur pada awal pekan ini. Pada Selasa (16/4/2019), Kepala Angkatan Bersenjata, Letnan Jenderal Ahmed Daed Salah, mengatakan militer sedang mempertimbangkan semua pilihan untuk menyelesaikan krisis politik nasional dan memperingatkan, waktu hampir habis.

Itu adalah isyarat bahwa militer mulai kehabisan kesabaran dengan aksi rakyat yang mengguncang Aljazair, negara pengekspor utama minyak dan gas alam. Serta mitra keamanan penting buat Barat dalam memerangi gerilyawan fanatik di Afrika Barat dan Utara. (Ant)

Lihat juga...