Relokasi Belum Pasti, Warga Terdampak Waduk Napun Gete Resah

211

MAUMERE – Puluhan warga yang rumahnya terdampak pembangunan Waduk Napun Tete resah. Warga bingung, karena sampai saat ini informasi kejelasan lokasi relokasi belum disampaikan.

“Warga kampung Enakter Desa Ilinmedo resah, sampai saat ini belum ada titik terang, mengenai rencana relokasi perumahan mereka, “ sebut Simon Lewar, salah seorang pemilik lahan lokasi pembangunan Waduk Napun Gete, Sabtu (13/4/2019).

Lahan relokasi tidak diketahui dimana keberadaannya. Hal tersebut berimbas pada persoalan sosial, seperti warga yang meninggal dunia sementara dimakamkan di areal hutan di atas perbukitan. “Selain itu bagaimana mengenai nasib Posyandu, sekolah dasar dan juga kapela. Sampai sekarang belum ada penyampaian mengenai bangunan tersebut apakah akan diratakan mengingat kampung ini masuk di dalam areal genangan,” tuturnya.

Warga tandas Simon, berharap agar relokasi segera dilakukan, supaya warga mendapat kepastian dan titik terang. “Kalau sudah ada penyampian mengenai kepastian lokasi relokasi warga akan tenang. Dengan begitu, warga yang meninggal-pun, dimakamkan di areal yang ditentukan setelah berkordinasi dengan Balai Wilayah Sungai,” tuturnya.

Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kabupaten Sikka, Tommy Lameng, menyebut, dana ganti rugi lahan Waduk Napun Gete yang belum dibayar sebesar Rp41 miliar. Dana termasuk untuk bayar tanah lokasi relokasi yang nilainya sebesar Rp5 miliar.

Simon Lewar (kanan) bersama Eliseus Dalo, warga pemilik lahan waduk Napun Gete yang belum mendapatkan uang ganti rugi. Foto : Ebed de Rosary

“Yang dicairkan dananya sebesar Rp271 miliar, dan sudah tersedia di Lembaga Manajemen Aset Negara (LMAN). Sisa dana pembayaran ganti rugi lahan akan dipergunakan untuk membangun rumah di lokasi relokasi dan jalan aspal dari Patiahu menuju Pruda,” terangnya.

Tommy menyebut, Dinas PUPR Sikka tidak berwenang untuk mencairkan. Hal itu menjadi kewenangan Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Tanah, di Balai Wilayah Sungai (BWS) Nusa Tenggara. “Saya mengecek ke pemerintah pusat karena saya takut dananya tidak ada. Ternyata dananya ada sehingga kami juga sudah mengajukan proposal untuk pembangunan rumah dan fasilitas umum lainnya di lokasi relokasi,” jelasnya.

Sebelumnya, masyarakat pemilik lahan pembangunan Waduk Napun Gete,  membangun tenda melintang untuk menutup akses masuk ke waduk. Warga tampak tidur-tiduran, dan bercengkerama satu sama lain di lokasi tersebut. Selain laki-laki dewasa, ibu-ibu terlihat berbaur di dalam tenda. Tampak beberapa perempuan sedang memasak nasi dan menggoreng ikan. Setelah makanan matang, warga-pun bersantap bersama di tenda dengan ala kadarnya.

Tenda berbentuk kerucut dibuat, menggunakan terpal dengan bahan bambu. Bagian lantainya dibuat sedikit lebih tinggi, agar tidak terkena air saat hujan. Warga mengaku setiap malam tidur di tenda tersebut dan akan terus bertahan hingga dana ganti rugi dicairkan.

Lihat juga...